Jauh dari Madinah, di sebuah lembah kering bernama Wadi al-Yabis, dua belas ribu penunggang kuda berkumpul.
Mereka bukan pasukan yang sedang mempertahankan kampungnya.
Mereka datang membawa sumpah.
Di hadapan berhala-berhala mereka, para lelaki itu berjanji tidak akan pulang sebelum berhasil membunuh dua manusia:
Muhammad dan Ali.
Mereka tahu, untuk memadamkan Islam, Muhammad harus dibunuh.
Namun mereka juga tahu, selama Ali masih hidup, jalan menuju Muhammad tidak akan pernah terbuka.
Berita tentang persekutuan itu sampai ke Madinah.
Rasulullah SAW segera menyiapkan pasukan. Empat ribu kaum Muhajirin dan Anshar dikumpulkan. Abu Bakar diberi panji dan diperintahkan bergerak menuju Wadi al-Yabis.
Pesannya jelas:
Serulah mereka kepada Islam. Jika mereka menolak dan memilih menyerang, hadapi mereka.
Pasukan bergerak.
Namun ketika sampai di mulut lembah, dua ratus prajurit musuh muncul dari balik bebatuan. Mereka datang bukan untuk menyerah, melainkan untuk menebar ketakutan.
Mereka berkata dengan pongah:
“Kembalilah. Kami tidak menginginkan kalian. Yang kami inginkan adalah Muhammad dan saudaranya, Ali!”
Abu Bakar melihat jumlah mereka.
Ia melihat tebing-tebing curam yang dikuasai musuh.
Ia melihat jalan sempit yang dapat berubah menjadi perangkap kematian.
Lalu ia memerintahkan pasukan kembali ke Madinah.
Sebagian tentaranya mengingatkan:
“Rasulullah memerintahkan kita menghadapi mereka!”
Namun keputusan telah dibuat.
Pasukan pulang tanpa kemenangan.
Madinah belum sempat melepaskan kecemasannya ketika Rasulullah kembali menyiapkan pasukan. Kali ini Umar bin Khattab membawa panji menuju lembah yang sama.
Tetapi hasilnya tidak berbeda.
Jalan telah diawasi.
Musuh bersembunyi di balik batu dan pepohonan.
Ketika pasukan Muslim mulai memasuki lembah, mereka disergap dan dipukul mundur.
Umar pun kembali ke Madinah.
Dalam salah satu rangkaian riwayat, seorang komandan lain—disebut ‘Amr bin Ash, sementara versi lain menyebut Khalid bin Walid—juga menawarkan kecerdikan perangnya.
Ia pun berangkat.
Dan ia pun kembali tanpa kemenangan.
Hari-hari berlalu.
Ancaman terhadap Madinah belum berakhir.
Musuh masih berada di lembah.
Sumpah untuk membunuh Rasulullah dan Ali masih menggantung di udara.
Kemudian Rasulullah SAW memanggil seorang lelaki.
Bukan lelaki yang pandai menjelaskan mengapa sebuah benteng mustahil ditembus.
Bukan pula orang yang akan kembali membawa berita tentang banyaknya musuh.
Beliau memanggil orang yang apabila telah menerima perintah, hanya mengenal dua kemungkinan:
kemenangan atau kesyahidan.
Rasulullah memanggil Ali bin Abi Thalib.
Panji Islam diserahkan ke tangannya.
Dalam riwayat Syekh al-Mufid, sebelum berangkat Ali pulang menemui Sayyidah Fathimah az-Zahra.
Ia meminta ikat kepala khusus yang biasa dikenakannya ketika akan menghadapi pertempuran dahsyat.
Fathimah memandangnya.
“Ke mana Ayah mengutusmu?”
“Ke lembah berpasir di Wadi al-Yabis.”
Fathimah mengetahui apa yang menunggu suaminya di sana.
Pasukan besar.
Jalan sempit.
Tebing-tebing penuh penyergap.
Dan ribuan lelaki yang telah bersumpah membunuh Muhammad dan Ali.
Air matanya jatuh.
Saat itulah Rasulullah memasuki rumah.
“Mengapa engkau menangis?” tanya beliau. “Apakah engkau takut suamimu akan terbunuh? Insya Allah, itu tidak akan terjadi.”
Ali justru bertanya:
“Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menginginkan aku gugur sebagai syahid lalu masuk surga?”
Tidak terdengar sedikit pun ketakutan dari suaranya.
Ali mengikatkan ikat kepala itu.
Ia mengenakan selendang Yaman di bahunya.
Ia menaiki kudanya.
Tombak terangkat di tangannya.
Rasulullah mengantarnya hingga keluar Madinah, lalu berdoa:
“Ya Allah, aku telah mengutus seorang pejuang yang tidak pernah melarikan diri dari pertempuran. Maka tolonglah dia dan berilah dia kemenangan.”
Ali membawa pasukannya berangkat.
Tetapi ia tidak mengambil jalan biasa.
Ia tidak melewati jalur yang telah membuat pasukan-pasukan sebelumnya mudah terlihat.
Ali membawa pasukannya ke arah yang seolah menjauhi Wadi al-Yabis.
Sebagian orang mulai gelisah.
Mereka mengira Ali tersesat.
Mereka berbisik bahwa jalur itu dipenuhi binatang buas, jurang, dan bebatuan tajam. Beberapa orang berusaha membujuk pasukan agar menolak mengikuti Ali.
Ali menghentikan kudanya.
Ia menoleh kepada mereka dan berkata:
“Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, hendaklah mengikuti aku. Siapa yang hendak menentang Allah dan Rasul-Nya, silakan mengambil jalan yang ia kehendaki.”
Semua terdiam.
Pasukan kembali bergerak.
Ali melakukan sesuatu yang tidak dilakukan para komandan sebelumnya.
Mereka berjalan pada malam hari.
Ketika matahari terbit, mereka bersembunyi di celah-celah pegunungan.
Malam berikutnya mereka kembali bergerak.
Tidak ada obor besar.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada kilatan pasukan yang mudah terlihat dari kejauhan.
Ketika mereka semakin dekat dengan musuh, Ali memerintahkan agar mulut kuda-kuda ditutup supaya ringkikannya tidak membangunkan para penjaga lembah.
Ribuan kaki kuda melangkah dalam kegelapan.
Napas para penunggang ditahan.
Pedang-pedang masih berada di dalam sarungnya.
Wadi al-Yabis tidur dalam kesombongannya.
Mereka yakin tidak seorang pun berani datang lagi setelah beberapa pasukan kembali tanpa kemenangan.
Mereka tidak tahu bahwa malam itu, Ali telah berada di depan pintu mereka.
Menjelang fajar, pasukan berhenti.
Ali memimpin salat.
Langit masih gelap ketika salam terakhir terucap.
Kemudian tangan Ali meraih pedangnya.
Panji diangkat.
Kuda-kuda yang sejak tadi ditahan mulai menghentakkan kaki.
Matahari belum sepenuhnya muncul ketika suara Ali memecah lembah:
“Allahu Akbar!”
Pasukan menyerbu.
Kuda-kuda melesat sambil terengah-engah.
Tapalnya menghantam batu hingga memercikkan api.
Debu gurun mengepul ke langit.
Barisan Muslim menerobos langsung ke tengah pasukan musuh sebelum mereka sempat menyusun pertahanan.
Wadi al-Yabis yang sebelumnya menelan keberanian para penyerang, pagi itu bergetar oleh derap kuda Ali.
Musuh yang pernah berteriak hendak membunuh Muhammad dan Ali kini melihat sendiri lelaki yang mereka cari berdiri di hadapan mereka.
Ali memperkenalkan dirinya:
“Aku adalah Ali bin Abi Thalib—saudara dan putra paman Rasulullah.”
Mereka mengancam akan membunuhnya.
Ali menjawab:
“Apakah kalian hendak menakutiku dengan banyaknya jumlah kalian? Aku bersandar kepada pertolongan Allah.”
Pertempuran pecah.
Para pendekar mereka maju satu demi satu.
Dan satu demi satu tumbang di hadapan Ali.
Barisan musuh menjadi kacau.
Pasukan yang semalam merasa tidak mungkin dikalahkan kini berlarian di tengah debu. Pertahanan mereka runtuh. Sumpah mereka dipatahkan sebelum matahari naik sempurna.
Pada pagi yang sama, jauh di Madinah, Rasulullah SAW mengimami salat Subuh.
Dalam tradisi Ahlul Bait, pada saat itulah beliau membacakan surah yang baru diturunkan:
“Demi kuda-kuda perang yang berlari terengah-engah.
Dan kuda-kuda yang mencetuskan api dengan pukulan kukunya.
Dan kuda-kuda yang menyerang pada waktu pagi.
Lalu menerbangkan debu.
Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh.”
—QS al-‘Adiyat: 1–5
Orang-orang Madinah belum menerima seorang pun pembawa berita.
Belum ada pasukan yang kembali.
Belum ada utusan yang datang mengabarkan kemenangan.
Namun Rasulullah telah mengetahui:
Ali telah menang.
Beberapa hari kemudian, debu tampak mengepul di kejauhan.
Pasukan Ali kembali ke Madinah.
Rasulullah keluar menyambut mereka bersama kaum Muslim. Mereka berdiri dalam dua barisan, menunggu sang pemenang.
Ketika Ali melihat Rasulullah, ia segera turun dari kudanya.
Rasulullah pun turun.
Beliau memeluk Ali.
Beliau membersihkan debu dari wajahnya.
Beliau mencium keningnya.
Lalu Rasulullah menangis.
Bukan karena Ali terluka.
Bukan karena pasukannya kalah.
Beliau menangis sambil bersyukur kepada Allah yang telah menguatkan perjuangannya melalui Ali.
Dalam riwayat itu, Rasulullah berkata:
“Naiklah kembali ke tungganganmu, wahai Ali. Allah dan Rasul-Nya telah ridha kepadamu.”
Mata Ali pun dipenuhi air mata.
Kemudian Rasulullah mengucapkan kalimat yang kedahsyatannya melampaui suara peperangan:
“Seandainya aku tidak khawatir sebagian umatku akan mengatakan tentang dirimu seperti yang dikatakan kaum Nasrani tentang Isa, niscaya akan kukatakan sesuatu tentangmu yang membuat manusia mengambil debu bekas telapak kakimu untuk memperoleh berkah.”
Itulah Ali.
Ketika orang lain kembali membawa alasan, ia kembali membawa kemenangan.
Ketika orang lain melihat gelapnya jalan, ia menjadikan kegelapan sebagai selimut bagi pasukannya.
Ketika orang lain gentar mendengar jumlah musuh, ia berkata bahwa pertolongan Allah tidak pernah dihitung dengan jumlah manusia.
Khaibar mengabadikan pintu yang diangkat Ali.
Khandaq mengabadikan pendekar yang ditumbangkan Ali.
Tetapi Wadi al-Yabis mengabadikan sesuatu yang lain:
derap kudanya.
Derap yang begitu dahsyat hingga dalam tradisi Ahlul Bait, Allah bersumpah dengannya di dalam Al-Qur’an.
Malam itu Ali bergerak tanpa suara.
Namun ketika fajar tiba, langitlah yang menceritakan langkahnya.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Catatan sejarah:
Kisah ini mengikuti khazanah riwayat Syiah tentang ekspedisi Wadi al-Yabis atau Dzat as-Salasil, yang dinukil melalui karya-karya seperti Tafsir Ali bin Ibrahim al-Qummi, Syekh al-Mufid, Syekh al-Tusi, al-Tabarsi, dan kemudian dihimpun al-Majlisi dalam Hayat al-Qulub. Rangkaian lengkapnya dapat dibaca dalam “Battle of Zatul Salasil”. Pengaitan Surah al-‘Adiyat dengan ekspedisi Imam Ali merupakan tradisi tafsir Ahlul Bait; literatur lain memiliki penjelasan berbeda mengenai sebab turunnya surah tersebut.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1EsbJtBPZd/

