12 October 2026

Ada sesuatu yang menarik dalam ingatan kolektif umat Islam.

Kelahiran Rasulullah SAW dirayakan dengan penuh cinta. Masjid-masjid dipenuhi shalawat. Kisah kelahiran beliau dibaca. Nama beliau disebut dengan kerinduan. Bahkan di berbagai negeri, Maulid menjadi salah satu momentum keagamaan terbesar dalam setahun.

Tetapi ada pertanyaan sederhana yang jarang kita ajukan:

Mengapa hari wafat Rasulullah SAW tidak memperoleh ruang ingatan yang sama besarnya?

Padahal manusia yang kita rayakan kelahirannya itu adalah manusia yang sama yang suatu hari meninggalkan dunia. Kalau kelahirannya begitu penting karena menjadi awal datangnya rahmat, bukankah kepergiannya juga merupakan salah satu musibah terbesar yang pernah menimpa umat Islam?

Jawaban yang paling sering terdengar sederhana: karena dalam riwayat yang populer di kalangan Sunni, Rasulullah SAW lahir dan wafat pada tanggal yang sama, 12 Rabiul Awal.

Sekilas masuk akal.

Satu tanggal memuat dua peristiwa. Kegembiraan atas kelahiran akhirnya lebih dominan daripada duka atas wafat.

Tetapi apakah sesederhana itu?

Saya kira tidak.

Sebab persoalannya bukan hanya soal kalender. Persoalannya adalah bagaimana umat memilih apa yang hendak diingat, dan bagaimana sejarah kemudian membentuk ingatan itu.

Dalam tradisi Ahlul Bait, persoalannya bahkan menjadi jauh lebih jelas.

Riwayat yang masyhur di kalangan Imamiyah menempatkan kelahiran Rasulullah SAW pada 17 Rabiul Awal, sedangkan wafat beliau diperingati pada 28 Safar tahun 11 Hijriah.

Artinya, keduanya merupakan dua peristiwa yang berdiri sendiri.

Ada hari untuk bergembira karena Muhammad datang.

Dan ada hari untuk berduka karena Muhammad pergi.

Sederhana.

Tetapi justru dari kesederhanaan itulah muncul sebuah pertanyaan besar:

mengapa tradisi Ahlul Bait begitu kuat menjaga ingatan tentang wafat Rasulullah SAW?

Jawabannya barangkali karena dalam tradisi Ahlul Bait, sejarah tidak hanya dibaca dari hari-hari kemenangan.

Luka juga harus diingat.

Duka juga menyimpan ilmu.

Kehilangan juga membawa pesan.

Karena manusia tidak hanya belajar dari saat matahari terbit. Kadang-kadang kita justru memahami arti cahaya ketika matahari mulai tenggelam.

Dan wafat Rasulullah SAW adalah salah satu matahari terbesar yang pernah tenggelam dalam sejarah manusia.

Bukan Sekadar Kematian

Kalau kita membaca wafat Rasulullah SAW hanya sebagai kematian seorang manusia mulia, kita mungkin akan kehilangan bagian terpenting dari peristiwa itu.

Sebab Rasulullah SAW tidak sekadar meninggal.

Sebuah zaman berakhir.

Wahyu berhenti turun.

Tidak ada lagi Nabi yang dapat didatangi untuk menyelesaikan perselisihan.

Tidak ada lagi suara yang ketika berbicara tentang agama memiliki jaminan langsung dari langit.

Sejak saat itu, umat memasuki ujian yang sama sekali berbeda.

Pertanyaannya bukan lagi:

Apa yang Rasulullah katakan?

Tetapi:

siapa yang paling berhak menjelaskan apa yang Rasulullah katakan setelah beliau tidak lagi berada di tengah umat?

Di sinilah wafat Rasulullah SAW menjadi sangat penting.

Sebab hari-hari terakhir beliau bukan ruang kosong.

Ada begitu banyak peristiwa besar yang terjadi di sekelilingnya.

Ada perintah mengenai pasukan Usamah.

Ada ketegangan menjelang keberangkatan pasukan tersebut.

Ada peristiwa hari Kamis ketika Rasulullah SAW meminta sesuatu untuk menuliskan pesan yang beliau katakan akan membuat umat tidak tersesat setelahnya.

Lalu terjadi perselisihan di hadapan beliau.

Kemudian datang hari Senin.

Rasulullah SAW wafat.

Dan setelah itu sejarah bergerak sangat cepat.

Sebagian orang berkumpul di Saqifah.

Ali bin Abi Thalib dan keluarga Nabi berada dalam urusan yang sama sekali berbeda: mengurus jenazah manusia yang baru saja meninggalkan dunia.

Bayangkan suasananya.

Rumah Nabi sedang diliputi duka.

Putrinya kehilangan ayah.

Keluarganya memandikan tubuh Rasulullah.

Sementara pada tempat lain sedang berlangsung perdebatan tentang siapa yang akan memimpin umat setelah beliau.

Ini bukan cerita kecil.

Ini adalah salah satu persimpangan terbesar dalam sejarah Islam.

Kita semua mengetahui bahwa setiap jiwa akan merasakan kematian.

Pertanyaannya adalah:

“Apa yang terjadi ketika Rasulullah wafat?”

Dan di situlah ingatan tentang hari wafat beliau menjadi sangat penting. Dan ini sepertinya yang ingin dihapus dalam memori umat.

Maulid Itu Nyaman. Tapi wafat Nabi Mengandung Pertanyaan.

Ada sisi lain yang menarik.

Maulid adalah ruang yang relatif nyaman bagi seluruh umat Islam.

Kita dapat berbicara tentang kelahiran Nabi.

Tentang Aminah.

Tentang Abdul Muthalib.

Tentang cahaya kenabian.

Tentang akhlak beliau.

Tentang rahmat bagi seluruh alam.

Tentang shalawat.

Hampir tidak ada persoalan politik di sana.

Tidak banyak pertanyaan kontroversial.

Semua dapat bergembira bersama.

Tetapi ketika kita mulai berbicara tentang hari-hari terakhir Rasulullah SAW, persoalannya berbeda.

Pertanyaan-pertanyaan segera bermunculan.

Mengapa Rasulullah memerintahkan pasukan Usamah?

Siapa yang berada dalam pasukan itu?

Mengapa terjadi perselisihan ketika beliau meminta alat tulis?

Apa sebenarnya yang ingin beliau tuliskan?

Mengapa sesudah Rasulullah wafat terjadi pertemuan di Saqifah?

Mengapa keluarga Nabi tidak berada di sana?

Siapa yang memandikan Rasulullah?

Siapa yang mengafani beliau?

Siapa yang mengurus pemakamannya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak lagi sentimental.

Ia menjadi historis.

Lalu politis.

Kemudian teologis.

Dan semakin dalam kita masuk, semakin kita memahami bahwa hari wafat Rasulullah SAW bukan hanya cerita tentang kematian. Ia adalah pintu menuju sejarah Islam setelah Nabi.

Mungkin karena itulah tradisi Ahlul Bait tidak membiarkan pintu itu tertutup.

Ingatan Adalah Pilihan

Sejarah manusia bukan hanya kumpulan peristiwa.

Sejarah juga tentang peristiwa mana yang dipilih untuk terus diceritakan.

Ada kejadian yang setiap tahun diperingati.

Ada kejadian yang hanya tinggal dalam buku.

Ada kejadian yang dibesarkan.

Ada pula yang perlahan menjadi samar meskipun tidak pernah benar-benar hilang.

Dan di sinilah kita perlu membedakan dua hal.

Tidak tepat jika tanpa bukti kita langsung mengatakan bahwa ada seseorang atau suatu kelompok yang secara sengaja menghapus hari wafat Rasulullah SAW dari sejarah.

Itu terlalu sederhana.

Tetapi kita juga tidak boleh menutup mata bahwa ingatan kolektif memang dibentuk.

Generasi demi generasi memilih cerita mana yang terus diulang.

Dan sesuatu yang terus diulang akhirnya menjadi besar dalam kesadaran.

Sebaliknya, sesuatu yang jarang dibicarakan akhirnya terasa kecil—meskipun dalam kenyataan sejarah ia sangat besar.

Karena itu persoalannya bukan apakah umat Islam mengetahui bahwa Rasulullah wafat.

Tentu mereka tahu.

Persoalannya adalah:

mengapa wafat Rasulullah tidak memperoleh bobot emosional, ritual dan historis sebesar kelahiran beliau dalam sebagian besar kesadaran umat?

Ini pertanyaan yang layak direnungkan.

Sebab kita memperingati wafat banyak ulama.

Kita mengenang para wali.

Kita memperingati haul tokoh agama.

Kita mengingat hari kematian para pemimpin, pahlawan dan orang-orang yang berjasa.

Tetapi manusia yang menjadi sebab kita mengenal Islam—hari kepergiannya justru jarang hadir dalam kalender batin sebagian besar umat.

Bukankah itu sedikit aneh?

Ahlul Bait Mengajarkan Ingatan yang Utuh

Tradisi Ahlul Bait mempunyai karakter yang khas dalam hal ini.

Ia mengajarkan bahwa cinta tidak boleh hanya memilih bagian sejarah yang menyenangkan.

Karena cinta yang matang sanggup bergembira sekaligus berduka.

Kita bergembira pada kelahiran Rasulullah SAW.

Kita bersyukur pada hari Bi’tsah.

Kita merayakan Ghadir.

Tetapi kita juga menangisi wafat Rasulullah.

Kita mengenang syahadah Imam Ali.

Kita mengingat racun yang menewaskan Imam Hasan.

Dan kita tidak pernah membiarkan Karbala berubah menjadi sekadar catatan kaki sejarah.

Mengapa?

Karena luka menyimpan kesaksian.

Dan kadang-kadang sebuah tragedi menjelaskan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh perayaan.

Karbala misalnya tidak hanya mengatakan bahwa Imam Husain terbunuh.

Karbala bertanya:

bagaimana mungkin cucu Rasulullah dibunuh hanya beberapa puluh tahun setelah wafat kakeknya?

Pertanyaan seperti itu membuat sejarah hidup.

Begitu pula dengan wafat Rasulullah SAW.

Tradisi Ahlul Bait tidak sekadar bertanya kapan beliau wafat.

Ia bertanya:

apa yang beliau tinggalkan?

Di sinilah Hadis al-Tsaqalain menjadi sangat penting.

Rasulullah meninggalkan Kitabullah dan Ahlul Bait.

Maka duka atas wafat Nabi bukan hanya kesedihan karena kehilangan tubuh beliau.

Ia juga menjadi saat untuk mengingat kembali amanah beliau.

Dengan siapa umat harus berjalan setelah Nabi?

Kepada siapa ilmu agama harus dikembalikan?

Siapa yang paling mengetahui rumah kenabian?

Siapa yang hidup bersama wahyu sejak awal?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dilepaskan dari hari wafat beliau.

17 Rabiul Awal dan 28 Safar

Karena itu dua tanggal dalam tradisi Ahlul Bait sebenarnya menghadirkan dua pelajaran yang sangat indah.

17 Rabiul Awal adalah hari ketika dunia menerima Muhammad.

Sedangkan:

28 Safar adalah hari ketika umat diuji apakah mereka benar-benar memahami Muhammad.

Yang pertama adalah kelahiran seorang Nabi.

Yang kedua adalah kelahiran sebuah tanggung jawab.

Selama Rasulullah hidup, kita dapat berjalan di belakang beliau.

Setelah beliau wafat, pertanyaannya menjadi jauh lebih sulit:

apakah kita tetap berjalan di jalan yang beliau tunjukkan?

Maka wafat Nabi bukanlah akhir cerita.

Justru di sanalah bab paling rumit dalam sejarah umat dimulai.

Dan barangkali karena itulah Ahlul Bait menjaga hari itu dengan duka.

Bukan karena mereka mencintai kesedihan.

Tetapi karena mereka memahami bahwa melupakan sebuah luka terkadang berarti kehilangan pelajaran yang dikandung luka itu.

Kita tidak harus membuat semua umat menangis dengan cara yang sama.

Kita juga tidak harus menjadikan sejarah sebagai bahan pertengkaran.

Tetapi kita setidaknya berhak bertanya dengan jernih:

Mengapa kita begitu pandai mengingat kedatangan Rasulullah, tetapi kurang terbiasa mengingat kepergiannya?

Mengapa kita begitu fasih menceritakan kelahirannya, tetapi jarang membuka secara sungguh-sungguh hari-hari terakhir kehidupannya?

Dan mungkin pertanyaan yang paling penting:

apakah kita mencintai Rasulullah hanya ketika sejarahnya terasa indah, atau juga ketika sejarah itu membawa kita kepada pertanyaan-pertanyaan yang tidak nyaman?

Sebab cinta yang utuh tidak memilih hanya hari perjumpaan.

Ia juga mengingat hari perpisahan.

Dan barangkali di sanalah salah satu keindahan paling dalam dari tradisi Ahlul Bait:

mereka mengajarkan kita bergembira ketika Muhammad datang, berduka ketika Muhammad pergi, dan tetap memegang apa yang Muhammad tinggalkan.

Allāhumma shalli ‘ala Muhammad wa āli Muhammad.

Kenapa hari

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/1GQAhm8EPr/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us