RAHMAT YANG MENOLAK MEMBALAS
Oleh Ustadz Hadi al-Hadi
Hari itu Rasulullah SAW mempunyai semua alasan untuk marah.
Beliau datang ke Thaif membawa ajakan kepada Allah. Yang diterimanya bukan penghormatan, melainkan penolakan dan penghinaan. Beliau telah menawarkan petunjuk, tetapi mereka membalasnya dengan perlakuan yang menyakitkan.
Dalam riwayat sahih yang juga tercatat dalam literatur Sunni, malaikat penjaga gunung datang menawarkan pembalasan. Jika Rasulullah SAW menghendaki, penduduk yang menolaknya dapat dihimpit di antara dua gunung.
Pintu pembalasan terbuka.
Rasulullah SAW menolak.
Beliau justru berharap agar dari keturunan mereka kelak lahir orang-orang yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya.
Perhatikan keluasan jiwa itu.
Pada saat terluka, beliau tidak hanya melihat orang-orang yang sedang menyakitinya. Beliau melihat anak-anak yang belum lahir. Beliau memandang kemungkinan iman yang masih tersembunyi di masa depan.
Kemarahan biasanya menyempitkan pandangan. Ketika disakiti, kita hanya melihat kesalahan yang dilakukan hari ini. Kita ingin orang yang melukai segera merasakan luka yang sama.
Rahmat memperluas pandangan. Ia mampu melihat kemungkinan kebaikan yang baru akan tumbuh puluhan tahun kemudian.
Orang-orang Thaif melihat seorang manusia yang mereka tolak. Rasulullah SAW melihat generasi beriman yang mungkin lahir dari rahim keturunan mereka.
Di situlah kita mulai memahami firman Allah:
«“Kami tidak mengutus engkau, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS al-Anbiya [21]: 107)»
Ayat ini tidak hanya mengatakan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan rahmat.
Beliau diutus sebagai rahmat.
Risalahnya adalah rahmat.
Akhlaknya adalah rahmat.
Kehadirannya adalah rahmat.
Bahkan penolakannya untuk membalas orang yang menyakitinya merupakan rahmat.
Pada bagian pertama kita membicarakan syukur sebagai kemampuan mengenali nikmat. Pada bagian kedua kita membicarakan sunnah yang tidak boleh berhenti pada kulit.
Sekarang pertanyaannya menjadi lebih tajam:
Apa gunanya mengaku mensyukuri kelahiran Rasulullah SAW dan mengikuti sunnahnya apabila orang lain tidak merasakan sedikit pun rahmat dari kehadiran kita?
Kufur terhadap nikmat Nabi tidak selalu berbentuk penolakan terhadap kerasulannya. Ada bentuk kufur yang lebih tersembunyi: menyebut namanya, tetapi menutupi sifat utama risalahnya.
Kita meneriakkan nama Nabi Rahmat, tetapi berbicara dengan kebencian.
Kita mengaku membela kehormatannya, tetapi merendahkan kehormatan manusia.
Kita menyatakan cinta kepadanya, tetapi menjadikan orang lain takut kepada agama yang dibawanya.
Nama Nabi digunakan. Namun rahmatnya ditutup oleh kemarahan kita sendiri.
Allah berfirman:
«“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”
(QS al-A‘raf [7]: 156)»
Kita tidak dapat memandang zat Allah. Kita mengenal-Nya melalui nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, ayat-ayat-Nya, serta tindakan-Nya di dalam kehidupan.
Dalam perjalanan manusia, Rasulullah SAW adalah mazhar paling sempurna bagi rahmat itu: cermin paling jernih yang memantulkan kasih Ilahi ke dalam sejarah.
Tentu kata mazhar harus dijaga di dalam batas tauhid.
Rasulullah SAW bukan Tuhan yang menjelma. Beliau bukan bagian dari zat Allah. Beliau adalah hamba dan utusan-Nya.
Justru karena penghambaan beliau sempurna, ego pribadi tidak menghalangi cahaya kehendak Ilahi. Ketika memaafkan, beliau memperlihatkan bagaimana ampunan Allah membentuk watak manusia. Ketika berlaku adil, beliau memperlihatkan bagaimana keadilan Allah harus ditegakkan di bumi.
Cermin tidak menjadi matahari. Namun melalui cermin yang jernih, cahaya matahari dapat kita lihat dan rasakan.
Al-Qur’an melukiskan kasih Rasulullah SAW dengan bahasa yang hampir dapat kita rasakan:
«“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kalanganmu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami. Ia sangat menginginkan kebaikan bagimu; dan kepada orang-orang beriman ia sangat penyantun lagi penyayang.”
(QS al-Tawbah [9]: 128)»
Penderitaan umat terasa berat bagi beliau.
Bukan hanya penderitaan orang saleh, orang kaya, atau orang yang selalu patuh. Beliau mencemaskan manusia yang bahkan belum menyadari bahaya yang sedang mendekatinya.
Orang tua memahami sedikit dari perasaan ini.
Seorang anak sedang demam. Anak itu akhirnya tertidur, tetapi ibunya tidak dapat memejamkan mata sepanjang malam. Sang anak mungkin tidak mengetahui betapa gelisah orang tuanya. Ia tidur dengan tenang, sementara ibunya berkali-kali memeriksa suhu tubuhnya.
Demikian pula umat sering tidak mengetahui betapa Rasulullah SAW menginginkan keselamatan mereka.
Kata harishun ‘alaikum menggambarkan keinginan beliau yang sangat kuat agar kebaikan sampai kepada kita.
Seorang ibu memasak makanan kesukaan anaknya. Namun karena anaknya sedang jauh, ia tidak dapat menikmati hidangan itu secara utuh. Di tengah kelezatan makanan, ia berkata dalam hati, “Seandainya anakku ada di sini.”
Rasulullah SAW menginginkan nikmat iman dan keselamatan sampai kepada umatnya dengan cinta yang jauh melampaui perumpamaan tersebut.
Beliau tidak hanya memikirkan orang-orang yang hidup bersamanya. Cintanya menembus zaman, menjangkau manusia yang belum lahir, termasuk kita yang menyebut namanya berabad-abad kemudian.
Namun rahmat tidak boleh disalahpahami sebagai kelemahan.
Orang yang tidak mempunyai kemampuan membalas lalu berkata, “Saya memaafkan,” mungkin hanya sedang memberi nama indah kepada ketidakmampuannya.
Rasulullah SAW memaafkan ketika mempunyai kuasa.
Pada Fathu Makkah, beliau memasuki kota sebagai pemenang. Orang-orang yang dahulu mengusir, menyiksa pengikutnya, merampas harta mereka, dan memeranginya kini berada di bawah kekuasaannya.
Seandainya beliau mengadakan pesta balas dendam, sejarah para penakluk mungkin akan menganggapnya biasa.
Namun yang menonjol justru pengampunan luas.
Di situlah perbedaan antara orang yang hanya mampu mengalahkan musuh dan manusia yang mampu mengalahkan dirinya sendiri.
Kekuatan tertinggi bukanlah kemampuan menghancurkan lawan.
Kekuatan tertinggi adalah kemampuan menundukkan keinginan untuk menghancurkan ketika nasib lawan berada di dalam genggaman.
Membalas saat mampu membalas adalah sesuatu yang biasa.
Menahan pembalasan ketika kita mempunyai kekuasaan adalah kemuliaan.
Namun sekali lagi, rahmat tidak berarti meniadakan keadilan.
Rasulullah SAW menegakkan hukum, melindungi orang lemah, menghadapi agresi, dan tidak membiarkan kezaliman merajalela.
Kasih yang membiarkan penindasan bukanlah rahmat. Ia dapat berubah menjadi pengkhianatan terhadap korban.
Memaafkan kesalahan yang dilakukan terhadap diri sendiri adalah kemuliaan. Namun membiarkan orang kuat terus menyiksa orang lemah atas nama kasih sayang bukanlah akhlak Nabi.
Rahmat dan keadilan tidak berlawanan.
Keadilan menjaga agar rahmat tidak berubah menjadi pembiaran. Rahmat menjaga agar keadilan tidak berubah menjadi balas dendam.
Ketika Rasulullah SAW harus bersikap tegas, ketegasannya tidak lahir dari kebencian pribadi. Tujuannya bukan memuaskan amarah, melainkan menghentikan kezaliman, memulihkan kebenaran, dan menyelamatkan manusia dari kerusakan.
Rahmat universal juga tidak berarti semua tindakan dianggap sama.
Al-Qur’an membedakan kebenaran dari kebatilan, keadilan dari kezaliman, kesetiaan dari pengkhianatan.
Namun perbedaan itu tidak memberikan izin kepada kita untuk kehilangan kemanusiaan.
Kita dapat menolak pemikiran tanpa merendahkan martabat orangnya.
Kita dapat tegas terhadap kezaliman tanpa berubah menjadi zalim.
Kita dapat melawan kebatilan tanpa memenuhi hati dengan kebencian.
Kita dapat membela agama tanpa menjadikan agama sebagai pembenaran bagi kemarahan pribadi.
Sebab tidak setiap kemarahan yang memakai ayat berasal dari Allah.
Kadang-kadang seseorang marah karena egonya terluka, lalu mencari dalil agar kemarahannya terlihat suci.
Ia tidak sedang membela Tuhan. Ia sedang membela dirinya sendiri dengan mempergunakan nama Tuhan.
Karena itu, ketika seseorang menggambarkan Islam hanya dengan ancaman, kita patut bertanya:
Di manakah Rasul yang disebut sebagai rahmat bagi seluruh alam?
Ketika ceramah membuat manusia kehilangan harapan kepada Allah, apakah yang disampaikan benar-benar agama Rasulullah SAW, atau hanya kemarahan penceramah yang mengenakan pakaian agama?
Ketika dakwah membuat orang membenci, mencaci, dan merasa dirinya paling suci, apakah cahaya Nabi sedang disampaikan, atau justru ego yang sedang dipertontonkan?
Rasulullah SAW tidak diutus untuk membuat manusia berputus asa dari rahmat Allah.
Beliau diutus untuk membuka jalan pulang.
Ahlul Bait as mewarisi bahasa rahmat ini.
Dalam Doa Makarim al-Akhlaq, Imam Ali Zainal Abidin as tidak sekadar meminta perlindungan dari musuh. Beliau memohon kepada Allah agar mampu membalas orang yang memutus hubungan dengannya dengan menyambung hubungan; membalas orang yang menggunjingnya dengan menyebut kebaikannya; berterima kasih atas kebaikan dan menutup mata dari keburukan.
Perhatikan kedalaman doa itu.
Imam tidak hanya memohon agar Allah mengubah orang lain. Beliau memohon agar Allah mengubah dirinya sehingga keburukan orang lain tidak menentukan akhlaknya.
Ini penting.
Sering kali kita menyerahkan kendali akhlak kepada orang yang kita benci.
Jika ia menghina, kita ikut menghina.
Jika ia memfitnah, kita membalas dengan fitnah.
Jika ia berlaku kasar, kita merasa memperoleh izin untuk menjadi lebih kasar.
Akhirnya musuh tidak hanya melukai kita. Ia berhasil mengubah kita menjadi serupa dengannya.
Rasulullah SAW dan Ahlul Baitnya mengajarkan kemerdekaan yang lebih dalam: jangan biarkan keburukan orang lain menentukan siapa diri kita.
Orang lain boleh melemparkan kebencian. Namun kita tetap memilih dengan apa kita akan membalas.
Itulah kemerdekaan akhlak.
Tidak cukup menyebut Rasulullah SAW sebagai rahmat jika rumah kita tidak merasakan rahmat dari kehadiran kita.
Tidak cukup membela beliau di mimbar jika anak-anak takut mendengar langkah kaki kita pulang.
Tidak cukup meninggikan suara salawat jika pasangan, pekerja, tetangga, dan orang lemah selalu menjadi sasaran kemarahan kita.
Tidak cukup marah ketika Nabi dihina oleh orang lain, sementara kita sendiri setiap hari menghina ajaran beliau melalui perilaku kita.
Ukuran cinta bukan seberapa keras kita meneriakkan namanya.
Ukuran cinta adalah seberapa jauh akhlaknya mengubah cara kita memperlakukan manusia.
Rahmat itu bahkan harus melampaui manusia.
Hewan, tumbuhan, air, dan bumi mempunyai hak dalam risalah yang ditujukan kepada seluruh alam. Alam bukan gudang yang boleh dijarah tanpa batas. Ia adalah amanah.
Seseorang tidak dapat mengaku mengikuti Nabi yang menjadi rahmat bagi seluruh alam sambil menikmati kerusakan yang ditimbulkannya terhadap makhluk lain.
Pada akhirnya, syukur kepada Rasulullah SAW bukan sekadar ucapan. Syukur adalah menghadirkan kembali rahmatnya di tempat kita berada.
Jika kita seorang ayah, keluarga harus merasakan rahmat.
Jika kita seorang guru, murid harus merasakan rahmat.
Jika kita seorang pemimpin, rakyat kecil harus merasakan rahmat.
Jika kita seorang penceramah, orang berdosa sekalipun harus tetap melihat pintu untuk kembali kepada Allah.
Dan jika kita sedang disakiti, belajarlah dari Thaif.
Jangan hanya melihat batu yang datang hari ini. Lihatlah kemungkinan seorang anak yang kelak menemukan Allah karena kita memilih tidak membalas kebencian dengan kebencian.
Cermin Rasulullah SAW tetap jernih.
Jika rahmat itu belum terlihat dalam diri kita, bukan cerminnya yang kehilangan cahaya.
Mungkin hati kitalah yang masih tertutup debu.
Bukalah dengan salawat.
Bersihkan dengan tobat.
Lalu jangan biarkan orang yang menyakiti kita merampas sesuatu yang paling berharga dari diri kita:
Kemampuan untuk tetap menjadi manusia.

(Ditulis ulang oleh Hasyim Arsal Alhabsi, Dehills Institute)
—
Artikel sumber: https://www.facebook.com/share/p/19mtMFN1mF/

