Mengapa Kedudukan Keduanya Tidak Dapat Disetarakan
Untuk Sahabat Tercinta Bang Doel
Ada masa ketika saya memandang hampir seluruh sahabat Rasulullah ﷺ dengan kekaguman tanpa syarat.
Nama mereka disebut dengan penghormatan, kisah mereka diterima tanpa pertanyaan, dan konflik di antara mereka selalu dijelaskan dengan satu kalimat yang menenangkan: mereka telah berijtihad, sehingga yang benar mendapat dua pahala dan yang salah tetap memperoleh satu pahala.
Pada masa itu, istilah “sahabat” seolah-olah merupakan sebuah stempel kesucian.
Sekali seseorang disebut sahabat, seluruh tindakannya harus dibela, kesalahannya harus dicarikan alasan, dan kritik terhadapnya dianggap sebagai penghinaan kepada Rasulullah ﷺ.
Saya telah melewati fase itu.
Setelah membaca sejarah melalui berbagai jalur—kitab hadis, tafsir, sejarah politik, biografi, laporan peperangan, konflik kekuasaan, serta riwayat yang saling berhadapan—saya menemukan bahwa sahabat sebagaimana hadir dalam sejarah tidak selalu sama dengan gambaran sahabat yang dibentuk oleh mimbar, kekuasaan, dan pendidikan keagamaan selama berabad-abad.
Saya tidak kehilangan penghormatan kepada sahabat yang jujur, setia, dan berkorban.
Namun saya kehilangan keyakinan bahwa seluruh orang yang disebut sahabat harus diterima sebagai satu kelompok yang seragam, suci, dan tidak dapat dikritik.
Dari sanalah saya sampai pada satu kesimpulan penting:
Ahlul Bait memang hidup bersama Rasulullah ﷺ, tetapi mereka bukan sekadar sahabat.
Sahabat merupakan kategori historis, sedangkan Ahlul Bait menempati kedudukan teologis dan spiritual yang ditegaskan melalui nash. Karena itu, keduanya tidak dapat disetarakan.
Sahabat adalah kategori sejarah
Secara umum, sahabat adalah orang yang pernah bertemu Rasulullah ﷺ dalam keadaan beriman dan meninggal sebagai Muslim.
Definisi ini menunjukkan bahwa istilah sahabat pada dasarnya merupakan kategori perjumpaan dan kebersamaan historis.
Namun perjumpaan dengan Nabi tidak otomatis menjadikan semua orang memiliki kedalaman iman, keteguhan, kecerdasan, kejujuran, dan kesetiaan yang sama.
Di antara sahabat terdapat orang-orang yang mengorbankan harta dan nyawanya. Ada yang teguh berdiri ketika banyak orang mundur. Ada yang meninggalkan keluarga, kedudukan, dan kampung halamannya demi membela Rasulullah ﷺ.
Mereka patut dihormati.
Namun di tengah masyarakat yang hidup bersama Nabi juga terdapat orang-orang yang lemah imannya, mengharapkan keuntungan dunia, membangkang, meninggalkan medan perang, menyakiti Nabi, bahkan menyembunyikan kemunafikan.
Al-Qur’an tidak menggambarkan generasi pertama sebagai masyarakat yang seluruh anggotanya telah mencapai satu tingkatan kesucian.
Allah berfirman:
“Di antara orang-orang Arab Badui yang berada di sekelilingmu terdapat orang-orang munafik. Demikian pula di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikan. Engkau tidak mengetahui mereka; Kamilah yang mengetahui mereka.”
QS al-Taubah [9]: 101.
Ayat ini sangat penting. Ia menunjukkan bahwa kedekatan geografis dan sosial dengan Rasulullah ﷺ tidak menjamin kebersihan batin seseorang.
Bahkan Rasulullah ﷺ tidak diberi pengetahuan tentang seluruh identitas mereka.
Jika tidak semua orang yang hidup di sekitar Nabi dapat dikenali kemunafikannya, bagaimana mungkin generasi sesudahnya berani menetapkan bahwa setiap orang yang pernah bersama beliau pasti adil dan tidak boleh dipersoalkan?
Al-Qur’an juga mengingatkan:
“Muhammad tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau terbunuh, kamu akan berbalik ke belakang?”
QS Āli ‘Imrān [3]: 144.
Ayat tersebut tidak ditujukan kepada manusia yang hidup berabad-abad setelah Nabi. Ia ditujukan kepada masyarakat yang berada di sekitar Rasulullah ﷺ.
Al-Qur’an sendiri membuka kemungkinan bahwa sebagian orang dapat berubah, mundur, atau berbalik setelah Rasulullah ﷺ wafat.
Karena itu, pemikiran bahwa semua sahabat pasti berada dalam kebenaran bukanlah kesimpulan yang lahir secara langsung dari Al-Qur’an. Ia merupakan bangunan teologis yang berkembang kemudian.
Setiap sahabat harus dinilai berdasarkan amalnya
Mengkritik seorang sahabat tidak berarti membenci seluruh sahabat. Menilai tindakan seseorang juga tidak berarti menghapus seluruh jasanya.
Seorang manusia dapat memiliki jasa pada satu masa, lalu melakukan kesalahan pada masa berikutnya.
Ia dapat berjuang bersama Nabi, tetapi kemudian tergelincir dalam pertarungan kekuasaan. Ia dapat memiliki keutamaan tertentu, tetapi tidak berarti seluruh pilihan politik dan tindakannya menjadi benar.
Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan bahwa masa lalu yang baik memberikan kekebalan moral untuk masa depan.
Nabi Adam a.s. adalah manusia pilihan, tetapi Al-Qur’an tetap menceritakan kekeliruannya. Nabi Yunus a.s. adalah seorang nabi, tetapi Al-Qur’an tetap mengoreksi tindakannya.
Apalagi manusia biasa yang bukan nabi dan tidak memiliki jaminan kemaksuman.
Karena itu, seorang sahabat harus dihormati sesuai kadar kesetiaannya dan dikritik sesuai kadar kesalahannya.
Prinsipnya sederhana:
Yang benar kita benarkan.
Yang salah kita kritisi.
Yang berjasa kita hormati.
Yang berbuat zalim tidak kita sucikan.
Penghormatan tidak boleh berubah menjadi pembebasan dari pertanggungjawaban.
Hadis telaga dan perubahan setelah Nabi
Dalam hadis-hadis tentang telaga, Rasulullah ﷺ diberitakan melihat sekelompok orang yang beliau kenal hendak mendatanginya. Namun mereka kemudian dijauhkan.
Ketika Nabi memanggil mereka sebagai sahabatnya, dikatakan kepada beliau bahwa beliau tidak mengetahui apa yang telah mereka lakukan dan ubah setelah wafatnya.
Terlepas dari perdebatan tentang siapa tepatnya orang-orang tersebut, makna dasarnya tidak dapat dihindari: kebersamaan dengan Nabi bukanlah jaminan keselamatan apabila seseorang mengubah jalan setelah beliau wafat.
Karena itu, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan hanya:
“Apakah ia pernah bertemu Rasulullah?”
Pertanyaan yang lebih mendasar ialah:
“Apakah ia tetap setia kepada ajaran Rasulullah setelah beliau wafat?”
Apakah ia menjaga keadilan?
Apakah ia menghindari pertumpahan darah?
Apakah ia tidak menjadikan agama sebagai alat kekuasaan?
Apakah ia menghormati keluarga yang ditinggalkan Rasulullah ﷺ?
Seseorang dapat menjadi sahabat dalam pengertian sejarah, tetapi tidak otomatis menjadi hujah dalam agama.
Perjumpaan adalah fakta sejarah.
Keteladanan adalah penilaian moral.
Keduanya tidak selalu identik.
Kitāb Faḍā’il al-Ṣaḥābah tidak berarti penyucian kolektif
Imam Muslim menyusun bagian dalam Ṣaḥīḥ Muslim yang dikenal sebagai Kitāb Faḍā’il al-Ṣaḥābah, kitab tentang keutamaan para sahabat.
Namun judul tersebut tidak berarti bahwa semua orang yang disebut sahabat memiliki keutamaan yang sama, apalagi bahwa seluruh perbuatannya pasti benar.
Imam Muslim menyusun bab-bab tentang tokoh tertentu berdasarkan riwayat tertentu. Di dalamnya terdapat bab keutamaan Abu Bakar, Umar, Utsman, Imam Ali a.s., Imam Hasan a.s., Imam Husain a.s., Ahlul Bait, dan sejumlah sahabat lainnya.
Artinya, kitab tersebut berisi riwayat-riwayat khusus tentang keutamaan tertentu, bukan pernyataan bahwa semua sahabat merupakan satu kelas kesucian yang tidak boleh disentuh kritik.
Tidak tepat apabila judul Faḍā’il al-Ṣaḥābah kemudian diubah menjadi doktrin:
“Semua sahabat pasti adil, seluruh tindakan mereka harus ditafsirkan sebagai kebaikan, dan siapa pun yang mengkritik mereka telah menyimpang dari Islam.”
Itu merupakan lompatan dari teks menuju ideologi.
Riwayat tentang keutamaan seseorang harus diperiksa secara individual: sanadnya, matannya, konteksnya, kesesuaiannya dengan Al-Qur’an, serta hubungannya dengan peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi.
Riwayat yang kuat harus diterima. Riwayat yang lemah harus ditangguhkan. Riwayat yang bertentangan dengan Al-Qur’an, keadilan, dan fakta sejarah tidak boleh diselamatkan hanya karena menguntungkan tokoh tertentu.
Ketika sejarah berubah menjadi propaganda
Sejarah Islam awal bukan hanya sejarah dakwah dan ibadah. Ia juga merupakan sejarah perebutan kekuasaan.
Sesudah Rasulullah ﷺ wafat, umat menghadapi perselisihan tentang kepemimpinan. Setelah itu terjadi peperangan, pemberontakan, pembunuhan, perubahan sistem pemerintahan, serta kemunculan dinasti-dinasti yang membutuhkan legitimasi agama.
Dalam suasana seperti itu, hadis dan riwayat bukan hanya menjadi sumber ilmu, tetapi juga dapat dipakai sebagai senjata politik.
Bani Umayyah memiliki kepentingan untuk membangun legitimasi kekuasaannya.
Mereka harus menjelaskan mengapa pemerintahan beralih menjadi dinasti, mengapa terjadi peperangan melawan Imam Ali a.s., dan bagaimana kekuasaan mereka tetap dapat dipandang sebagai bagian dari agama.
Salah satu cara yang digunakan ialah menurunkan kedudukan Imam Ali a.s. serta membangun narasi tandingan mengenai keutamaan lawan-lawan politiknya.
Jejak propaganda anti-Ali tidak hanya disebut dalam literatur Syiah. Ṣaḥīḥ Muslim sendiri meriwayatkan peristiwa ketika Muawiyah mempertanyakan kepada Sa‘ad bin Abi Waqqash mengapa ia tidak mencela Abu Turab, yaitu Imam Ali a.s.
Riwayat lain menyebut adanya pejabat yang meminta Sahl bin Sa‘ad mencela Imam Ali, tetapi ia menolak.
Bila kekuasaan mampu menjadikan pencelaan terhadap Imam Ali sebagai kebijakan politik, sangat wajar apabila kita mengajukan pertanyaan lebih jauh:
Apakah kekuasaan yang sama juga memproduksi riwayat untuk meninggikan figur-figur tertentu?
Apakah konflik politik kemudian dibungkus menjadi doktrin agama?
Apakah keutamaan tokoh tertentu diperbanyak untuk menandingi keutamaan Ahlul Bait?
Pertanyaan semacam itu bukan kebencian. Ia merupakan kehati-hatian ilmiah.
Bani Abbas pun memiliki kepentingan serupa. Mereka membangun legitimasi melalui hubungan nasab dengan al-‘Abbas, paman Nabi. Mereka perlu menjelaskan mengapa keturunan paman lebih berhak berkuasa daripada keturunan putri Rasulullah ﷺ.
Dalam situasi demikian, riwayat tentang keutamaan keluarga tertentu, ramalan kekuasaan, panji-panji politik, dan legitimasi dinasti mudah berkembang.
Ketika saya mengatakan bahwa terdapat pabrikasi Bani Umayyah dan Bani Abbas, saya tidak bermaksud menyatakan bahwa seluruh riwayat tentang seluruh sahabat adalah palsu.
Pernyataan semacam itu terlalu mutlak dan secara ilmiah sulit dipertahankan.
Yang saya maksud ialah adanya industri politik-keagamaan yang:
* memproduksi riwayat yang menguntungkan penguasa;
* memperluas keutamaan kelompok tertentu;
* menyembunyikan atau melemahkan keutamaan Ahlul Bait;
* membenarkan tindakan politik dengan bahasa agama;
* serta membangun kesucian kolektif agar sejarah tidak lagi dapat diperiksa.
Dengan kata lain, bukan setiap riwayat keutamaan sahabat adalah propaganda. Namun tidak pula setiap riwayat yang dinisbatkan kepada Nabi dapat diterima tanpa kritik hanya karena terdapat dalam tradisi yang dominan.
Ketika doktrin menggantikan sejarah
Salah satu persoalan terbesar dalam pembicaraan tentang sahabat ialah munculnya doktrin bahwa semua sahabat memiliki sifat adil.
Doktrin ini dikenal sebagai ‘adālah al-ṣaḥābah.
Dalam praktiknya, doktrin tersebut sering dipahami bahwa siapa pun yang disebut sahabat harus diterima riwayatnya, dijaga kehormatannya, dan tidak boleh dinilai sebagaimana manusia lain.
Masalahnya, Al-Qur’an tidak pernah memberikan jaminan moral kolektif seperti itu.
Al-Qur’an memuji kelompok-kelompok tertentu karena amal mereka. Allah memuji orang-orang yang berhijrah, berjuang, bersabar, dan setia. Namun pujian itu selalu terikat pada iman dan amal, bukan semata-mata pada label generasi.
Allah berfirman mengenai orang-orang yang melakukan baiat di bawah pohon:
“Sungguh, Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.”
QS al-Fatḥ [48]: 18.
Ayat tersebut memuji orang-orang mukmin dalam peristiwa tertentu karena kesetiaan mereka ketika itu. Ia tidak menyatakan bahwa setiap orang yang hadir memperoleh kekebalan dari semua kesalahan di kemudian hari.
Keridaan terhadap suatu amal tidak selalu berarti keridaan terhadap seluruh tindakan seseorang sepanjang hayatnya.
Inilah perbedaan antara pembacaan Al-Qur’an dan pembentukan mitologi sejarah.
Al-Qur’an menilai manusia berdasarkan iman dan amal.
Mitologi menilai manusia berdasarkan label.
Ahlul Bait bukan kategori historis biasa
Di sinilah perbedaan mendasar antara Ahlul Bait dan sahabat.
Sahabat adalah kategori yang luas. Ahlul Bait adalah keluarga yang ditentukan dan diperkenalkan secara khusus oleh Rasulullah ﷺ.
Ahlul Bait bukan sekadar orang yang kebetulan hidup pada masa Nabi, bertemu beliau, atau ikut dalam beberapa peristiwa sejarah.
Mereka memiliki hubungan nasab, spiritual, ilmu, dan amanat kenabian.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah hanya bermaksud menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul Bait, dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.”
QS al-Aḥzāb [33]: 33.
Ayat Tathir tidak berbicara tentang seluruh sahabat. Ia berbicara kepada Ahlul Bait dalam struktur bahasa yang khusus.
Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan siapa pusat Ahlul Bait tersebut melalui Hadis Kisa: Imam Ali, Sayidah Fathimah, Imam Hasan, dan Imam Husain, shalawat dan salam atas mereka.
Dalam peristiwa Mubahalah, Rasulullah membawa Imam Ali, Sayidah Fathimah, Imam Hasan, dan Imam Husain. Mereka tampil sebagai representasi terdekat dari diri, keluarga, dan kebenaran risalah beliau.
Allah juga memerintahkan:
“Katakanlah, aku tidak meminta kepada kalian suatu upah pun atas seruanku, kecuali kecintaan kepada keluarga dekat.”
QS al-Syūrā [42]: 23.
Rasulullah ﷺ tidak pernah memerintahkan umat untuk mencintai seluruh sahabat dengan formula yang sama seperti kewajiban mencintai al-Qurba.
Beliau juga meninggalkan Hadis Tsaqalain: Al-Qur’an dan Ahlul Bait sebagai dua peninggalan agung yang tidak akan berpisah sampai bertemu beliau di telaga.
Beliau tidak mengatakan:
“Aku tinggalkan kepada kalian Al-Qur’an dan seluruh sahabatku.”
Yang disejajarkan dengan Al-Qur’an sebagai amanat bagi umat adalah Ahlul Bait.
Ini bukan berarti setiap sahabat tidak memiliki keutamaan. Namun keutamaan individual seorang sahabat tidak sama dengan otoritas spiritual Ahlul Bait.
Setiap Ahlul Bait adalah sahabat, tetapi tidak setiap sahabat adalah Ahlul Bait
Secara historis, Imam Ali a.s. adalah sahabat Rasulullah ﷺ. Sayidah Fathimah a.s. hidup bersama Rasulullah ﷺ. Imam Hasan dan Imam Husain a.s. tumbuh di pangkuan beliau.
Namun menyebut mereka hanya sebagai sahabat berarti mereduksi kedudukan mereka.
Imam Ali bukan sekadar orang yang pernah bertemu Nabi. Ia dibesarkan oleh Nabi, menjadi orang pertama yang membenarkan beliau, tidur di tempat tidur beliau pada malam hijrah, menjadi saudara beliau, pintu ilmu beliau, pemegang panji dalam berbagai peperangan, dan wali kaum mukmin setelah beliau.
Sayidah Fathimah bukan sekadar putri Nabi dalam pengertian biologis. Ia adalah bagian dari diri Rasulullah. Kemarahannya berkaitan dengan kemarahan Nabi. Ridanya berkaitan dengan rida Nabi.
Imam Hasan dan Imam Husain bukan sekadar cucu yang dicintai. Mereka disebut sebagai penghulu pemuda surga dan imam, baik berdiri maupun duduk.
Karena itu, kalimat yang paling tepat adalah:
Setiap Ahlul Bait Nabi termasuk sahabat dalam makna kebersamaan historis, tetapi tidak setiap sahabat memiliki maqam sebagai Ahlul Bait.
Sahabat memperoleh kehormatan karena kebersamaan dan pengorbanannya bersama Rasulullah ﷺ.
Ahlul Bait memperoleh kedudukan karena hubungan mereka dengan risalah, penyucian, amanat ilmu, dan penetapan Nabi.
Kedekatan historis tidak sama dengan otoritas spiritual.
Ukuran utama: sikap terhadap Ahlul Bait
Salah satu ukuran penting dalam membaca sejarah sahabat adalah sikap mereka terhadap Ahlul Bait.
Tidak masuk akal seseorang mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi memusuhi keluarga yang beliau cintai.
Tidak masuk akal seseorang dianggap pembela Islam, sementara tindakannya menyakiti putri Rasulullah, memerangi Imam Ali, meracuni Imam Hasan, atau membunuh Imam Husain.
Keutamaan masa lalu tidak dapat dijadikan pembenaran untuk kezaliman berikutnya.
Seseorang mungkin pernah berjihad, tetapi apabila kemudian ia memerangi wali Allah, sejarah tetap harus mencatat peperangan itu sebagai kesalahan.
Seseorang mungkin pernah bertemu Nabi, tetapi apabila sesudah Nabi wafat ia merampas hak, menyebarkan fitnah, atau mendukung kekuasaan zalim, status sahabat tidak mengubah kezaliman menjadi kebaikan.
Ahlul Bait merupakan batu uji moral umat.
Sikap seseorang terhadap mereka memperlihatkan apakah cintanya kepada Rasulullah ﷺ hanya berhenti pada kata-kata atau benar-benar hidup dalam tindakan.
Menghormati sahabat tanpa mengkultuskan
Saya tidak mengajak orang membenci sahabat.
Kebencian kolektif sama kelirunya dengan penyucian kolektif.
Tidak semua sahabat sama. Tidak semua berada dalam satu barisan politik. Tidak semua memiliki sikap yang sama kepada Ahlul Bait.
Di antara mereka terdapat Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, Miqdad bin al-Aswad, Ammar bin Yasir, Hudzaifah al-Yamani, Jabir bin Abdullah al-Anshari, Abu Ayyub al-Anshari, dan banyak orang lain yang menjaga kesetiaan kepada Rasulullah dan Ahlul Bait.
Mereka harus dihormati karena iman, keberanian, dan kesetiaannya.
Namun menghormati mereka tidak mengharuskan kita menutup kesalahan sahabat lain.
Saya tidak menolak sahabat sebagai generasi. Saya menolak menjadikan kata “sahabat” sebagai benteng yang melindungi manusia dari kritik.
Sebab tidak ada manusia biasa yang kebal dari penilaian Al-Qur’an.
Saya telah melewati kekaguman tanpa reservasi
Dahulu saya mengagumi para sahabat tanpa reservasi. Saya menerima gambaran bahwa perselisihan mereka tidak boleh dinilai, peperangan mereka tidak boleh dipersoalkan, dan seluruh pihak yang saling membunuh tetap benar dengan caranya masing-masing.
Namun setelah membaca sejarah dari berbagai jalur, saya tidak lagi mampu mempertahankan romantisme tersebut.
Saya menemukan bahwa sejarah generasi pertama tidak sesederhana cerita tentang kumpulan manusia suci yang sesekali berbeda pendapat.
Di sana terdapat persoalan kekuasaan, kepentingan kesukuan, penyingkiran politik, peperangan, propaganda, penguasaan mimbar, dan pembentukan riwayat.
Saya menemukan jarak antara sahabat sebagai manusia nyata dalam sejarah dan “sahabat” sebagai konstruksi teologis yang selalu benar.
Saya juga menemukan bahwa setiap kali sejarah sahabat berhadapan dengan Ahlul Bait, sebagian orang justru lebih sibuk menyelamatkan citra sahabat daripada membela kehormatan keluarga Rasulullah ﷺ.
Ketika Sayidah Fathimah marah, mereka mencari alasan bagi pihak yang membuatnya marah.
Ketika Imam Ali diperangi, mereka mengatakan kedua pihak sama-sama benar.
Ketika Imam Hasan diracuni, mereka mengaburkan siapa yang memperoleh keuntungan politik.
Ketika Imam Husain dibantai, mereka berbicara panjang tentang larangan mencela penguasa, tetapi sangat singkat mengenai kewajiban membela cucu Nabi.
Pada titik itulah saya menyadari bahwa terdapat sesuatu yang terbalik dalam cara sejarah diajarkan.
Sahabat yang seharusnya dinilai melalui kedekatannya kepada Rasulullah dan Ahlul Bait justru dijadikan ukuran untuk menilai Ahlul Bait.
Padahal Ahlul Bait tidak membutuhkan legitimasi dari sahabat.
Keagungan Ahlul Bait tidak bergantung kepada sejarah resmi
Terhadap Ahlul Bait, saya tidak merasa perlu melakukan pembelaan dengan cara yang sama seperti orang membela sahabat.
Bukan karena sejarah mereka tidak perlu dipelajari, melainkan karena posisi mereka tidak bergantung kepada pengakuan penguasa, ulama istana, atau kitab-kitab yang ditulis sesudahnya.
Pujian manusia tidak menambah keagungan Ahlul Bait.
Fitnah manusia tidak menguranginya.
Matahari tidak menjadi lebih bercahaya karena manusia memujinya, dan tidak berubah menjadi gelap karena seseorang menutup mata.
Imam Ali tetaplah Imam Ali meskipun mimbar-mimbar Umayyah mencelanya.
Sayidah Fathimah tetaplah penghulu perempuan seluruh alam meskipun keluhannya disembunyikan.
Imam Hasan tetaplah penghulu pemuda surga meskipun perjanjiannya dipelintir menjadi kelemahan.
Imam Husain tetaplah cahaya petunjuk meskipun kekuasaan menyebut kebangkitannya sebagai pemberontakan.
Ahlul Bait tidak memerlukan sejarah resmi untuk menjadi agung. Sejarah justru memerlukan Ahlul Bait agar tidak kehilangan ukuran kebenaran.
Kembali kepada Al-Qur’an dan Rasulullah
Saya tidak meninggalkan agama setelah membaca sejarah. Saya justru meninggalkan propaganda agar dapat kembali kepada agama.
Saya tidak mengganti fanatisme terhadap seluruh sahabat dengan kebencian kepada seluruh sahabat.
Saya hanya mengembalikan setiap manusia kepada ukuran yang sama:
Al-Qur’an, akhlak Rasulullah ﷺ, keadilan, dan sikapnya terhadap Ahlul Bait.
Sahabat yang setia kita hormati.
Sahabat yang berjasa kita muliakan.
Sahabat yang keliru kita kritisi.
Sahabat yang berbuat zalim tidak kita sucikan.
Riwayat yang sahih kita terima.
Riwayat yang lemah kita tangguhkan.
Riwayat propaganda kita tolak.
Adapun Ahlul Bait, mereka bukan sekadar orang-orang yang pernah hidup di sekitar Nabi. Mereka adalah rumah tempat risalah dipelihara, keluarga yang disucikan, amanat yang diwasiatkan, dan jalan ilmu yang ditinggalkan Rasulullah ﷺ.
Karena itu, Ahlul Bait tidak dapat ditempatkan hanya sebagai salah satu kelompok di antara sahabat.
Ahlul Bait bukan sekadar sahabat.
Sahabat adalah orang-orang yang pernah berjalan bersama Rasulullah ﷺ.
Ahlul Bait adalah orang-orang yang melalui mereka jalan Rasulullah ﷺ terus dijaga.
Inilah titik yang saya capai setelah melewati kekaguman tanpa pertanyaan menuju keyakinan yang disertai pembacaan sejarah.
Saya tidak lagi menilai seseorang berdasarkan seberapa sering namanya dipuji oleh sejarah resmi.
Saya menilainya berdasarkan seberapa setia ia berdiri bersama kebenaran, keadilan, Rasulullah ﷺ, dan Ahlul Baitnya.
Sebab kedekatan dengan Nabi bukan hanya persoalan pernah berada di samping beliau, tetapi tetap berada di jalan beliau setelah beliau tiada.
Wallahu a‘lam.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel sumber: https://www.facebook.com/share/p/1F9GQHRvPN/

