10 October 2026

(Diolah dan dikembangkan dari ceramah Ustadz Hadi Al-Hadi)

Bab I

Duka Bulan Safar dan Mazlumiyah Rasulullah SAW

Ada bulan-bulan yang datang membawa kegembiraan. Ada pula bulan-bulan yang dalam ingatan orang beriman terasa seperti membawa kembali luka sejarah.
Muharram dan Safar, dalam tradisi Ahlul Bait, termasuk di antara bulan-bulan yang sarat dengan duka itu.

Peristiwa-peristiwa besar yang terjadi sepanjang Muharram dan Safar bukan sekadar catatan kronologis dalam kitab sejarah. Ia menyimpan air mata, kehilangan, pengkhianatan, keteguhan, dan darah manusia-manusia suci.
Karena itulah dalam tradisi kecintaan kepada Ahlul Bait berkembang suatu adab budaya: menahan diri dari pesta dan perayaan berlebihan sepanjang masa duka tersebut.

Muharram mengingatkan kita kepada Karbala dan syahadah Imam Husain as beserta keluarga dan para sahabatnya.
Safar membawa kita menyusuri kelanjutan penderitaan keluarga Nabi, perjalanan para tawanan Ahlul Bait, dan pada penghujungnya mengenang wafat junjungan seluruh alam, Rasulul A‘zham Muhammad SAW.

Dua bulan ini seakan meminta manusia beriman untuk tidak tergesa-gesa bergembira sebelum terlebih dahulu bersedia mendengar suara sejarah.

Sebab ada luka yang tidak boleh disembuhkan dengan cara melupakannya.

Dan di antara luka terbesar itu adalah mazlumiyah Rasulullah SAW sendiri.

Dalam sebuah ungkapan yang masyhur dinisbatkan kepada beliau:

«مَا أُوذِيَ نَبِيٌّ مِثْلَ مَا أُوذِيتُ

Mā ūdziya nabiyyun mitsla mā ūdzītu.»

“Tidak ada seorang nabi pun yang disakiti sebagaimana aku disakiti.”

Kalimat ini menggambarkan satu kenyataan yang sangat dalam. Rasulullah SAW bukan hanya manusia paling agung dalam kedudukan spiritual, tetapi juga manusia yang harus menanggung ujian luar biasa besar dalam perjalanan risalahnya.

Ada hukum kehidupan yang sering kali sulit dipahami: semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula ujian yang mengiringinya.

Orang yang berenang di permukaan laut hanya merasakan tekanan yang kecil. Tetapi semakin dalam ia menyelam, semakin besar tekanan air yang menekan tubuhnya.

Demikian pula orang yang mendaki gunung. Semakin tinggi ia naik, semakin tipis udara dan semakin keras angin yang menerpanya.

Maka jika Rasulullah SAW berada di puncak kemuliaan manusia, tidak mengherankan apabila ujian yang beliau terima juga mencapai tingkat yang tidak dialami manusia biasa.

Beliau kehilangan orang-orang yang paling dicintainya.

Beliau dicaci, difitnah, dihina, dilempari batu, diusir dari tanah kelahirannya, diboikot, diperangi, dituduh sebagai penyihir, pendusta, bahkan orang gila.

Beliau menyaksikan sahabat-sahabatnya dibunuh.

Beliau melihat pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib, gugur dan tubuhnya diperlakukan secara keji.

Beliau menjalani kehidupan yang seluruhnya hampir tidak pernah benar-benar bebas dari tekanan.

Namun barangkali ada satu bentuk mazlumiyah Rasulullah yang lebih sunyi daripada semua itu: keterasingan beliau di dalam ingatan umatnya sendiri.

Rasulullah SAW adalah manusia yang paling banyak disebut namanya. Setiap hari miliaran kali umat Islam mengucapkan syahadat. Nama beliau disebut dalam azan, iqamah, shalat, doa, khutbah, dan majelis.

Tetapi sebuah pertanyaan sederhana patut direnungkan:

Seberapa banyak umat Islam mengetahui kapan Rasulullah SAW wafat?

Pertanyaan itu terlihat sederhana, tetapi jawabannya dapat terasa sangat menyakitkan.

Sebab ketika seseorang benar-benar mencintai seseorang, biasanya ada dua tanggal yang melekat kuat dalam ingatannya: hari kelahiran dan hari kepergiannya.

Kita mengingat hari kelahiran orang tua.

Kita mengingat hari wafat ayah atau ibu.

Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, tanggal itu tetap mempunyai daya untuk menggerakkan hati. Begitu ia datang, kenangan kembali terbuka. Wajah yang telah lama pergi seakan muncul kembali di hadapan kita.

Mengapa?

Karena cinta mempunyai ingatan.

Orang yang mencintai tidak hanya mengenal nama. Ia mengenal perjalanan hidup orang yang dicintainya.

Karena itu cukup mengherankan ketika kita menemukan bahwa umat Islam begitu besar memberikan perhatian kepada hari lahir Rasulullah SAW, tetapi perhatian yang sama tidak selalu diberikan kepada hari wafat beliau.

Lebih ironis lagi, dalam masyarakat Muslim kita mengenal tradisi haul.

Kata haul dalam bahasa Arab berarti satu tahun. Dalam tradisi masyarakat, ia kemudian digunakan untuk menyebut peringatan tahunan wafat seseorang.

Kita mengenal haul para ulama.

Kita mengenal haul para wali.

Kita mengetahui tanggal wafat guru-guru besar.

Di beberapa tempat bahkan terdapat tradisi memperingati haul Nabi Hud as di Yaman. Ribuan orang datang dari berbagai negeri untuk mengenang seorang nabi yang hidup ribuan tahun silam.

Semua itu tentu merupakan ekspresi kecintaan yang patut dihormati.

Tetapi justru di sinilah sebuah pertanyaan menjadi semakin tajam:

Jika tanggal wafat para ulama dan wali kita ingat, mengapa tanggal wafat Rasulullah SAW justru begitu samar dalam kesadaran banyak kaum Muslim?

Bukankah beliau pemimpin seluruh nabi?

Bukankah melalui beliaulah Al-Qur’an sampai kepada kita?

Bukankah melalui beliaulah kita mengenal Allah, shalat, puasa, zakat, haji, dan seluruh bangunan Islam?

Bukankah tanpa beliau kita bahkan tidak mengenal kalimat:

«Lā ilāha illallāh?»

Namun ketika pertanyaan sederhana diajukan:

“Kapan Rasulullah SAW wafat?”

banyak orang menjawab:

12 Rabiul Awal.

Di sinilah persoalan sejarah menjadi menarik sekaligus penting untuk direnungkan.

Dalam pembahasan sebelumnya telah disinggung satu kejanggalan yang patut dipikirkan. Jika benar Rasulullah SAW lahir dan wafat pada tanggal yang sama—12 Rabiul Awal—maka kita berhadapan dengan satu paradoks emosional yang cukup besar.

Tanggal itu setiap tahun dipenuhi kegembiraan.

Masjid dihias.

Shalawat dikumandangkan.

Makanan dibagikan.

Orang-orang bergembira memperingati kelahiran Nabi.

Tetapi apabila pada tanggal yang sama Rasulullah SAW juga wafat, maka hari itu sekaligus merupakan hari kehilangan terbesar umat Islam.

Di titik itu, rasa gembira dan rasa duka bertemu dalam satu hari.

Dan secara manusiawi maupun spiritual, ketika kegembiraan dan kehilangan bertemu, biasanya dukalah yang mempunyai gravitasi lebih kuat.

Bayangkan seorang anak mengetahui bahwa ayahnya dilahirkan dan wafat pada tanggal yang sama. Ketika tanggal itu datang, apakah ia akan membuat pesta kelahiran besar tanpa mengingat bahwa pada hari yang sama ayahnya meninggal?

Sulit membayangkannya.

Sebab kematian seseorang yang sangat dicintai meninggalkan ruang kosong yang jauh lebih dalam daripada kegembiraan mengenang hari kelahirannya.

Karena itu, tradisi Ahlul Bait memiliki pembacaan sejarah yang berbeda.

Dalam tradisi ini, wafat Rasulullah SAW diperingati pada 28 Safar, bukan 12 Rabiul Awal.

Tanggal tersebut ditempatkan pada penghujung masa duka yang bermula sejak Muharram.

Dan apabila kita mengikuti kronologi ini, terdapat satu hal yang sangat menarik: wafat Rasulullah SAW terjadi hanya sekitar dua setengah bulan setelah peristiwa besar di Ghadir Khumm.

Artinya, jarak antara Ghadir dan wafat Rasulullah SAW sangat pendek.

Di Ghadir, Rasulullah berhenti di tengah perjalanan pulang dari Haji Wada’. Para jamaah yang telah berjalan lebih dahulu diminta kembali. Mereka yang tertinggal ditunggu. Di bawah panas padang pasir, beliau menyampaikan pesan yang sangat penting kepada umat.

Lalu hanya beberapa minggu kemudian, kesehatan Rasulullah mulai menurun.

Dan dari Ghadir hingga wafatnya beliau, sejarah bergerak dengan sangat cepat.

Ada perintah.

Ada kegelisahan.

Ada ketegangan.

Ada ekspedisi Usamah.

Ada peristiwa-peristiwa di Madinah.

Ada pesan-pesan terakhir Rasulullah SAW.

Ada sejumlah kejadian yang kelak menjadi bahan diskusi panjang dalam sejarah Islam.

Karena itu, mempelajari hari-hari terakhir Rasulullah bukan sekadar membicarakan kapan seorang nabi wafat.

Kita sedang membaca salah satu periode paling menentukan dalam sejarah Islam.

Di sanalah nasib umat setelah Rasulullah mulai mengambil bentuk.

Dan mungkin justru karena itu kita perlu kembali kepada pertanyaan yang paling sederhana:

Mengapa wafat Rasulullah tidak mendapatkan tempat sebesar kelahirannya dalam kesadaran umat?

Pertanyaan ini bukan dimaksudkan untuk mengurangi kecintaan kepada Maulid Nabi.

Tidak.

Mencintai kelahiran Rasulullah adalah sesuatu yang indah. Dunia memang layak bergembira ketika Muhammad SAW lahir.

Tetapi cinta yang utuh tidak hanya bergembira ketika kekasih datang.

Cinta juga menangis ketika kekasih pergi.

Di sinilah kita mulai memahami makna mazlumiyah Rasulullah.

Mazlumiyah tidak selalu berbentuk batu yang dilemparkan ke tubuh beliau di Thaif.

Tidak selalu berbentuk pedang kaum Quraisy.

Tidak selalu berupa caci maki Abu Lahab.

Ada bentuk mazlumiyah yang jauh lebih sunyi.

Yaitu ketika seorang Nabi dicintai namanya, tetapi sejarah hidupnya tidak sungguh-sungguh dipelajari.

Ketika shalawat kepada beliau dilantunkan setiap hari, tetapi pesan-pesan terakhirnya tidak ditelusuri.

Ketika kelahirannya dirayakan dengan begitu meriah, tetapi hari wafatnya hampir tidak dikenal.

Seakan Rasulullah dekat di bibir, tetapi jauh dari ingatan sejarah.

Bayangkan seseorang yang begitu mencintai ayahnya.

Ia mengetahui tanggal kelahiran ayahnya.

Ia mengetahui hari wafatnya.

Setiap tahun, ketika tanggal itu tiba, ia membaca doa. Ia mengingat nasihat sang ayah. Ia membuka kembali foto-foto lama. Ia mengenang percakapan-percakapan yang pernah terjadi.

Bukan karena ia menyembah ayahnya.

Tetapi karena ia mencintainya.

Lalu bagaimana dengan Rasulullah SAW?

Beliau bukan ayah biologis kita.

Tetapi melalui beliaulah kita mengenal iman.

Melalui beliau kita mengenal Al-Qur’an.

Melalui beliau kita mengetahui jalan menuju Allah.

Melalui beliau kita mengenal makna rahmat, keadilan, kesabaran, pengampunan, dan pengorbanan.

Jika orang tua adalah sebab keberadaan jasad kita di dunia, maka Rasulullah SAW adalah salah satu sebab utama sampainya cahaya iman kepada jiwa kita.

Maka mengetahui hari kepergian beliau seharusnya bukan persoalan mazhab.

Ia adalah persoalan cinta.

Dan cinta selalu mempunyai rasa ingin tahu.

Seseorang yang mencintai Nabi mestinya ingin mengetahui bagaimana beliau hidup.

Bagaimana beliau berjuang.

Apa yang beliau pesankan.

Siapa yang berada di dekat beliau pada hari-hari terakhir.

Apa yang terjadi menjelang wafatnya.

Dan bagaimana umat memperlakukan pesan-pesan beliau setelah beliau pergi.

Karena itu, membicarakan wafat Rasulullah bukan berarti sekadar membuka kembali kesedihan masa lalu.

Sebaliknya, ia adalah usaha untuk membuka kembali kesadaran kita sendiri.

Barangkali Rasulullah tidak membutuhkan air mata kita.

Beliau telah berada dalam kemuliaan yang Allah anugerahkan kepadanya.

Kitalah yang membutuhkan air mata itu.

Sebab air mata adalah salah satu cara hati mengakui bahwa ada sesuatu yang terlalu berharga untuk dilupakan.

Di penghujung bulan Safar, kita tidak hanya mengenang wafat seorang manusia.

Kita mengenang berakhirnya masa ketika wahyu berjalan di tengah manusia.

Suara yang selama lebih dari dua puluh tahun menyampaikan:

“Qālallāh…” — Allah berfirman…

akhirnya terdiam.

Mata yang memandang umat dengan rahmat itu tertutup.

Tubuh yang berkali-kali berdiri dalam shalat malam itu melemah.

Lisan yang mengajarkan Al-Qur’an berhenti berbicara.

Tetapi pesan beliau tidak pernah berhenti.

Justru di situlah ujian terbesar umat dimulai.

Sebab selama Rasulullah hidup, umat dapat bertanya kepada beliau.

Tetapi setelah beliau wafat, pertanyaannya berubah:

Apakah umat benar-benar akan menjaga apa yang beliau tinggalkan?

Dan di sinilah kisah Nabi yang Mazlum sesungguhnya baru dimulai.

Nabi yg mazlum1

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1EK5V6eE6H/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us