10 October 2026

KETIKA KULIT SUNNAH MENUTUPI RUHNYA

Oleh Ustadz Hadi al-Hadi

Pada bagian pertama kita sampai pada satu kesimpulan: Rasulullah SAW adalah nikmat petunjuk terbesar yang Allah hadirkan kepada manusia.

Lalu bagaimana cara mensyukuri nikmat itu?

Jawabannya tentu bukan hanya dengan memuji beliau. Syukur kepada Rasulullah SAW harus bergerak dari pujian menuju ittiba’—dari menyebut namanya menuju mengikuti jalannya.

Namun di sinilah persoalan baru muncul.

Mengikuti Rasulullah SAW pun dapat berhenti pada kulit. Manusia memegang benda yang pernah beliau gunakan, meniru kebiasaan lahiriahnya, memperdebatkan bentuknya, tetapi kehilangan tujuan moral yang hendak beliau hidupkan.

Ada pertanyaan sederhana yang dapat membuka cara berpikir kita:

Mana yang lebih sunnah, membersihkan gigi dengan siwak atau dengan sikat gigi?

Sebagian orang akan segera menjawab: siwak.

Jawaban itu tidak sepenuhnya salah. Rasulullah SAW memang menggunakan dan menganjurkan siwak. Memakainya dengan niat mengikuti beliau tentu merupakan kebaikan.

Namun pertanyaan berikutnya lebih penting:

Apakah seseorang yang menggunakan sikat gigi telah meninggalkan sunnah meskipun mulutnya lebih bersih dan kesehatannya lebih terjaga?
Sebaliknya, apakah seseorang telah sempurna mengikuti sunnah hanya karena membawa siwak, sementara kebersihan mulutnya tidak diperhatikan?

Di sinilah kita perlu membedakan antara bentuk, sarana, dan tujuan.

Siwak adalah alat yang digunakan Rasulullah SAW pada ruang dan zamannya. Kebersihan mulut, kesucian, dan kenyamanan orang yang berdekatan dengan kita adalah nilai yang hendak beliau jaga.

Seseorang dapat mempertahankan bentuk sekaligus mencapai tujuannya. Itu sangat baik.

Seseorang lain dapat menggunakan alat yang berbeda dan tetap mencapai tujuan yang sama. Itu pun tidak bertentangan dengan akal sehat dan ajaran agama.

Yang menyedihkan adalah ketika seseorang mempertahankan alat, tetapi kehilangan tujuannya; memegang simbol sunnah sambil mengabaikan nilai yang dilambangkan oleh simbol tersebut.

Di situlah kulit sunnah mulai menutupi ruhnya.

Kita perlu mengingat kembali bahwa kufur, pada akar maknanya, adalah menutup. Pada bagian pertama, kita membicarakan hati yang menutup nilai sebuah nikmat.
Dalam persoalan sunnah, penutupan itu dapat terjadi secara lebih ironis: bentuk sunnah justru dipergunakan untuk menutupi tujuan sunnah.

Orang merasa telah mengikuti Rasulullah SAW karena meniru bagian yang mudah terlihat, lalu tidak merasa perlu memeriksa bagian yang jauh lebih penting tetapi tidak dapat difoto: kejujuran, keadilan, kesabaran, kebersihan hati, dan kasih sayang.

Hal yang sama berlaku ketika orang memperdebatkan makan dengan tangan atau menggunakan sendok.

Makan dengan tangan dapat menjadi baik dan penuh adab. Menggunakan sendok pun tidak otomatis menjauhkan seseorang dari Rasulullah SAW.

Pertanyaan moralnya bukan hanya alat apa yang dipakai.

Apakah tangan atau alat itu bersih?

Apakah makanannya diperoleh secara halal?

Apakah kita mengingat Allah?

Apakah kita makan tanpa berlebihan?

Apakah ada orang lapar di sekitar kita sementara makanan di atas meja dibuang begitu saja?

Kadang-kadang kita sangat bersemangat memperdebatkan makan dengan tiga jari, tetapi tidak gelisah melihat tiga keluarga tidak mempunyai makanan.

Kita menjaga cara tangan menyentuh nasi, tetapi tidak memeriksa bagaimana tangan itu memperoleh uang untuk membelinya.

Kita mempersoalkan sendok orang lain, tetapi tidak mempersoalkan hak orang lain yang mungkin berada di dalam piring kita.

Bentuknya dibicarakan. Ruhnya ditinggalkan.

Namun ini bukan seruan untuk membuang bentuk dan mengatasnamakan esensi.

Agama mempunyai ibadah yang tata caranya ditetapkan oleh wahyu. Jumlah rakaat salat, waktu puasa, tata cara wudu, dan manasik haji tidak boleh diubah hanya karena seseorang merasa telah menemukan “makna yang lebih dalam”.

Tidak seorang pun boleh mengatakan bahwa esensi salat adalah mengingat Allah, lalu mengganti salat Subuh dengan meditasi sepuluh menit.

Bentuk yang ditetapkan wahyu merupakan bagian dari ketaatan. Dalam perkara seperti itu, tunduk kepada bentuk adalah bagian dari ruh penghambaan. Kita melakukannya bukan karena semua rahasianya telah kita pahami, melainkan karena Allah memerintahkannya.

Akan tetapi, tidak seluruh perkara duniawi berada dalam kategori yang sama.

Dalam urusan sarana, teknologi, pakaian, kebiasaan masyarakat, metode pendidikan, dan alat kehidupan, manusia diberi ruang untuk mengembangkan cara selama tidak melanggar prinsip yang telah ditetapkan Allah.

Mencampuradukkan kedua wilayah ini melahirkan dua ekstrem.

Ekstrem pertama membekukan seluruh sarana seakan-akan menjadi Muslim berarti memindahkan kehidupan kembali ke Jazirah Arab abad ketujuh.

Ekstrem kedua membuang seluruh bentuk dan menganggap niat baik sudah cukup untuk menggantikan syariat.

Keduanya kehilangan keseimbangan.

Jalan yang sehat adalah menjaga bentuk ketika bentuk itu ditetapkan oleh wahyu, serta menemukan ruh ketika bentuk itu merupakan sarana menuju nilai.

Rasulullah SAW tidak pernah menggunakan mikrofon. Namun tidak masuk akal mengatakan bahwa menyampaikan ceramah melalui mikrofon bertentangan dengan sunnah.

Beliau tidak pernah mencetak mushaf dengan mesin modern. Namun mushaf cetak telah membantu jutaan manusia membaca Al-Qur’an.

Beliau tidak menggunakan proyektor, pengeras suara, aplikasi digital, mobil, ataupun pesawat. Akan tetapi, seluruh alat itu dapat menjadi jalan kebaikan atau keburukan bergantung pada isi, tujuan, dan cara penggunaannya.

Tidak setiap alat baru membutuhkan teks hadis yang menyebut namanya satu per satu.

Pertanyaannya bukan, “Apakah benda ini pernah dipakai Rasulullah SAW?”

Pertanyaan yang lebih jernih adalah:

“Apakah penggunaannya bertentangan dengan larangan Allah? Apakah ia membawa maslahat atau kerusakan? Apakah ia mengantarkan manusia kepada tujuan yang dibenarkan syariat?”

Akal tidak diciptakan untuk menyaingi wahyu. Akal diberikan agar manusia memahami, mengikat, dan menerapkan petunjuk wahyu pada kenyataan yang terus berubah.

Tanpa akal, teks dapat dicabut dari konteks lalu dijadikan senjata.

Tanpa wahyu, akal dapat dikuasai hawa nafsu lalu menamai keinginannya sendiri sebagai kebenaran.

Karena itu, mengikuti Rasulullah SAW membutuhkan dua kesetiaan sekaligus: setia kepada ketentuan yang beliau bawa dan setia kepada tujuan moral yang beliau hidupkan.

Perhatikan sunnah menyayangi anak yatim.

Mengusap kepala anak yatim adalah tindakan yang indah. Gerakan tangan itu menjadi bahasa kasih sayang. Namun apabila kita berhenti pada gerakannya, sunnah dapat berubah menjadi pertunjukan.

Bayangkan seorang anak yatim didatangi banyak orang pada satu hari tertentu. Mereka bergantian mengusap kepalanya, berfoto, mengunggahnya ke media sosial, kemudian pulang.

Keesokan harinya anak itu kembali menghadapi biaya sekolah sendirian. Ia kembali memikirkan makanan, pakaian, pendidikan, dan masa depannya.

Apakah sunnah telah selesai hanya karena semua tangan sudah bergerak?

Anak yatim tidak hanya membutuhkan tangan yang melintas di atas kepalanya. Ia membutuhkan rasa aman, pendidikan, makanan, perlindungan, masa depan, dan kehormatan.

Mengusap kepala adalah pintu. Kasih sayang adalah rumah yang harus dimasuki melalui pintu itu.

Ada kisah tentang seorang ulama yang datang ke tempat rekreasi bersama putranya. Ketika mengetahui bahwa tempat itu dipenuhi anak-anak yatim, ia meminta putranya agar tidak memanggilnya “Ayah” di depan mereka.

Bukan karena ia menolak anaknya.

Ia sedang menjaga hati anak-anak yang tidak lagi mempunyai ayah.

Ia memahami bahwa suara seorang anak memanggil “Ayah” dapat menyentuh luka yang tidak terlihat. Maka ia menahan sesuatu yang sebenarnya halal baginya agar tidak menambah kesedihan orang lain.

Itulah sunnah yang telah berubah menjadi akhlak.

Ia tidak menunggu kamera. Ia tidak membutuhkan tepuk tangan. Ia bekerja di wilayah batin: membayangkan apa yang dirasakan orang lain, lalu menahan diri agar tidak menambah sakitnya.

Allah berfirman:

«“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang indah bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.”

(QS al-Ahzab [33]: 21)»

Teladan tidak berarti sekadar katalog benda yang pernah dipakai Rasulullah SAW.

Teladan adalah pola jiwa.

Bagaimana beliau bersikap ketika berkuasa.

Bagaimana beliau menghadapi penghinaan.

Bagaimana beliau memperlakukan orang lemah.

Bagaimana beliau bertahan ketika lapar.

Bagaimana beliau menegakkan keadilan.

Bagaimana beliau menahan pembalasan ketika musuh berada dalam kekuasaannya.

Jika seseorang mengenakan pakaian yang dianggap paling menyerupai Nabi, tetapi lisannya gemar melukai, bagian manakah dari Nabi yang sebenarnya sedang ia ikuti?

Jika seseorang sibuk menghitung panjang janggut orang lain, tetapi tidak menghitung berapa banyak hak manusia yang telah ia ambil, apakah ia sedang menjaga sunnah atau menjaga citra dirinya sendiri?

Jika seseorang sangat keras dalam persoalan penampilan, tetapi curang dalam perdagangan, kasar kepada istri, menakutkan bagi anak-anaknya, dan merendahkan orang miskin, sunnah apakah yang sedang ia perjuangkan?

Kulit memang mudah terlihat dan mudah difoto.

Ruh tidak terlihat dan sulit dipamerkan.

Karena itu, manusia sering memilih kulit.

Memegang siwak hanya memerlukan beberapa menit. Menahan amarah memerlukan perjuangan bertahun-tahun.

Mengenakan pakaian tertentu dapat dilakukan dengan uang. Memaafkan musuh memerlukan kelapangan jiwa.

Mengubah penampilan dapat dilakukan di depan cermin. Mengubah watak memerlukan keberanian untuk bercermin ke dalam diri.

Padahal sunnah mencapai kemuliaannya justru ketika ia masuk ke dalam akhlak.

Al-Qur’an mengingatkan:

«“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur atau barat. Namun kebajikan ialah beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab dan para nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, orang yang meminta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya; mendirikan salat, menunaikan zakat, menepati janji, serta bersabar dalam kesempitan, penderitaan, dan peperangan.”

(QS al-Baqarah [2]: 177)»

Ayat ini tidak membatalkan kiblat dan tidak meremehkan bentuk ibadah.

Ayat ini mengingatkan bahwa kebajikan tidak boleh dipenjarakan dalam satu gerakan lahiriah. Menghadap kiblat harus melahirkan keberpihakan kepada kebenaran.
Salat harus melahirkan kepedulian. Iman harus terlihat dalam kejujuran, kesabaran, kesetiaan terhadap janji, dan pembelaan kepada yang lemah.

Bentuk tidak dibuang. Bentuk ditembus hingga mencapai makna.

Rasulullah SAW tidak diutus untuk mendirikan museum abad ketujuh. Beliau diutus untuk menyucikan manusia.

Benda-benda yang beliau gunakan mempunyai nilai sejarah dan cinta. Menjaga peninggalannya adalah bentuk penghormatan. Namun misi beliau jauh lebih besar daripada benda-benda tersebut.

Beliau datang agar yang kasar menjadi lembut, yang zalim menjadi adil, yang sombong menjadi tunduk, yang kikir menjadi dermawan, dan yang tercerai-berai menjadi saudara.

Betapa menyedihkan apabila benda yang pernah dipakai Nabi kita muliakan, tetapi manusia yang diperintahkan Nabi untuk dihormati justru kita hinakan.

Kita mencium peninggalannya, tetapi melukai keturunannya.

Kita membela pakaiannya, tetapi meninggalkan akhlaknya.

Kita memperebutkan simbol-simbolnya, tetapi tidak gelisah ketika keadilan yang dibawanya diinjak-injak.

Itulah kufur yang tersembunyi di balik penampilan syukur.

Nikmat risalah tetap diucapkan, tetapi tujuan risalah ditutup.

Maka jangan meremehkan bentuk. Bentuk dapat menjaga ingatan.

Namun jangan menyembah bentuk. Bentuk adalah pintu menuju makna.

Jangan membuang tradisi hanya karena ia tua; periksa hikmah yang dikandungnya.

Tetapi jangan pula membekukan tradisi hanya karena diwarisi; periksa apakah ruhnya masih hidup.

Syukur kepada Rasulullah SAW bukanlah mengubah kehidupannya menjadi benda pameran. Syukur adalah membiarkan cahaya kehidupannya mengubah kehidupan kita.

Sunnah yang sejati membuat kehadiran kita semakin bersih, semakin aman, semakin jujur, semakin adil, dan semakin penuh kasih.

Jika setelah merasa paling sunnah orang lain justru semakin takut kepada kita, mungkin yang kita bawa bukan cahaya sunnah.

Mungkin itu hanyalah bayang-bayang ego yang mengenakan pakaiannya.

HAA Menembus Simbol Menuju Akhlak

(Diolah dan ditulis ulang oleh: 
Hasyim Arsal Alhabsi, Dehills Institute)

—

Artikel sumber: https://www.facebook.com/share/p/1RmjtNRQ3F/ 

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us