11 October 2026

Teks Doa Kumail

> مِنْ سُوءِ فِعْلِي وَإِسَاءَتِي

Min sū’i fi‘lī wa isā’atī.

“Akibat keburukan perbuatanku dan tindakan burukku.”

Penggalan ini menjelaskan perbuatan-perbuatan dalam kesendirian yang disebut pada kalimat sebelumnya.

Tema utama

Dosa bukan sekadar pelanggaran yang tercatat. Ia merupakan perbuatan buruk yang meninggalkan bekas pada pelaku, manusia lain, hubungan sosial, dan kejernihan hati. Karena itu, taubat juga harus menyentuh akibat yang ditimbulkannya.

Ungkapan sū’u fi‘lī wa isā’atī memperkuat pengakuan seorang hamba. Ia tidak lagi menggunakan kata-kata yang memperkecil kesalahan. Ia menyebut perbuatannya buruk dan mengakui adanya tindakan yang membawa kerusakan.

Sebagian dosa terutama merusak diri sendiri. Sebagian lainnya menyebarkan luka kepada manusia lain. Pengampunan Allah sangat luas, tetapi keluasan itu tidak membebaskan seseorang dari kewajiban memperbaiki akibat perbuatannya sejauh masih mampu dilakukan.

Ayat Al-Qur’an

  1. QS Fussilat 41:46

> مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

“Barang siapa melakukan kebaikan, manfaatnya kembali kepada dirinya; dan barang siapa melakukan keburukan, akibatnya menimpa dirinya. Tuhanmu tidak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya.”

Dosa mungkin tampak menguntungkan sesaat, tetapi ia meninggalkan kerugian pada jiwa yang memilihnya.

  1. QS Az-Zalzalah 99:7–8

> فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barang siapa melakukan kebaikan seberat zarah, ia akan melihatnya. Dan barang siapa melakukan keburukan seberat zarah, ia akan melihatnya.”

Tidak ada kebaikan yang benar-benar hilang dan tidak ada keburukan yang menjadi tidak berarti hanya karena manusia menganggapnya kecil.

  1. QS Asy-Syura 42:40

> وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

“Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Namun barang siapa memaafkan dan melakukan perbaikan, pahalanya berada di sisi Allah.”

Ayat ini mengingatkan bahwa kesalahan menimbulkan hak untuk memperoleh keadilan, sedangkan pemaafan yang disertai perbaikan mempunyai kedudukan mulia di sisi Allah.

Riwayat Ahlul Bait

Dalam nasihat yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin Ali as kepada putranya disebutkan:

> يَا بُنَيَّ اجْعَلْ نَفْسَكَ مِيزَانًا فِيمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ غَيْرِكَ

فَأَحْبِبْ لِغَيْرِكَ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ

وَاكْرَهْ لَهُ مَا تَكْرَهُ لَهَا

وَلَا تَظْلِمْ كَمَا لَا تُحِبُّ أَنْ تُظْلَمَ

“Wahai putraku, jadikanlah dirimu sebagai ukuran dalam hubunganmu dengan orang lain. Cintailah bagi orang lain apa yang engkau cintai bagi dirimu, bencilah bagi mereka apa yang engkau benci bagi dirimu, dan janganlah menzalimi sebagaimana engkau tidak ingin dizalimi.”

Teks ini terdapat dalam Nahj al-Balaghah, Surat 31 menurut penomoran sumber yang dirujuk.

Kerangka pembahasan

  1. Pengakuan tanpa bahasa yang memperkecil kesalahan.
  2. Setiap perbuatan membentuk keadaan batin pelakunya.
  3. Sebagian keburukan juga meninggalkan luka pada orang lain.
  4. Dosa kecil yang terus diulang dapat membangun watak buruk.
  5. Taubat mencakup penghentian dosa dan pemulihan kerusakan.
  6. Kebaikan menjadi jalan mengganti jejak buruk dengan jejak yang diridai Allah.

Pembuka syarah

Tidak semua luka mengeluarkan darah.

Ada luka yang tertinggal dalam kepercayaan yang telah rusak, harga diri yang direndahkan, nama yang dicemarkan, dan hati yang menjadi takut karena perlakuan seseorang. Pelakunya mungkin telah melupakan peristiwa itu, tetapi orang lain masih hidup bersama bekasnya.

Doa Kumail tidak mengizinkan manusia menyamarkan semuanya dengan kata “kekhilafan”. Ia mengajarkan pengakuan yang jernih:

> “Akibat keburukan perbuatanku dan tindakan burukku.”

Ada keberanian ruhani ketika seseorang berhenti memperindah kesalahannya. Ia tidak lagi berkata, “Aku hanya bercanda,” ketika canda itu merendahkan.
Ia tidak berkata, “Aku sedang marah,” untuk membenarkan kekasaran. Ia tidak berlindung di balik niat baik ketika caranya telah menzalimi manusia.

Ia berani menyebut keburukan sebagai keburukan.

Setiap perbuatan meninggalkan sesuatu di dalam jiwa. Kebaikan yang terus dilakukan memudahkan kebaikan berikutnya. Sebaliknya, keburukan yang diulang membuat hati semakin pandai mencari pembenaran.

Pada mulanya seseorang merasa gelisah setelah menyakiti. Kemudian ia mulai menyalahkan korbannya. Pada akhirnya, ia tidak lagi melihat dirinya sebagai pelaku kesalahan, tetapi sebagai orang yang selalu mempunyai alasan.

Karena itu, taubat tidak hanya menghapus catatan. Taubat mematahkan pola batin yang melahirkan keburukan.

Jika dosa itu hanya menyangkut hubungan seorang hamba dengan Allah, ia harus kembali kepada-Nya dengan penyesalan dan perubahan. Namun jika dosa itu melukai manusia, permohonan ampun harus disertai usaha memulihkan: mengembalikan hak, meluruskan kebohongan, meminta maaf dengan jujur, atau menerima konsekuensi yang adil.

Tidak semua luka dapat dipulihkan sepenuhnya. Tidak semua orang yang disakiti berkewajiban kembali mempercayai pelakunya.
Taubat memberi kewajiban kepada pelaku untuk memperbaiki diri, tetapi tidak memberinya hak menuntut korban segera melupakan semuanya.

Doa ini mendidik kita agar tidak hanya bertanya, “Apakah Allah akan mengampuniku?”

Kita juga harus bertanya, “Apa yang telah dilakukan keburukanku terhadap diriku dan terhadap manusia lain—dan apa yang masih dapat kuperbaiki?”

Sebab taubat yang matang tidak hanya menangisi masa lalu.

Ia berusaha agar masa depan tidak lagi membawa luka yang sama.

Doa kumail

Hasyim Arsal Alhabsi 
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/1AtjQKEJog/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us