Bab II
Kebenaran, Tradisi Pembunuhan Nabi, dan Keagungan Kerasulan
Untuk memahami lebih jauh kedalaman mazlumiyah Rasulullah SAW, kita perlu melihat bahwa penderitaan para nabi bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri.
Ia merupakan bagian dari pola panjang sejarah manusia: kebenaran datang membawa hujjah, tetapi kepentingan manusia tidak selalu bersedia tunduk kepadanya.
Al-Qur’an merekam pola itu dengan sangat jelas.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 144:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
Wa mā Muḥammadun illā rasūlun qad khalat min qablihir-rusul. Afa-in māta aw qutila inqalabtum ‘alā a‘qābikum…
“Muhammad tidak lain adalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika ia wafat atau terbunuh, kalian akan berbalik ke belakang? Barang siapa berbalik ke belakang, ia sedikit pun tidak akan merugikan Allah. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
Ayat ini luar biasa.
Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang kemungkinan wafat Rasulullah. Ia menempatkan dua kata secara berdampingan:
māta aw qutila — wafat atau terbunuh.
Secara bahasa, aw pada asalnya memang menunjukkan alternatif, tetapi dalam khazanah balaghah Arab, penggunaannya dapat memiliki nuansa yang lebih luas sesuai konteks. Karena itu, sebagian pembacaan menaruh perhatian khusus pada penyebutan qutila—“dibunuh”—sebagai sesuatu yang tidak boleh begitu saja dilewati.
Sekurang-kurangnya, ayat ini menunjukkan bahwa kemungkinan seorang nabi dibunuh bukan sesuatu yang asing dalam logika Al-Qur’an.
Justru sebaliknya.
Al-Qur’an berkali-kali memperlihatkan bahwa sejarah kenabian juga merupakan sejarah perlawanan terhadap para nabi.
Mengapa?
Karena kebenaran tidak selalu ditolak karena tidak jelas.
Kadang-kadang kebenaran justru ditolak karena terlalu jelas.
Manusia dapat melihat sebuah kebenaran, memahami argumentasinya, bahkan tidak mampu membantahnya, tetapi tetap menolaknya karena kebenaran itu mengancam kepentingan, kekuasaan, status sosial, atau ego yang telah dibangun bertahun-tahun.
Di situlah persoalannya.
Ketika seseorang tidak mampu mengalahkan hujjah, ia dapat tergoda untuk menghilangkan pemilik hujjah.
Ketika argumentasi tidak dapat dibungkam, pembawa argumentasilah yang hendak dibungkam.
Dan Al-Qur’an mengabadikan pola mengerikan tersebut.
Dalam Surah Ali ‘Imran ayat 183, Allah mengisahkan mereka yang berkata bahwa Allah telah memerintahkan agar mereka tidak beriman kepada seorang rasul hingga rasul itu mendatangkan suatu kurban yang dimakan api.
Allah kemudian memerintahkan Nabi Muhammad SAW menjawab mereka:
قُلْ قَدْ جَاءَكُمْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِي بِالْبَيِّنَاتِ وَبِالَّذِي قُلْتُمْ فَلِمَ قَتَلْتُمُوهُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Katakanlah: sungguh telah datang kepada kalian rasul-rasul sebelumku dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan dengan apa yang kalian katakan; lalu mengapa kalian membunuh mereka jika kalian memang orang-orang yang benar?”
Perhatikan kata:
al-bayyināt.
Ia bukan sekadar “bukti”.
Bayyinah adalah sesuatu yang membuat perkara menjadi terang. Ia adalah penjelasan yang memisahkan terang dari gelap, kebenaran dari kebatilan. Argumentasinya begitu jelas sehingga orang yang jujur kepada dirinya sendiri semestinya tidak lagi memiliki ruang untuk menyangkal.
Tetapi sejarah menunjukkan satu kenyataan yang pahit:
tidak semua orang kalah oleh argumentasi kemudian bersedia menerima kebenaran.
Ada orang yang ketika kehilangan argumentasi, justru mengambil pedang.
Maka terjadilah pergeseran besar:
dari kekuatan logika menuju logika kekuatan.
Dari hujjah menuju kekerasan.
Dari dialog menuju pembunuhan.
Dari cahaya akal menuju tirani.
Kisah Nabi Ibrahim AS berhadapan dengan penguasa zalim yang dalam tradisi dikenal sebagai Namrud merupakan gambaran yang sangat kuat tentang pola ini.
Ketika Ibrahim mengemukakan hujjah tentang Tuhannya, penguasa itu mencoba membangun tandingan argumentasi.
Ibrahim berkata bahwa Tuhannya adalah Dia yang menghidupkan dan mematikan.
Penguasa itu menjawab:
“Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan.”
Ia merasa telah memenangkan percakapan.
Lalu Ibrahim memindahkan argumentasi ke wilayah yang sama sekali tidak dapat dimanipulasi oleh permainan bahasa kekuasaan:
“Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur. Maka terbitkanlah ia dari barat.”
Al-Qur’an kemudian mengatakan:
فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ
“Maka terdiamlah orang kafir itu.”
Bukan karena ia belum mendengar argumentasi.
Ia terdiam justru karena argumentasinya runtuh.
Dan sejarah para tiran hampir selalu memperlihatkan pola yang sama: ketika mulut tidak lagi mampu menjawab, tangan mulai mencari senjata.
Maka Ibrahim hendak dibakar.
Di situlah kita menemukan salah satu rumus kekuasaan zalim sepanjang sejarah:
ketika mereka tidak mampu membunuh kebenaran, mereka mencoba membunuh manusia yang membawanya.
Tetapi para nabi bukan manusia biasa.
Dan di antara para nabi sendiri terdapat tingkatan-tingkatan keutamaan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 253:
تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ
Tilkar-rusulu faḍḍalnā ba‘ḍahum ‘alā ba‘ḍ. Minhum man kallamallāhu wa rafa‘a ba‘ḍahum darajāt…
“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berbicara kepadanya dan sebagian mereka Dia tinggikan beberapa derajat…”
Ayat ini mengajarkan sesuatu yang sangat penting.
Semua nabi mulia.
Semua rasul adalah pilihan Allah.
Tetapi kemuliaan mereka tidak berada pada satu derajat yang sama.
Ada tingkatan.
Ada maqam.
Ada keutamaan.
Ada kedekatan yang berbeda.
Dan ketika kita berbicara tentang Rasulullah Muhammad SAW, kita sedang berbicara tentang puncak dari seluruh perjalanan kenabian tersebut.
Karena itu, jangan pernah merasa bahwa kita sedang memuliakan Nabi hanya karena seseorang memasukkan beliau dalam daftar “tokoh paling berpengaruh di dunia”.
Buku Michael H. Hart, misalnya, menempatkan Nabi Muhammad SAW pada peringkat pertama dalam The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History.
Bagi sebagian Muslim, itu dianggap sangat membanggakan.
Tentu kita dapat menghargai pengakuan seorang penulis terhadap pengaruh sejarah Rasulullah.
Tetapi kita harus memahami bahwa maqam Nabi tidak ditentukan oleh ranking seorang penulis.
Rasulullah SAW tidak membutuhkan legitimasi dari daftar tokoh sejarah.
Dan secara kategoris, menempatkan Nabi sejajar dalam satu daftar dengan ilmuwan, politisi, jenderal, penemu, atau filosof sesungguhnya tidak cukup untuk menjelaskan siapa beliau.
Einstein adalah ilmuwan besar.
Newton adalah ilmuwan luar biasa.
Para filosof dan pemikir besar memberikan kontribusi besar terhadap peradaban.
Tetapi mereka bekerja dalam wilayah pengetahuan manusia.
Mereka mengajukan hipotesis.
Mereka membangun teori.
Teori mereka dapat diperbaiki.
Dapat direvisi.
Dapat dipatahkan.
Dapat dilampaui oleh ilmuwan setelahnya.
Itulah keindahan ilmu manusia.
Ia bertumbuh melalui koreksi.
Tetapi Nabi tidak berbicara atas dasar hipotesis manusia.
Beliau membawa wahyu.
Maka apabila kita ingin membicarakan maqam Muhammad SAW, jangan bandingkan beliau dengan Einstein.
Bandingkan beliau dalam keluarga besar kerasulan.
Bicarakan Muhammad bersama Ibrahim.
Bersama Musa.
Bersama Isa.
Bersama Nuh.
Bersama para ulul azmi.
Barulah kita sedang menggunakan kerangka perbandingan yang tepat.
Bahkan dalam ayat:
تِلْكَ الرُّسُلُ
“Rasul-rasul itu…”
digunakan kata tunjuk tilka, yang secara bahasa menunjuk sesuatu yang jauh. Dalam pembacaan balaghah, jarak dalam bahasa tidak selalu menunjuk jarak ruang. Ia dapat pula menghadirkan kesan ketinggian maqam—sesuatu yang berada jauh di atas jangkauan manusia biasa.
Seakan Al-Qur’an berkata:
Mereka itu adalah para rasul.
Lihatlah betapa tinggi kedudukan mereka.
Namun setelah menegaskan kemuliaan seluruh rasul, Allah mengatakan:
فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
“Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain.”
Di sinilah konsep faḍl menjadi penting.
Dalam bahasa Al-Qur’an, kemuliaan dapat digambarkan melalui beberapa istilah. Karam menunjuk kemuliaan dan kehormatan, sementara faḍl membawa makna kelebihan, keutamaan, dan anugerah yang mengangkat seseorang di atas yang lain.
Para nabi seluruhnya dipilih Allah, tetapi perjalanan ubudiyah mereka juga memperlihatkan maqam-maqam yang berbeda.
Di antara mereka ada yang mendapat kemuliaan berbicara dengan Allah.
Nabi Musa AS menjadi salah satu contoh paling agung.
Karena itulah beliau dikenal sebagai:
Kalīmullāh — orang yang diajak berbicara oleh Allah.
Ketika Musa tiba di lembah suci, Allah berfirman:
إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى
Innī anā rabbuka fakhla‘ na‘layka innaka bil-wādil-muqaddasi Ṭuwā.
“Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu. Maka lepaskanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Tuwa.”
Betapa agungnya Musa.
Seorang manusia dipanggil Allah.
Diajak berbicara.
Berdiri di lembah yang disucikan.
Namun perjalanan Rasulullah Muhammad SAW membawa kita kepada gambaran lain tentang kedekatan kepada Allah.
Jika Musa menerima panggilan di bumi, Muhammad SAW mengalami Mi‘raj.
Beliau diperjalankan.
Diangkat menembus langit.
Melampaui maqam-maqam yang tidak dicapai manusia biasa.
Sampai Al-Qur’an menggambarkan kedekatan itu:
فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ
“Sehingga jaraknya menjadi seukuran dua ujung busur atau lebih dekat lagi.”
Qāba qawsayni aw adnā.
Tentulah ayat itu tidak boleh dipahami secara jasmani, seolah-olah Allah memiliki tempat dan Nabi mendekati-Nya dalam ukuran ruang.
Ia adalah bahasa kedekatan maqam.
Kedekatan spiritual.
Kedekatan yang melampaui apa yang dapat digambarkan bahasa manusia.
Dalam kisah Musa terdapat perintah melepaskan alas kaki ketika memasuki lembah suci.
Sedangkan dalam Mi‘raj, narasi Al-Qur’an tidak menghadirkan perintah serupa kepada Rasulullah.
Dalam pembacaan spiritual, perbedaan ini menghadirkan renungan yang indah: bukan karena kita hendak merendahkan Musa—na‘ūdzu billāh—melainkan karena perjalanan Muhammad SAW memperlihatkan sebuah bentuk kedekatan dan penyucian yang sangat tinggi.
Ia datang kepada Allah membawa seluruh kemanusiaannya yang telah disucikan oleh-Nya.
Begitu pula ketika berbicara tentang Nabi Isa AS.
Allah mengatakan bahwa Isa dikuatkan dengan:
رُوحِ الْقُدُسِ
Rūḥul Qudus.
Para nabi memiliki limpahan ruhani dan pertolongan Ilahi sesuai maqam mereka.
Dan semua uraian tentang Musa, Isa, Ibrahim, dan para nabi lain sesungguhnya mengajari kita satu hal:
kenabian bukan jabatan biasa.
Karena itu kita perlu berhati-hati ketika menerjemahkan Surah Ali ‘Imran ayat 144:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ
Sering diterjemahkan:
“Muhammad itu hanyalah seorang rasul.”
Kata “hanyalah” dapat menimbulkan kesan yang keliru apabila dibaca tanpa memahami struktur bahasa dan konteksnya.
Seolah-olah ayat sedang mengecilkan maqam Rasulullah:
“Dia cuma rasul.”
Padahal bukan itu maksudnya.
Struktur mā… illā dalam bahasa Arab berfungsi sebagai pembatasan atau penegasan: Muhammad adalah seorang rasul Allah. Karena itu keterikatan umat kepada beliau harus bertumpu pada risalah, bukan semata-mata kepada keberadaan fisik beliau.
Ayat itu bukan merendahkan kerasulan.
Sebaliknya, ayat itu mengarahkan umat kepada substansi hubungan mereka dengan Rasulullah.
Sebab rasul adalah maqam yang sangat tinggi.
Dalam struktur risalah, setidaknya terdapat tiga unsur:
Mursil — Yang Mengutus.
Mursal — yang diutus.
Risālah — pesan dan amanah yang dibawa.
Siapakah Mursil Rasulullah Muhammad SAW?
Allah.
Al-Khāliq.
Al-‘Aẓīm.
Al-Ḥakīm.
Al-Karīm.
Semakin agung Yang Mengutus, semakin agung pula misi pengutusan itu.
Dan siapakah yang diutus?
Muhammad bin Abdullah SAW.
Lalu apakah risalahnya?
Al-Qur’an.
Sebuah kitab yang sekaligus merupakan petunjuk, cahaya, furqan, rahmat, dan mukjizat yang terus berbicara sampai akhir zaman.
Nabi Musa memiliki tongkat yang membelah laut.
Itu mukjizat luar biasa.
Nabi Isa menyembuhkan penyakit dengan izin Allah.
Itu mukjizat luar biasa.
Tetapi mukjizat terbesar Muhammad SAW adalah kitab yang terus dapat diuji, dibaca, direnungkan, dan melahirkan pengetahuan berabad-abad setelah tubuh beliau meninggalkan dunia.
Al-Qur’an.
Mukjizat yang tidak berhenti ketika Nabi wafat.
Mukjizat yang tidak sekadar mempertontonkan kekuatan, tetapi menghidupkan akal dan hati.
Karena itu, ketika Allah hendak mengukuhkan kerasulan Muhammad SAW, Allah bersumpah dengan Al-Qur’an:
يس وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ
Yā Sīn. Wal-Qur’ānil-ḥakīm. Innaka laminal-mursalīn.
“Yā Sīn. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah. Sesungguhnya engkau benar-benar termasuk para rasul.”
Perhatikan struktur ayatnya.
Allah bersumpah.
Dengan apa?
Dengan Al-Qur’an al-Hakim.
Untuk menegaskan apa?
إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ
“Sesungguhnya engkau benar-benar termasuk para rasul.”
Maka bagaimana mungkin kita menganggap maqam kerasulan sebagai perkara kecil?
Justru kerasulan adalah salah satu kemuliaan terbesar yang dapat diberikan Allah kepada seorang manusia.
Lalu apa sebenarnya pesan Surah Ali ‘Imran ayat 144 ketika mengatakan:
Wa mā Muḥammadun illā rasūl?
Pesannya adalah:
Jangan jadikan hubungan kalian dengan Muhammad semata-mata hubungan fisik.
Jangan menjadi Muslim hanya karena kalian hidup bersama beliau.
Jangan taat hanya karena kalian melihat wajah beliau.
Jangan setia hanya karena kalian mendengar suara beliau.
Sebab tubuh beliau suatu saat akan meninggalkan dunia.
Tetapi risalahnya tidak boleh pergi dari kehidupan kalian.
Inilah perbedaan antara keterikatan emosional dan keterikatan akidah.
Keterikatan fisik berakhir ketika seseorang wafat.
Hubungan darah dapat terputus oleh kematian.
Kebersamaan ruang dan waktu berhenti.
Tetapi hubungan akidah menembus kematian.
Ia bahkan mengorbit sampai akhirat.
Karena itu mencintai Rasulullah SAW bukan hanya mencintai wajahnya.
Bukan sekadar mengagumi akhlaknya.
Bukan hanya menangis ketika mendengar kisah hidupnya.
Cinta kepada Rasulullah berarti menjadikan risalah beliau sebagai pusat orientasi hidup.
Dan hubungan akidah dengan Rasulullah membawa kita kepada satu konsekuensi yang sangat penting:
kemaksuman beliau.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Laqad kāna lakum fī Rasūlillāhi uswatun ḥasanatun liman kāna yarjullāha wal-yawmal-ākhira wa dzakarallāha katsīrā.
“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan Hari Akhir serta banyak mengingat Allah.”
Perhatikan penggunaan kata:
fī Rasūlillāh — “pada diri Rasulullah.”
Bukan sekadar “dalam beberapa ucapan Rasulullah”.
Bukan:
“Dalam perkara agama saja Rasulullah menjadi contoh.”
Ayat itu menghadirkan Rasulullah sebagai uswatun ḥasanah dalam keseluruhan diri kerasulannya.
Ucapan.
Perbuatan.
Sikap.
Keputusan.
Akhlak.
Keberanian.
Kesabaran.
Kasih sayang.
Bahkan cara beliau menghadapi musuh sekalipun mengandung pelajaran.
Jika Allah memerintahkan manusia menjadikan Rasulullah sebagai teladan, maka secara logis keteladanan itu membutuhkan jaminan.
Sebab mustahil Allah memerintahkan manusia mengikuti seseorang yang dapat menjerumuskan mereka kepada dosa.
Di sinilah konsep ‘ismah—kemaksuman—mendapatkan fondasinya.
Kemaksuman Nabi bukan berarti Nabi kehilangan kehendak bebas.
Bukan berarti beliau berubah menjadi makhluk yang secara mekanis tidak dapat memilih.
Justru kemaksuman adalah puncak kebebasan yang dibimbing oleh kesempurnaan pengetahuan.
Ambillah ilustrasi sederhana.
Kita tidak meminum racun.
Apakah karena tubuh kita secara fisik tidak mampu mengangkat gelas racun?
Tidak.
Kita mampu.
Tetapi kita tidak melakukannya karena kita mengetahui akibatnya.
Demikian pula seseorang yang sehat akalnya tidak berjalan telanjang di tengah kota.
Bukan karena tubuhnya terbelenggu.
Ia bisa saja melakukannya.
Tetapi ilmu, kesadaran, harga diri, dan akalnya mencegahnya.
Semakin terang pengetahuan seseorang terhadap akibat suatu perbuatan, semakin kecil kemungkinan ia melakukannya.
Lalu bayangkan manusia yang pengetahuannya tentang Allah mencapai tingkat tertinggi.
Yang melihat hakikat dosa lebih jelas daripada kita melihat racun.
Yang mengetahui realitas akhirat bukan sebagai teori, tetapi sebagai pengetahuan yang hadir dalam jiwanya.
Itulah Rasulullah SAW.
Maka kemaksuman bukan kekurangan kebebasan.
Kemaksuman adalah kesempurnaan pengetahuan yang melahirkan kesempurnaan pilihan.
Nabi tidak menjauhi dosa karena dipaksa.
Beliau menjauhinya karena mengetahui keburukannya dengan pengetahuan yang sempurna.
Karena itu, pandangan yang mengatakan bahwa Rasulullah hanya maksum ketika menyampaikan wahyu, tetapi dapat salah secara moral di luar itu, menimbulkan persoalan serius terhadap konsep uswatun ḥasanah.
Bagaimana umat dapat diperintahkan meneladani beliau jika umat harus terus bertanya:
“Ini Nabi sedang maksum atau tidak?”
“Ucapan ini wahyu atau kesalahan pribadi?”
“Keputusan ini harus diikuti atau justru dikoreksi?”
Keteladanan Ilahi tidak mungkin dibangun di atas ketidakpastian semacam itu.
Ketika Allah mengatakan:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
maka Rasulullah ditempatkan sebagai jalan aman menuju Allah.
Dan ayat itu sendiri menjelaskan siapa yang benar-benar dapat menangkap keteladanan tersebut:
لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ
“Bagi siapa yang mengharap Allah dan Hari Akhir.”
Artinya, perjalanan menuju Allah tidak dapat dipisahkan dari Rasulullah.
Kita mengenal Allah melalui wahyu yang beliau bawa.
Kita memahami cara beribadah melalui beliau.
Kita belajar berdoa melalui beliau.
Kita mengenal halal dan haram melalui beliau.
Bahkan cara mencintai Allah pun diajarkan melalui beliau.
Karena itulah Al-Qur’an mengatakan:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah: jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”
Cinta kepada Allah mempunyai jalan.
Dan jalan itu bernama ittibā‘ Rasulullah.
Di sinilah kita dapat kembali memahami mengapa mazlumiyah Rasulullah menjadi begitu berat.
Sebab beliau bukan sekadar seorang manusia yang disakiti.
Beliau adalah manusia yang membawa kebenaran tertinggi, tetapi justru harus menghadapi resistensi manusia terhadap kebenaran itu.
Sejarah nabi-nabi sebelumnya memperlihatkan bahwa ada masyarakat yang bahkan berani membunuh utusan Allah.
Karena itu, pertanyaan tentang apa yang terjadi pada hari-hari terakhir Rasulullah SAW tidak boleh dianggap pertanyaan tabu.
Al-Qur’an sendiri telah mengajari kita untuk melihat sejarah kenabian secara jujur.
Ia tidak menyembunyikan pengkhianatan.
Tidak menyembunyikan pembunuhan nabi.
Tidak menyembunyikan kemunafikan.
Tidak menyembunyikan bahwa manusia dapat hidup dekat dengan seorang nabi tetapi tetap gagal memahami kenabiannya.
Maka kedekatan fisik dengan Nabi tidak otomatis berarti kedekatan akidah.
Seseorang dapat melihat Nabi setiap hari, tetapi hatinya jauh.
Sebaliknya, seseorang yang hidup seribu tahun setelah beliau dapat menjadi sangat dekat jika hidupnya dibangun di atas risalahnya.
Karena ukuran kedekatan dengan Rasulullah bukan sekadar:
berapa lama seseorang hidup bersama beliau.
Tetapi:
seberapa jauh seseorang tunduk kepada apa yang beliau bawa.
Di sinilah Surah Ali ‘Imran ayat 144 memperoleh makna yang semakin dalam:
أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ
“Apakah jika ia wafat atau terbunuh kalian akan berbalik ke belakang?”
Ini bukan sekadar pertanyaan tentang kematian Nabi.
Ini adalah peringatan.
Sebab ujian terbesar umat justru dimulai ketika Rasulullah tidak lagi berada di tengah-tengah mereka.
Selama Nabi hidup, setiap perselisihan dapat dikembalikan kepadanya.
Tetapi ketika Nabi wafat, akan terlihat siapa yang benar-benar mencintai risalah dan siapa yang hanya terbiasa dengan kehadiran beliau.
Maka persoalan terbesar bukan:
apakah Muhammad akan wafat?
Setiap manusia akan wafat.
Persoalannya adalah:
apa yang akan dilakukan umat setelah Muhammad wafat?
Apakah mereka tetap bergerak menuju arah yang telah ditunjukkan beliau?
Ataukah mereka berbalik?
Inqalabtum ‘alā a‘qābikum.
Berputar kembali di atas tumit.
Kembali ke belakang.
Seolah Al-Qur’an telah meletakkan sebuah lampu peringatan tepat di pintu sejarah pasca-Rasulullah.
Dan justru di situlah kita perlu membuka lembaran berikutnya dengan hati yang jernih.
Sebab jika seorang nabi dapat dibunuh, jika hujjah dapat ditolak, jika manusia yang hidup bersama nabi dapat berbalik setelah kepergiannya, maka pertanyaan tentang hari-hari terakhir Rasulullah bukan lagi sekadar persoalan sejarah.
Ia adalah persoalan iman.
Persoalan kesetiaan.
Persoalan apakah umat benar-benar memahami siapa Muhammad SAW.
Sebab semakin kita memahami keagungan kerasulannya, semakin sulit bagi kita memperlakukan wafatnya sebagai peristiwa biasa.
Dan semakin kita memahami kesempurnaan beliau, semakin besar pertanyaan yang muncul:
apa sebenarnya yang terjadi di penghujung kehidupan Rasulullah SAW?
Pertanyaan itulah yang perlahan akan membawa kita memasuki lapisan berikutnya dari kisah Nabi yang Mazlum.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1DUQvgxTQq/

