Ketika Ali Harus Memilih antara Aqil dan Keadilan
Anak-anak itu memasuki rumah pemerintahan dengan langkah lemah.
Rambut mereka kusut.
Pakaian mereka dipenuhi debu.
Wajah-wajah kecil itu pucat kehitaman karena lapar—seakan seluruh kemiskinan Kufah berjalan bersama mereka.
Di belakangnya berdiri seorang lelaki tua.
Namanya Aqil bin Abi Thalib.
Kakak kandung Imam Ali.
Darah Abu Thalib mengalir dalam tubuh mereka. Mereka tumbuh di rumah yang sama. Menghadapi masa-masa sulit bersama. Ketika dunia memusuhi Muhammad, keluarga merekalah yang berdiri melindunginya.
Kini Ali menjadi khalifah.
Wilayah pemerintahannya terbentang sangat luas. Gudang-gudang negara menyimpan gandum. Pajak dan harta rampasan mengalir ke baitulmal.
Namun saudara kandung khalifah datang membawa anak-anak yang kelaparan.
Aqil berdiri di hadapan Ali.
Ia tidak meminta istana.
Tidak meminta kebun.
Tidak pula meminta jabatan.
Ia hanya meminta sedikit tambahan gandum.
Sekitar satu sha’—beberapa kilogram saja.
Jumlah yang sangat kecil dibandingkan kekayaan negara.
Beberapa kilogram gandum tidak akan mengosongkan baitulmal.
Tidak akan membuat pasukan kehilangan gaji.
Tidak akan mengguncang perekonomian Kufah.
Dan lelaki yang meminta itu bukan orang asing.
Ia adalah kakak Ali sendiri.
Ali memandang anak-anak Aqil.
Mereka lapar.
Mereka adalah keponakannya.
Darah keluarganya.
Ali mengetahui pedihnya kemiskinan. Ia pernah berhari-hari menahan lapar. Ia tahu bagaimana perut yang kosong membuat tubuh kehilangan tenaga.
Tetapi gandum yang diminta Aqil bukan milik pribadi Ali.
Gandum itu milik rakyat.
Di dalamnya ada bagian para janda.
Hak anak-anak yatim.
Upah para pekerja.
Dan bagian keluarga-keluarga miskin yang tidak memiliki hubungan darah dengan khalifah.
Memberikan tambahan kepada Aqil berarti mengurangi hak orang lain.
Sekecil apa pun jumlahnya.
Aqil mengulangi permintaannya.
Ali mendengarkan.
Aqil kembali memohon.
Ia memperlihatkan keadaan anak-anaknya.
Barangkali ia berharap hati seorang adik akhirnya luluh.
Barangkali ia berpikir bahwa tidak mungkin seorang khalifah membiarkan keluarga kandungnya pulang tanpa membawa apa-apa.
Aqil datang lagi.
Mengulang permintaan yang sama.
Ali tetap diam mendengarkannya.
Hingga Aqil mulai mengira bahwa Ali akan menyerah.
Bahwa hubungan darah akhirnya akan mengalahkan hukum.
Bahwa sang khalifah akan membuka baitulmal dan mengambil beberapa genggam gandum tanpa seorang pun mengetahuinya.
Saat itulah Ali berdiri.
Beliau berjalan menuju api.
Di sana terdapat sepotong besi.
Ali mengambilnya, lalu memanaskannya.
Besi itu perlahan berubah warna.
Hitam menjadi merah.
Merah menjadi semakin menyala.
Udara di sekitarnya bergetar oleh panas.
Aqil tidak memahami apa yang hendak dilakukan adiknya.
Ali mengangkat besi panas tersebut.
Kemudian membawanya mendekati tubuh Aqil.
Tidak untuk membakarnya.
Tidak untuk menyakitinya.
Hanya cukup dekat agar panasnya menyentuh kulit.
Aqil tersentak.
Ia menjerit dan menarik tubuhnya menjauh.
Panas dari besi buatan manusia itu terasa seakan hendak membakar dagingnya.
Ali memandang saudaranya.
Di satu sisi berdiri anak-anak yang kelaparan.
Di sisi lain menyala besi merah.
Dan di antara keduanya berdiri seorang pemimpin yang sedang mempertanggungjawabkan setiap butir gandum di hadapan Allah.
Ali berkata:
“Wahai Aqil, engkau menjerit karena besi yang dipanaskan manusia, tetapi engkau hendak menyeretku menuju api yang dinyalakan Allah karena kemurkaan-Nya?”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Suara anak-anak tidak terdengar.
Hanya bara yang berdesis.
Aqil menahan tangannya yang masih merasakan panas.
Ali melanjutkan:
“Engkau menangis karena rasa sakit ini—lalu apakah aku tidak boleh menangis karena api akhirat?”
Itu bukan suara seorang adik yang tidak mencintai kakaknya.
Justru karena mencintainya, Ali memperlihatkan bahaya yang tidak terlihat.
Lapar adalah penderitaan.
Namun mengambil hak manusia adalah api.
Kemiskinan dapat berakhir bersama kematian.
Tetapi kezaliman akan menunggu pelakunya di hadapan Allah.
Ali sanggup menghadapi kesedihan saudaranya.
Yang tidak sanggup ia hadapi adalah Rasulullah saw. pada Hari Pengadilan, sementara di belakangnya berdiri rakyat yang menuntut haknya.
Ia tidak ingin bertemu Allah sebagai penguasa yang mengambil sesuatu dari seseorang hanya untuk menyenangkan keluarganya.
Ali kemudian bersumpah:
Lebih baik baginya tidur semalaman di atas duri, atau diseret dalam keadaan terbelenggu, daripada menghadap Allah setelah menzalimi seorang hamba atau merampas sedikit saja harta dunia.
Bayangkan betapa mudahnya Ali mengabulkan permintaan itu.
Tidak ada auditor.
Tidak ada kamera.
Tidak ada surat kabar.
Tidak ada oposisi yang akan memeriksa gudang negara.
Siapa yang berani menanyai khalifah hanya karena beberapa kilogram gandum?
Ali dapat menyebutnya bantuan keluarga.
Dapat menyebutnya kebijakan darurat.
Dapat meminta petugas mencari alasan hukum.
Dapat membuat seribu pembenaran untuk satu tindakan kecil.
Namun Ali mengetahui:
Korupsi besar selalu dimulai dari pembenaran terhadap sesuatu yang dianggap kecil.
Hari ini beberapa kilogram gandum untuk saudara.
Besok sebidang tanah untuk kerabat.
Lusa jabatan untuk keluarga.
Kemudian negara berubah menjadi warisan pribadi para penguasa.
Ali memutus rantai itu sejak butir pertama.
Bagi Ali, baitulmal bukan milik khalifah.
Khalifah hanya penjaga.
Tangannya boleh memegang kunci gudang, tetapi tidak berarti isi gudang menjadi miliknya.
Hubungan darah tidak dapat mengubah hak.
Kelaparan keluarga penguasa tidak boleh dibayar dengan kelaparan keluarga rakyat.
Kemudian Ali mengucapkan kalimat yang menggetarkan seluruh konsep kekuasaan:
“Demi Allah, seandainya diberikan kepadaku seluruh wilayah di bawah langit agar aku mendurhakai Allah dengan merampas kulit sebutir jelai dari seekor semut, aku tidak akan melakukannya.”
Bahkan seekor semut memiliki hak yang tidak boleh dirampas oleh Ali.
Lalu bagaimana dengan hak manusia?
Bagaimana dengan harta anak yatim?
Bagaimana dengan gandum para fakir?
Bagaimana dengan uang rakyat?
Di hadapan Ali, kezaliman tidak menjadi halal hanya karena jumlahnya kecil.
Nepotisme tidak menjadi benar hanya karena pelakunya mencintai keluarganya.
Dan pencurian tidak berubah menjadi sedekah hanya karena dilakukan oleh seorang pemimpin.
Hari itu, Aqil pulang tanpa tambahan dari baitulmal.
Namun umat manusia menerima warisan yang jauh lebih berharga daripada beberapa kilogram gandum.
Mereka menerima ukuran tentang pemimpin.
Pemimpin bukan orang yang membuat keluarganya paling kaya ketika ia berkuasa.
Pemimpin adalah orang yang berani berkata “tidak” kepada keluarganya ketika permintaan mereka menyentuh hak rakyat.
Ali tidak sedang memilih antara gandum dan saudaranya.
Ia sedang memilih antara kasih sayang yang salah tempat dan keadilan yang harus ditegakkan.
Hatinya mencintai Aqil.
Namun tangannya terikat oleh hak manusia.
Besi merah itu akhirnya menjadi saksi:
Seorang penguasa dapat menahan tangis anak-anak keluarganya—
karena ia mendengar tangisan jutaan rakyat yang akan menuntutnya di hadapan Allah.
Itulah sebabnya Ali tidak dapat dibeli.
Tidak oleh harta.
Tidak oleh kekuasaan.
Bahkan tidak oleh air mata saudara kandungnya sendiri.
Sebab bagi Ali, neraka tidak menjadi dingin hanya karena pelanggaran dilakukan untuk keluarga.
Dan harta rakyat tidak berubah menjadi milik pribadi—
meskipun kunci seluruh baitulmal berada di tangannya.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—————
Catatan:
Peristiwa ini disampaikan Imam Ali sendiri dalam khotbah tentang penolakannya terhadap kezaliman dan penyalahgunaan harta.
Dalam sebagian penomoran tercatat sebagai Khotbah 223, sedangkan edisi lain menomorinya 224.
Teksnya dapat dibaca dalam Nahj al-Balaghah: keadaan kemiskinan Aqil.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19w2CWDKVG/

