Tema ini dipilih karena merangkum seluruh permasalahan penting dalam kehidupan, yaitu bagaimana seorang ayah memberikan pesan-pesan hidup mendasar kepada putranya.
1. Latar Belakang Historis & Keagungan Wasiat dalam Kitab Nahjul Balaghah
- Sumber & Struktur Kitab:
- Wasiat ini termaktub dalam surat ke-31 dari kitab Nahjul Balaghah yang dihimpun oleh Sayyid Razi.
- Kitab Nahjul Balaghah terbagi menjadi tiga bagian utama: Al-Khutab (ceramah-ceramah), Ar-Rasa’il (surat-surat), dan Qishar al-Hikam (kata-kata mutiara pendek). Wasiat ini berada pada bagian Ar-Rasa’il.
- Kedudukan Surat:
Surat ini merupakan surat terpanjang kedua dalam Nahjul Balaghah setelah surat instruksi pemerintahan kepada Malik al-Ashtar. Para penelaah menyebutkan bahwa seandainya Imam Ali AS hanya meninggalkan dua surat ini saja, hal itu sudah cukup untuk merangkum seluruh pelajaran penting dari beliau. - Kondisi & Tempat Penulisan:
- Wasiat ini ditulis di sebuah tempat bernama Hadhirain (di antara Syam dan Irak) saat perjalanan pulang sepulang dari Perang Shiffin.
- Perang Shiffin adalah salah satu peristiwa paling menyedihkan bagi Imam Ali AS karena merupakan perang saudara antarsesama muslim yang dipaksakan oleh Muawiyah pasca-Perang Jamal.
- Korban Perang Jamal menelan sekitar 30.000 jiwa, sedangkan Perang Shiffin menelan hingga 80.000 korban jiwa dan berlangsung berbulan-bulan.
- Peperangan yang sudah di ambang kemenangan dihentikan secara sepihak akibat tipu daya pengangkatan mushaf Al-Qur’an di atas tombak (Tahkim) oleh pihak Marwan bin Hakam dan Muawiyah.
- Peristiwa ini memicu lahirnya kelompok Khawarij dan timbulnya fitnah besar, bahkan sebagian pasukan membelot dan mengancam akan membunuh Imam Ali AS meskipun Malik al-Ashtar sudah mengingatkan bahwa kemenangan tinggal sedikit lagi.
- Di tengah kondisi hati yang remuk dan sedih atas gugurnya puluhan ribu umat Islam, Imam Ali AS tetap menunjukkan keagungan jiwa dengan sanggup menuliskan wasiat yang sangat mendalam tentang ketaqwaan, akhlak, dan hakikat kehidupan lahir-batin.
- Penerima Wasiat & Gaya Bahasa:
- Wasiat ini dialamatkan kepada putra beliau, Imam Hasan bin Ali AS.
- Menanggapi adanya sebutan dalam wasiat yang terkesan menyikapi penerima seperti manusia biasa (seperti “hamba dunia” atau “terkapar oleh syahwat”), Ayatullah Nasir Makarim Shirazi menjelaskan bahwa hal ini sama sekali tidak bertentangan dengan maqom kesucian (ismah) Imam Hasan AS.
- Dalam wasiat ini, Imam Ali AS bertindak mewakili seluruh sosok ayah, sementara Imam Hasan AS mewakili seluruh sosok anak.
Gaya bahasa ini menyerupai Al-Qur’an (seperti peringatan bahaya syirik pada QS. Az-Zumar: 65 yang ditujukan kepada Nabi SAW), di mana objek yang diajak bicara adalah pribadi mulia, tetapi tujuannya adalah sebagai peringatan bagi seluruh umat.
- Keabsahan Sanad: Wasiat ini tercatat dan diakui baik dalam literatur Syiah (seperti Nahjul Balaghah, Al-Kafi, dan Tuhaf al-Uqul) maupun literatur Ahlussunnah (seperti Al-‘Aqd al-Farid karya Ibnu Abdi Rabbih).
2. Bedah Mukadimah (Preambul) Surat Wasiat
Mukadimah wasiat ini menggambarkan perbandingan mendalam antara kepribadian sang Ayah (pengirim) dan kondisi sang Anak/manusia pada umumnya (penerima):
Sifat-Sifat Pengirim (Imam Ali AS sebagai Ayah):
- Minal walidil fan:
Dari seorang ayah yang fana dan sebentar lagi akan memasuki alam fana. - Al-muqirri liz-zaman:
Yang mengakui dan tunduk pada perjalanan waktu/zaman yang terus berputar. Manusia yang berpacu di atas tunggangan malam dan siang sebenarnya terus berjalan menuju akhirat meskipun ia dalam keadaan berhenti atau tidur.
Perjalanan zaman senantiasa berubah-ubah, penuh suka-duka, dan tak terduga (seperti fenomena pandemi). - Al-mudbiri/mundziri lil-‘umur:
Yang usianya terus berkurang dan berada pada fase menuju terbenamnya kehidupan (di atas usia 60 tahun). - Al-mustaslimi lid-dunya:
Yang berserah/menghadapi kenyataan hukum-hukum duniawi (seperti kenyataan adanya pengkhianatan, peperangan, dan kebatilan di dunia). - As-sakini masakinal mauta:
Yang menempati hunian tempat tinggal orang-orang yang telah meninggal dunia dari generasi terdahulu.
Bahkan barang fana seperti perhiasan emas yang dipakai hari ini bisa jadi merupakan leburan emas yang pernah dipakai oleh orang-orang yang telah wafat puluhan generasi sebelumnya. - Wa dhain ‘anha ghadan:
Dan esok atau dalam waktu dekat akan pergi meninggalkan dunia ini untuk menjadi orang yang mati pula.
Pesan Utama:
Menyadarkan bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sementara, sehingga tidak boleh dijadikan sebagai tujuan utama kehidupan.
Sifat-Sifat Penerima (Anak / Karakter Manusia pada Umumnya):
- Ilal maulud:
Ditujukan kepada seorang anak. - Al-mu’ammili ma la yudrak:
Yang memiliki angan-angan panjang melebihi batas jangkauan umur dan kemampuannya di dunia. - As-saliki sabila man halak:
Yang sedang menempuh jalan orang-orang yang telah binasa. - Gharadhil asqam:
Tempat hinggap berbagai penyakit, baik penyakit fisik maupun penyakit batin (seperti iri hati, kesombongan, keangkuhan, dan ujub). - Rahinatil ayyam:
Yang tergadaikan dan terikat oleh batasan hitungan hari-hari. - Marmiyatil mashaib:
Sasaran empuk bagi datangnya berbagai musibah. - Adbid dunya:
Hamba atau budak kehidupan dunia. - Tajiri ghurur:
Pedagang barang-barang tipuan fana. - Gharimi maut / Asiril maut:
Pihak yang berutang dan menjadi tawanan kematian, yang pada waktunya pasti akan ditagih oleh Malaikat Maut (Izrail). - Halifil humum & Qarinil ahzan:
Sosok yang seolah telah terikat janji setia dengan duka/penderitaan batin (ham) dan kesedihan akibat faktor luar (huzn). - Nushubil afat:
Target dari berbagai petaka dan bencana. - Shari’is syahawat:
Sosok yang sering terkapar kalah dalam pergulatan melawan dorongan syahwat dan dosa. - Khalifatil mauta:
Penerus dari generasi orang-orang yang telah meninggal dunia.
3. Intisari Pelajaran Mukadimah & Penutup Sesi
- Peta Orientasi Diri:
Penjabaran mukadimah ini bertujuan membakar kesadaran agar manusia tidak keliru menyusun prioritas dan agenda kehidupannya di dunia. - Prioritas Perbaikan:
Proses perbaikan dan nasihat wajib dimulai dari perbaikan diri sendiri dan keluarga terlebih dahulu (sesuai tuntunan QS. At-Tahrim: 6 dan QS. Al-Ma’idah: 105) sebelum sibuk meluruskan orang lain. - Peringatan dari Sifat Lalai:
Manusia sering kali sibuk mencari dan meneliti aib orang lain tetapi lupa pada kekurangan diri sendiri, sebagaimana peribahasa “gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak”. - Penutup Kajian Bagian 1:
Pembahasan pada sesi kajian ini dicukupkan hingga selesainya penjelasan mukadimah wasiat, sementara rincian poin-poin isi wasiat utama akan dilanjutkan pada sesi kajian bagian berikutnya.

Bersama Ustadz Abdillah Baabud
Video sumber: ALQURBA TV
LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :
https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

