10 October 2026

Rumah yang Bersaksi

Rumah itu berdiri megah di tepi kota, menatap langit dengan atap-nya yang menjulang seperti tangan yang terbuka dalam doa. Empat puluh tiang penyangga berukir, halaman yang bisa menampung seratus kuda, dan sebuah pintu besar yang dibuka setiap Jumat untuk siapa saja yang lapar.

Pemiliknya, seorang sahabat karib Imam Ali, membangunnya bukan untuk pamer, melainkan karena Allah telah memberi, dan ia ingin memberi kembali.

Namun malam itu, tiang-tiang itu seakan menangis.

Sang Ayah duduk di serambi, menatap kekosongan di hadapannya. Di seberang, di kamar remaja yang jendelanya menghadap barat, anaknya menulis surat penolakan. Surat yang isinya bukan kemarahan, melainkan sesuatu yang lebih menusuk: “Ayah, rumah ini terlalu berisik. Terlalu besar dan mewah. Aku ingin hidup sederhana, seperti para sufi. Aku ingin jiwa yang bebas, bukan dinding marmer yang menutupiku dari langit.”

Sang Ayah membaca ulang surat itu. Bukan marah yang ia rasakan, melainkan kehilangan. Anaknya menolak bukan rumahnya, melainkan dunianya. Ia mengelus janggut putihnya, lalu berkata pada diri sendiri: “Aku butuh seseorang yang bisa berbicara pada bahasa hatinya, bukan pada logikaku.”

Keesokan pagi, langit masih merah muda ketika sesosok tubuh berjubah sederhana melangkah masuk gerbang. Imam Ali tidak membawa pengawal. Ia membawa waktu.

Remaja itu membuka pintu. Matanya melebar, lalu menunduk malu. Di hadapannya berdiri sosok yang ia baca setiap malam dalam kitab-kitab, yang ia sebut dalam doa-doa diamnya. Bukan karena takut, melainkan karena malu telah menjadi penghormatan tersendiri.

“Kau menulis surat yang bagus,” kata Imam Ali, suaranya seperti air mengalir di atas bebatuan. “Tapi izinkan aku bertanya: apakah kau menolak rumah ini, atau kau menolak takut menjadi seperti orang-orang yang kau lihat hidup mewah lalu lupa?”

Remaja terdiam. Jari-jarinya mencengkeram kusen pintu.

“Karena,” lanjut Imam Ali, melangkah perlahan ke halaman, “kalau takutnya yang kau tolak, maka lari dari rumah ini bukan keberanian. Itu hanya… pindah takut ke tempat lain.”

Mereka berjalan bersama menyusuri halaman.

Bunga-bunga yang ditanam ayahnya bermekaran indah. Di sebuah bangku batu, mereka duduk. Imam Ali menatap remaja itu dengan lembut, seperti menatap api yang baru menyala—bisa menerangi, bisa membakar.

“Di Kufah, ada seorang pemuda seperti dirimu,” kata Imam Ali. “Ia meninggalkan istana ayahnya, tinggal di gubuk.

Setahun kemudian, aku menemuinya. Kau tahu apa yang ia katakan? ‘Saya pikir kemewahan yang membuat saya rusak. Ternyata, kemiskinan juga bisa membuat saya sombong—sombong karena merasa lebih suci dari mereka yang punya rumah besar.'”

Remaja menggigit bibirnya. Angin pagi membawa harum melati dari seberang tembok.

“Rumah ini,” Imam Ali mengangkat tangannya, menunjuk ke arah bangunan megah itu, “bukan penjara kecuali kau yang menguncinya dari dalam. Tapi bayangkan: setiap Jumat, seratus orang duduk di halaman ini, perut lapar mereka diisi, hati hampa mereka diisi doa.

Bayangkan malam-malam Ramadhan, di ruang tengah itu, orang-orang yang tak punya tempat pulang menemukan saudara.

Bayangkan saat kau mati nanti—bukan marmer yang akan bersaksi untukmu, tapi berapa banyak sujud yang pernah terjadi di lantai rumahmu.”

Imam Ali berhenti. Ia menatap mata remaja itu, mencari sesuatu.

“Kekayaan bukan dosa, nak. Dosa adalah ketika kita memiliki sesuatu dan tidak tahu untuk apa.

Sebatang pohon di hutan tidak berdosa karena tinggi. Ia berdosa jika tingginya tidak memberi naungan pada siapa pun.”

Remaja menunduk. Air mata jatuh, bukan karena kalah, melainkan karena sesuatu yang keras di dadanya tiba-tiba meleleh. Ia melihat rumah itu lagi—bukan sebagai simbol kemewahan yang memalukan, melainkan sebagai kesempatan yang belum ia mengerti.

“Jadi,” bisiknya, “bukan rumahnya yang salah?”

“Bukan.” Imam Ali tersenyum. “Yang salah adalah hati yang menganggap miliknya miliknya sendiri. Rumah ini bukan milik ayahmu. Ini titipan. Dan sekarang, ayahmu butuh seseorang yang mengerti itu untuk meneruskan penitipannya.”

Malam itu, remaja itu menulis surat lagi. Kali ini, untuk ayahnya.

“Ayah. Aku salah. Bukan rumah ini yang terlalu besar, melainkan hatiku yang terlalu kecil untuk memahami fungsinya. Besok, izinkan aku yang menyambut tamu-tamu Jumat. Izinkan aku yang menyapu lantai ruang tengah setelah majelis doa.

Biarkan aku yang memastikan rumah ini tidak hanya megah, tapi juga bersaksi.”

Sang Ayah membaca surat itu di serambi yang sama. Kali ini, tiang-tiang rumah tidak menangis. Mereka diam, seolah mendengar.

Di luar, bulan purnama bersinar di atas atap yang menjulang. Seorang lelaki tua dan seorang remaja berjalan berdampingan menyusuri halaman, membicarakan bagaimana menyusun kursi untuk majelis minggu depan, berapa banyak hidangan yang harus disiapkan, dan doa-doa apa yang akan dibaca untuk tetangga yang baru kehilangan anaknya.

Rumah itu masih megah. Tapi kini, megahnya punya makna.

Setiap kita, pada suatu waktu, pernah menjadi remaja itu—menolak sesuatu bukan karena paham, melainkan karena takut terlihat tidak saleh. Kita lari dari jabatan karena menganggapnya kotor, padahal yang kotor mungkin hati yang memegangnya. Kita menolak kekayaan karena menganggapnya racun, padahal racun itu bukan pada benda, melainkan pada ketidaktahuan kita akan fungsinya.

Imam Ali tidak mengajarkan bahwa kemewahan adalah kebaikan. Ia mengajarkan sesuatu yang lebih dalam: segala sesuatu di dunia ini netral, sampai hati kita yang memberinya arah. Rumah besar bisa menjadi penjara kesombongan, atau bisa menjadi masjid terbuka. Jabatan bisa menjadi alat penindasan, atau bisa menjadi tanggung jawab pengabdian. Bahkan kemiskinan bisa menjadi kebanggaan palsu, jika kita menggunakannya untuk merasa lebih suci dari yang lain.

Yang membedakan bukan apa yang kita miliki, melainkan untuk apa kita memilikinya.

Jadi, jika suatu hari hidup memberimu sesuatu yang besar—entah rumah, entah ilmu, entah pengaruh—jangan buru-buru menolaknya karena takut dicap duniawi. Tanyakan pada diri sendiri:

Bisa kah ini menjadi naungan bagi orang lain?

Bisa kah ini menjadi saksi yang berpihak pada kebaikan?

Karena pada akhirnya, kita tidak akan ditanya seberapa sederhana hidup kita. Kita akan ditanya: seberapa bermanfaat?

Dan rumah—rumah apa pun—barulah benar-benar hidup ketika dinding-dindingnya menyimpan doa, bukan debu kesombongan.

Kisah menjelang

Hasyim Arsal Alhabsi 
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/1DkAksiQ1h/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us