10 October 2026

Khaibar telah menyaksikan kedahsyatan tangan Ali.

Namun dalam perjalanan itu, di sebuah tempat bernama ash-Shahba, manusia akan menyaksikan sesuatu yang jauh lebih sulit dipercaya:

bukan Ali yang mengejar matahari—mataharilah yang kembali untuk Ali.

Hari itu perlahan menuju senja.

Cahaya keemasan menyentuh pegunungan. Bayang-bayang pepohonan semakin panjang. Burung-burung mulai kembali ke sarangnya.

Rasulullah SAW sedang menerima wahyu.

Kepala suci beliau bersandar di pangkuan Ali bin Abi Thalib.

Ali tidak bergerak.

Ia duduk seperti batu yang ditanam ke bumi.

Angin gurun menyentuh wajahnya. Kakinya mulai terasa kaku. Namun ia tidak mengubah posisi sedikit pun.

Sebab di pangkuannya terbaring Rasulullah.

Dan dari langit sedang turun kalam Allah.

Waktu terus berjalan.

Matahari semakin rendah.

Cahaya siang mulai menghilang dari permukaan tanah.

Ali melihat ke arah ufuk. Waktu salat Asar sedang beranjak pergi, sementara Rasulullah masih berada dalam keadaan menerima wahyu.

Ali dapat saja menggerakkan tubuhnya.

Ali dapat saja membangunkan Rasulullah.

Namun bagaimana mungkin ia mengganggu Nabi ketika Jibril sedang turun membawa pesan dari langit?

Maka Ali tetap diam.

Ia menahan tubuhnya.

Menahan kegelisahannya.

Menunggu hingga wahyu selesai.

Matahari menyentuh punggung gunung.

Separuh lingkarannya tenggelam.

Kemudian seluruhnya menghilang.

Langit berubah kemerahan.

Senja turun.

Saat itulah Rasulullah mengangkat kepalanya dari pangkuan Ali.

Beliau menatap wajah sepupunya.

“Wahai Ali, apakah engkau telah menunaikan salat Asar?”

Ali menjawab:

“Belum, wahai Rasulullah. Kepalamu berada di pangkuanku dan engkau sedang menerima wahyu. Aku tidak ingin mengganggumu.”

Ali tidak sedang bermain-main hingga kehilangan waktu salat.

Ia tidak sedang berdagang.

Ia tidak sedang tertidur.

Ia sedang menjaga Rasulullah.

Ia sedang diam dalam ketaatan.

Rasulullah memandang ke arah ufuk yang telah kehilangan mataharinya.

Malam mulai merayap.

Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya.

Tidak ada pasukan.

Tidak ada pedang.

Tidak ada benteng yang harus dijebol.

Hanya seorang Nabi yang berdoa—dan seorang Ali yang menunggu.

Rasulullah berkata:

“Ya Allah, sesungguhnya Ali berada dalam ketaatan kepada-Mu dan ketaatan kepada Rasul-Mu. Maka kembalikanlah matahari untuknya.”

Alam seakan terdiam.

Asma binti Umais berada di sana.

Ia melihat sendiri matahari telah tenggelam.

Gunung-gunung telah kehilangan cahayanya.

Tanah telah diselimuti senja.

Namun setelah doa Rasulullah terucap…

Cahaya muncul kembali dari balik pegunungan.

Bayang-bayang yang tadi memanjang mulai bergerak ke arah berlawanan.

Puncak-puncak bukit yang telah gelap kembali tersiram sinar.

Langit yang tadi memerah berubah terang.

Burung-burung terdiam.

Orang-orang mendongakkan kepala.

Dan matahari yang telah tenggelam…

terbit kembali.

Bukan hari baru.

Bukan pagi berikutnya.

Matahari yang sama dikembalikan ke tempatnya, hingga cahaya menyentuh kembali gunung dan bumi.

Ali segera berdiri.

Ia berwudu.

Kemudian ia menghadap Allah dan menunaikan salat Asar.

Rasulullah menunggunya.

Matahari pun menunggu.

Seakan-akan perjalanan benda langit itu dihentikan sampai Ali menyelesaikan sujudnya.

Takbir.

Rukuk.

Sujud.

Salam.

Begitu Ali menyelesaikan salatnya, matahari kembali bergerak menuju ufuk.

Cahayanya turun perlahan.

Lingkarannya tenggelam di balik gunung.

Senja kembali datang.

Kemudian bintang-bintang muncul di langit.

Asma binti Umais bersumpah:

“Aku melihat matahari telah tenggelam. Kemudian aku melihatnya terbit kembali setelah tenggelam.”

Bayangkanlah peristiwa itu.

Di Khaibar, sebuah pintu benteng berpindah dari tempatnya melalui tangan Ali.

Di ash-Shahba, matahari berpindah dari perjalanannya melalui doa Rasulullah untuk Ali.

Khaibar menunjukkan kekuatan tubuhnya.

Radd asy-Syams menunjukkan kedudukannya di sisi Nabi.

Tidak, Ali bukan Tuhan.

Ali bukan nabi.

Ali tidak memerintah matahari dengan kekuatannya sendiri.

Rasulullah-lah yang memohon.

Allah-lah yang mengembalikannya.

Namun doa itu tidak dipanjatkan untuk sembarang manusia.

Rasulullah tidak berkata:

“Ya Allah, Ali telah lalai.”

Beliau berkata:

“Ali berada dalam ketaatan kepada-Mu dan ketaatan kepada Rasul-Mu.”

Inilah kalimat yang sering dilewatkan.

Matahari tidak kembali untuk memperbaiki kelalaian Ali.

Dalam bangunan riwayat itu, matahari kembali untuk memperlihatkan bahwa diamnya Ali di sisi Rasulullah adalah ketaatan—dan Allah tidak menyia-nyiakan ketaatan kekasih-Nya.

Hari itu manusia belajar bahwa waktu memang menguasai seluruh makhluk.

Raja tunduk kepada waktu.

Pasukan tunduk kepada waktu.

Gunung berubah karena waktu.

Manusia lahir dan mati di dalam waktu.

Namun waktu sendiri berada dalam kekuasaan Allah.

Dan ketika Muhammad mengangkat tangan untuk Ali, Allah memperlihatkan sebuah tanda:

sesuatu yang telah pergi dapat dikembalikan.

Sesuatu yang telah tenggelam dapat diterbitkan kembali.

Banyak orang ingin menjadi dekat dengan Rasulullah ketika beliau berdiri di hadapan manusia.

Namun Ali tetap berada di sisi beliau ketika tubuhnya harus menahan beban, ketika kakinya menjadi kaku, dan ketika tidak seorang pun melihat pengorbanannya.

Ia tidak meminta pujian.

Ia tidak meminta matahari dikembalikan.

Ia bahkan tidak mengeluh ketika senja tiba.

Tetapi Rasulullah mengetahuinya.

Allah mengetahuinya.

Dan langit memperlihatkannya.

Khaibar mengenal pukulan Ali.

Khandaq mengenal pedang Ali.

Uhud mengenal kesetiaan Ali.

Namun matahari mengenal doa Muhammad untuk Ali.

Matahari pernah menerangi ribuan raja.

Ia pernah terbit di atas istana para kaisar.

Ia pernah tenggelam di hadapan pasukan-pasukan terbesar dunia.

Tetapi dalam tradisi Radd asy-Syams, hanya untuk seorang Ali, matahari yang telah tenggelam diperintahkan kembali.

Ali tidak pernah meminta alam tunduk kepadanya.

Namun karena ketaatannya, Allah menjadikan alam sebagai saksi kemuliaannya.

Radd asy syams

Hasyim Arsal Alhabsi 
Dehills Institute

—

Catatan riwayat:

Peristiwa Radd asy-Syams merupakan riwayat yang sangat masyhur dalam khazanah Ahlul Bait.
Ia terdapat antara lain dalam Man Lā Yaḥḍuruhu al-Faqīh karya Syekh ash-Shaduq dan al-Irsyād karya Syekh al-Mufid. Riwayat ini juga dicantumkan oleh ulama Sunni Abu Ja‘far ath-Thahawi melalui dua jalur dari Asma binti Umais dalam “Syarḥ Musykil al-Ātsār, hadis 1067–1068”.
Jalaluddin as-Suyuthi bahkan menulis risalah khusus tentangnya. Sebagian ulama menerima atau menguatkannya, sementara sebagian lain menolaknya; karena itu tulisan ini menghadirkannya secara terbuka sebagai tradisi riwayat yang diperdebatkan—bukan sebagai perkara yang disepakati seluruh mazhab.

—

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/19gP525Zi3/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us