12 October 2026

Mereka adalah sepasang dokter asal Inggris. Sang suami dokter spesialis jantung, sedangkan istrinya dokter spesialis kandungan. Keduanya lahir dan dibesarkan sebagai Nasrani, lalu memilih memeluk Islam dan mengikuti jalan Ahlul Bait as.

Mereka bukan orang yang mudah percaya. Pendidikan telah membiasakan keduanya menguji sesuatu dengan akal, data, dan pertimbangan yang matang.
Namun setelah mengenal Islam, mereka menemukan sesuatu yang selama ini tidak diperoleh: ketenteraman yang menyentuh akal sekaligus hati.

Sang perempuan menerima shalat, puasa, Al-Qur’an, kenabian Rasulullah saw, dan wilayah Ahlul Bait as. Ia percaya kepada suaminya yang tidak mungkin meninggalkan agama lamanya tanpa alasan yang kuat.

Hanya satu perkara yang masih menyisakan pertanyaan.

Imam Mahdi afs.

Ia tidak menolak keberadaan Sang Imam. Ia hanya belum mampu memahami bagaimana seseorang dapat hidup begitu panjang, melewati abad demi abad, sementara generasi datang dan pergi.
Sebagai dokter, ia mengenal tubuh manusia, penuaan, penyakit, dan kematian. Akalnya menerima bahwa Allah Mahakuasa, tetapi hatinya masih belum sepenuhnya tenang.

Pertanyaan itu tidak banyak ia bicarakan. Ia menyimpannya sendiri—sebuah simpul kecil di tengah keyakinan yang sedang tumbuh.

Kemudian tibalah musim haji.

Bagi seorang yang baru mengenal Islam, haji bukan sekadar perjalanan ibadah. Ia seperti memasuki dunia yang selama ini hanya dibaca dalam buku. Ka’bah yang selama ini dilihat dalam gambar kini berdiri di hadapannya. Jutaan manusia datang dari berbagai bangsa, warna kulit, dan bahasa, mengenakan pakaian yang hampir sama dan memanggil Tuhan yang sama.

Pada Hari Arafah, ia bersama rombongan London menuju Padang Arafah. Lautan manusia memenuhi setiap arah. Matahari menyala terik. Udara panas, langkah-langkah berdesakan, dan suara doa bercampur dengan panggilan orang-orang yang mencari rombongannya.

Tanpa disadarinya, ia terpisah dari suami dan kafilahnya.

Ia mencoba mencari tenda bertanda rombongan London. Dari kejauhan, beberapa tenda tampak serupa. Ia mempercepat langkah, tetapi setiap kali mendekat, ternyata bukan itu tempatnya.

Tidak seorang pun memahami bahasa Inggrisnya. Arus manusia menyeretnya ke sana kemari. Tubuhnya mulai lemah. Hari semakin sore, sementara ia tidak tahu ke mana harus berjalan.

Akhirnya ia berhenti di sebuah sudut. Seorang dokter yang terbiasa menolong manusia kini tidak mampu menolong dirinya sendiri.

Ia duduk dan menangis.

“Ya Allah,” bisiknya, “Engkau sendiri yang harus menolongku.”

Di tengah kerumunan itu, tampak seorang pemuda berjalan mendekatinya. Anehnya, lautan manusia seperti memberi jalan. Wajahnya begitu indah dan menenteramkan.
Ketika pemuda itu tiba di hadapannya, rasa takut yang sejak tadi menyesakkan dada perempuan itu mendadak menghilang.

Pemuda itu berbicara dalam bahasa Inggris yang sangat fasih.

“Engkau tersesat?”

Perempuan itu mengangguk.

“Mari. Aku akan menunjukkan rombonganmu.”

Mereka berjalan bersama. Baru beberapa langkah ditempuh, tenda rombongan London telah terlihat di depan mata.

Perempuan itu tertegun. Sejak tadi ia berputar-putar tanpa arah, tetapi pemuda tersebut membawanya sampai hanya dalam beberapa langkah.

Ia mengucapkan terima kasih berkali-kali.

Ketika hendak berpisah, pemuda itu berkata:

“Sampaikan salamku kepada suamimu.”

Perempuan itu spontan bertanya:

“Harus kukatakan salam dari siapa?”

Pemuda itu memandangnya dan menjawab:

“Katakan, salam dari Imam terakhir—penyelamat akhir zaman yang membuatmu gelisah karena rahasia panjang usianya.”

Sejenak perempuan itu terpaku.

Pemuda itu melanjutkan:

“Akulah orang yang selama ini membuatmu gelisah.”

Belum sempat perempuan itu berkata apa-apa, pemuda tersebut telah menghilang. Ia menoleh ke segala arah, menerobos beberapa langkah ke tengah kerumunan, tetapi tidak menemukan jejaknya.

Saat itulah air matanya kembali mengalir—bukan lagi karena takut, melainkan karena kerinduan yang datang terlambat.

Pertanyaan tentang panjang usia Imam Mahdi afs tidak dijawab dengan uraian biologis. Tidak pula dengan perdebatan tentang hukum alam. Pertanyaan itu dijawab oleh kehadiran Sang Imam sendiri.

Seolah beliau hendak berkata: Engkau mempertanyakan bagaimana aku masih hidup, sementara saat ini aku berdiri di hadapanmu.

Perempuan itu sebelumnya seorang Nasrani. Ia belum lama mengenal Islam dan belum lama mengenal Imamnya. Namun Sang Imam mengetahui satu pertanyaan yang disembunyikannya dari manusia.
Bahkan sebelum ia benar-benar mengenali Imam, Imam telah mengenali kegelisahan terdalamnya.

Sejak perjumpaan itu, ia dan suaminya semakin mencintai Ahlul Bait as. Setiap Muharam, Hari Arafah, dan pertengahan Syakban, mereka melayani majelis dengan penuh kerendahan hati.
Dua orang dokter yang dahulu mencari kebenaran melalui ilmu, akhirnya menemukan bahwa ada pengetahuan yang baru terbuka setelah hati disentuh oleh pemilik zaman.

Kita sering mengira hanya kita yang sedang mencari Imam Mahdi afs. Padahal mungkin Sang Imamlah yang sejak lama memperhatikan perjalanan kita—menunggu saat ketika pertanyaan tidak lagi sekadar memenuhi kepala, tetapi berubah menjadi doa yang jujur.

Perempuan itu kehilangan rombongannya di Arafah, tetapi justru menemukan Imam zamannya.

Ia tersesat di tengah lautan manusia, tetapi ditemukan oleh seseorang yang selama berabad-abad dianggap tidak terlihat.

Sebab ghaib tidak berarti tidak hadir. Ghaib hanya berarti mata kita belum selalu mampu mengenalinya.

Salam atasmu, wahai Imam yang mengetahui pertanyaan sebelum bibir mengucapkannya. Salam atasmu, wahai penunjuk jalan bagi setiap hati yang tersesat.

Aku yang

Catatan:

Kisah ini dinukil dalam Mulāqāt bā Imām Zamān dar ‘Ashr-e Hādhir karya Abul Fadhl Sabzi, hlm. 88.
Ia merupakan kisah perjumpaan spiritual kontemporer, bukan hadis bersanad; karena itu paling tepat diperkenalkan dengan kata “dikisahkan” atau “dinukil.” Sumber terpercaya.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1N72ejanEb/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us