Hari-Hari Terakhir Muhammad bin Abi Bakar
Pagi itu, Imam Ali a.s. telah tiba di tempat berkumpulnya pasukan.
Tanah di antara Kufah dan Hirah terbentang di hadapannya. Ke sanalah beliau memerintahkan orang-orang datang, menyiapkan keberangkatan untuk menolong saudara-saudara mereka di Mesir.
Ali menunggu.
Matahari meninggi. Waktu bergerak menuju tengah hari.
Seorang pun belum datang.
Jauh di Mesir, seorang pemuda sedang menghadapi pasukan yang terus mendekat. Namanya Muhammad bin Abi Bakar—anak yang tumbuh dalam asuhan Ali, yang kini mempertahankan wilayah pemerintahannya.
Di antara keduanya terbentang jarak yang panjang.
Dan waktu yang semakin sedikit.
⸻
Enam ribu pasukan bergerak menuju Mesir di bawah pimpinan Amr bin Ash. Ketika mereka mencapai wilayah itu, kelompok-kelompok yang menentang pemerintahan Ali bergabung memperbesar kekuatan mereka.
Ancaman datang kepada Muhammad melalui sepucuk surat.
Amr mendesaknya meninggalkan Mesir. Ia menyatakan bahwa orang-orang akan menyerahkan Muhammad ketika kedua pasukan berhadapan.
Muhammad meneruskan surat ancaman itu kepada Ali, bersama permohonan bantuan pasukan dan perbekalan.
Jawaban sang Imam datang membawa perintah yang tegas:
“Engkau menyebutkan bahwa sebagian orang di sekitarmu mulai melemah. Janganlah engkau melemah meskipun mereka melemah.”
Beliau memerintahkannya memperkuat pertahanan, menghimpun para pendukung, dan mengirim Kinanah bin Bisyr menghadapi musuh.
“Aku sedang mengerahkan orang-orang untuk menolongmu.”
Kalimat itu menghubungkan dua tempat yang berjauhan: seorang pemuda yang bertahan di Mesir, dan seorang Imam yang sedang berjuang menggerakkan orang-orang di Irak.
Muhammad mengenal orang yang menulis kepadanya.
Setelah ayahnya wafat, ibunya, Asma binti Umais, menikah dengan Ali. Muhammad tumbuh dalam rumah beliau. Di sanalah hubungan mereka berakar, jauh sebelum pemerintahan, peperangan, dan surat-surat yang kini membawa kabar buruk.
Anak dalam asuhan itu telah menjadi seorang pemimpin.
Dan Ali sedang berusaha menyelamatkannya.
⸻
Di Kufah, orang-orang dipanggil berkumpul.
Ali menyampaikan permohonan pertolongan dari Mesir. Beliau menjelaskan bahwa saudara-saudara mereka sedang diserang, lalu menyerukan agar bantuan segera diberangkatkan.
“Bersegeralah menolong dan membantu mereka!”
Beliau menetapkan tempat pertemuan untuk keesokan harinya.
Tetapi pagi yang dijanjikan itu berlalu dalam penantian.
Hingga tengah hari, tempat tersebut tetap kosong.
Ali kembali ke Kufah.
Sore harinya, para pemuka dipanggil menghadap. Beliau menegur mereka dengan keras: mengapa seruannya tidak dijawab, mengapa perintahnya tidak ditaati, sementara musuh bergerak memasuki negeri dan menyerang saudara-saudara mereka?
Di hadapan mereka berdiri seorang pemimpin yang telah menunjukkan jalan.
Orang-orang yang seharusnya menempuh jalan itu terus menunda langkah.
⸻
Di Mesir, Kinanah bin Bisyr maju bersama dua ribu orang. Muhammad berada bersama dua ribu lainnya.
Amr mengirim pasukannya menghadapi Kinanah, satu kesatuan menyusul kesatuan berikutnya.
Kinanah menyambut serangan itu.
Pasukannya menerjang, memukul mundur lawan hingga mendekati kedudukan Amr. Serangan datang lagi. Kinanah kembali melawan. Berkali-kali barisan yang dikirim untuk menghancurkannya dipaksa surut.
Amr kemudian meminta bantuan Muawiyah bin Hudaij, komandan sekutunya di Mesir.
Pasukan tambahan datang dalam jumlah besar.
Lingkaran pengepungan menutup dari segala penjuru.
Kinanah turun dari kudanya. Para pengikutnya ikut turun. Di hadapan kekuatan yang mengepung mereka, ia melafalkan firman Allah:
“Tidaklah seseorang akan mati kecuali dengan izin Allah, pada waktu yang telah ditentukan.”
Lalu ia kembali bertempur.
Pedangnya terus bergerak sampai ia gugur.
Berita kematian Kinanah mencapai barisan Muhammad. Orang-orang mulai meninggalkannya. Pertahanan yang semula dibangun bersama runtuh ketika pasukannya tercerai-berai.
Muhammad akhirnya berjalan meninggalkan tempat itu, lalu berlindung di sebuah bangunan yang telah rusak di tepi jalan.
Amr memasuki Fustat.
Sementara itu, pasukan Muawiyah bin Hudaij mencari Muhammad.
Seorang yang pernah melihatnya menunjukkan tempat persembunyiannya.
Mereka mendatanginya dan membawanya keluar.
Muhammad hampir mati kehausan.
⸻
“Berilah aku air.”
Permintaan itu ditolak.
Di hadapannya berdiri orang-orang bersenjata. Muhammad telah kehilangan pasukan dan kebebasannya, tetapi ia masih menjawab ancaman mereka.
“Demi Allah, seandainya pedangku berada di tanganku, kalian tidak akan dapat memperlakukanku seperti ini.”
Muawiyah bin Hudaij mengancam akan membakar tubuhnya.
Muhammad menjawab dengan harapan kepada Allah: semoga api itu dijadikan sejuk dan keselamatan baginya, sebagaimana Allah menyelamatkan Ibrahim.
Kemudian ia dibunuh.
Setelah pembunuhan itu, jasadnya dimasukkan ke dalam bangkai keledai dan dibakar.
Pemuda yang pernah tumbuh dalam asuhan Ali telah syahid jauh dari rumahnya.
⸻
Di Irak, pengerahan bantuan akhirnya menghasilkan sekitar dua ribu orang di bawah pimpinan Malik bin Ka‘b.
Mereka berangkat.
Namun, ketika pasukan itu masih dalam perjalanan, kabar dari Mesir mencapai Ali.
Muhammad bin Abi Bakar telah terbunuh.
Seorang pembawa berita dari Syam juga menyampaikan apa yang disaksikannya: kabar kemenangan dan kematian Muhammad telah disambut dengan kegembiraan besar.
Ali menjawab:
“Sesungguhnya kesedihan kami atas dirinya sebanding dengan kegembiraan mereka atas kematiannya—bahkan berlipat-lipat lebih besar.”
Perintah dikirim untuk memanggil pulang pasukan bantuan.
Perjalanan mereka berakhir sebelum sempat memberikan pertolongan.
Ali kemudian menghadap rakyatnya. Beliau mengumumkan bahwa Muhammad telah syahid dan menyerahkan kehilangan itu kepada Allah.
Lalu beliau mengingatkan mereka: seruan untuk menolong saudara-saudara mereka telah disampaikan berulang kali. Mereka terus berlambat-lambat, sampai keadaan mencapai akhir yang menyakitkan.
Tanah tempat Ali menunggu pagi itu kini terasa seperti saksi.
Pernah ada waktu untuk datang.
Pernah ada kesempatan untuk berangkat.
⸻
Kepada Abdullah bin Abbas, Ali menulis tentang jatuhnya Mesir dan kesyahidan Muhammad.
Dalam surat itu, beliau mengenangnya sebagai:
“Seorang anak yang tulus dan setia, seorang pejabat yang bekerja keras, pedang yang tajam, dan penopang yang melindungi.”
Kemudian beliau menuliskan perjuangannya mengerahkan pertolongan:
“Aku telah mendorong orang-orang agar menyusulnya dan memerintahkan mereka menolongnya sebelum pertempuran. Aku menyeru mereka secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, berulang kali.”
Ada yang datang dengan enggan. Ada yang mengajukan alasan dusta. Ada yang tetap duduk dan membiarkan pertolongan terbengkalai.
Di Mesir, api telah menghanguskan jasad Muhammad.
Di dalam surat Ali, namanya tetap disebut dengan kasih seorang ayah:
“Seorang anak yang tulus dan setia.”

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Catatan sumber:
alur ini mengikuti rangkaian riwayat Abu Mikhnaf dalam Tarikh al-Tabari, peristiwa tahun 38 H. Surat penutup terdapat dalam Nahj al-Balaghah, Surat 35.
Latar keluarga Asma tercatat dalam Siyar A‘lam al-Nubala’. Suasana sajikan dengan pengembangan kata sesuai riwayat; ucapan diterjemahkan menurut maknanya.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1J6bBTAcFb/

