12 October 2026

Malam itu, lembah Marr az-Zahran dipenuhi cahaya.

Ribuan api unggun menyala di antara pegunungan. Nyala-nyalanya seperti lautan bintang yang turun dari langit dan mengepung Makkah.

Abu Sufyan berdiri terpaku memandangnya.

Di hadapannya bukan lagi sekelompok kecil manusia yang dahulu dapat disiksa, diboikot, dan diusir dari kampung halamannya.

Di hadapannya kini berdiri pasukan Islam.

Barisan demi barisan bergerak menuju Makkah.

Bendera-bendera berkibar.

Pedang-pedang berkilau diterpa cahaya pagi.

Suara derap kaki kuda mengguncang lembah.

Dan di antara mereka berjalan seorang lelaki yang sangat dikenal oleh Makkah:

Ali bin Abi Thalib.

Kota itu pernah menyaksikan Ali tumbuh di sisi Muhammad.

Kota itu pernah menyaksikan Ali kecil menjadi orang pertama yang berdiri membenarkan Rasulullah ketika banyak orang menertawakannya.

Kota itu pula yang mengepung keluarganya di Shi‘b Abi Thalib…

Membiarkan mereka kelaparan…

Mendengar tangisan anak-anak Bani Hasyim dari balik lembah…

Namun tidak mengulurkan makanan.

Di jalan-jalan kota itu, Rasulullah pernah dilempari dan dihina.

Di kota itu, rumah beliau pernah dikepung oleh para pembunuh.

Dan pada malam ketika pedang-pedang Quraisy menunggu untuk menghabisi Nabi, Ali-lah yang berbaring di tempat tidur beliau—menyerahkan tubuhnya kepada maut agar Rasulullah dapat meninggalkan Makkah dengan selamat.

Kini semuanya telah berbalik.

Muhammad kembali.

Ali kembali.

Tetapi kali ini mereka tidak kembali sebagai buronan.

Mereka kembali sebagai pemenang.

Pasukan-pasukan Arab melintas di hadapan Abu Sufyan. Kemudian datanglah barisan Anshar yang dipimpin Sa‘d bin Ubadah. Panji berada di tangannya.

Ketika melewati Abu Sufyan, terdengarlah seruan yang menggetarkan:

“Hari ini adalah hari pertempuran besar!

Hari ini kehormatan Ka‘bah akan ditundukkan!”

Wajah Abu Sufyan berubah.

Ia mengenal tabiat peperangan Arab.

Apabila suatu kota ditaklukkan, darah biasanya mengalir. Rumah-rumah dirampas. Mereka yang pernah menyiksa akan diburu satu demi satu.

Dan jika hari itu adalah hari pembalasan…

Siapakah di Makkah yang dapat merasa aman?

Berita tentang seruan itu segera sampai kepada Rasulullah.

Namun Nabi yang selama bertahun-tahun dihina itu tidak datang untuk memuaskan dendam.

Beliau menolak seruan pembantaian tersebut.

Hari itu bukan hari ketika kebencian dibebaskan.

Hari itu adalah hari ketika Ka‘bah dimuliakan.

Dalam riwayat-riwayat sirah yang menyebut nama Ali, panji Anshar kemudian diambil dari Sa‘d bin Ubadah dan diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib.

Bayangkanlah saat itu…

Ali menggenggam panji kemenangan di hadapan kota yang pernah berusaha membunuhnya.

Satu gerakan tangannya dapat menjadi tanda dimulainya pembalasan.

Satu teriakan darinya dapat membuat pasukan menyerbu jalan-jalan Makkah.

Dan tidak seorang pun dapat mengatakan bahwa Ali tidak memiliki alasan untuk marah.

Ia pernah merasakan lapar dalam pemboikotan.

Ia pernah melihat Abu Thalib mengorbankan seluruh hidupnya untuk melindungi Rasulullah.

Ia pernah meninggalkan rumah dengan tubuh terancam pedang.

Ia telah menyaksikan kaum Muslim disiksa.

Ia telah melihat Hamzah tercabik di Uhud.

Ia telah berdiri di medan-medan perang menghadapi orang-orang yang kini bersembunyi ketakutan di balik pintu rumah mereka.

Pedang Ali telah meruntuhkan para pendekar Arab.

Namun hari itu, sesuatu yang lebih besar daripada pedangnya sedang diuji:

hatinya.

Ali mengangkat panji itu.

Tetapi dari barisan kaum Muslim tidak terdengar seruan pembantaian.

Dalam tradisi sejarah yang meriwayatkan peristiwa itu, Ali menyerukan:

“Hari ini adalah hari kasih sayang.

Hari ini kehormatan akan dilindungi.”

Pasukan kembali bergerak.

Penduduk Makkah mengintip dari celah-celah pintu.

Para pembesar Quraisy berdiri membisu.

Orang-orang yang dahulu menyombongkan kekuasaan mereka kini menunggu keputusan dari manusia yang pernah mereka usir.

Namun Ali tidak memasuki kota seperti seorang algojo.

Ia memasuki Makkah sebagai pembawa panji Rasulullah—panji yang hari itu tidak mengumumkan pemusnahan, melainkan keselamatan.

Di belakang barisan itu, Rasulullah memasuki Makkah di atas untanya.

Tidak ada kesombongan seorang raja yang baru menaklukkan musuh.

Kepala beliau tertunduk dalam kerendahan hati kepada Allah.

Dari lisannya mengalun Surah al-Fath.

Kota yang dahulu menggema oleh hinaan kini mendengar ayat kemenangan.

Tidak ada istana yang beliau tuntut.

Tidak ada singgasana yang beliau dirikan.

Tidak ada gunung harta yang beliau kumpulkan.

Ka‘bah dibersihkan dari berhala, tetapi rumah-rumah penduduk tidak dibakar.

Kebatilan diruntuhkan, tetapi orang-orang yang telah kalah tidak dibantai.

Makkah menunggu pedang…

Namun Muhammad datang membawa ampunan.

Makkah takut kepada Ali…

Namun Ali datang membawa perlindungan.

Di situlah kedahsyatan Ali terlihat dalam bentuk yang lain.

Di Khaibar, tangannya menjebol sebuah pintu benteng.

Di Badar, pedangnya mematahkan kesombongan para pendekar Quraisy.

Di Uhud, tubuhnya menjadi benteng terakhir di hadapan Rasulullah.

Tetapi pada hari penaklukan Makkah, Ali menaklukkan sesuatu yang jauh lebih sulit:

keinginan untuk membalas.

Sebab keberanian bukan hanya kemampuan mengayunkan pedang ketika musuh menyerang.

Keberanian tertinggi adalah menggenggam pedang ketika musuh tidak lagi berdaya—lalu memilih untuk tidak menggunakannya secara zalim.

Hari itu, Makkah berada di bawah kekuasaan Muhammad.

Panji kemenangan berada di tangan Ali.

Namun yang memenuhi kota bukan jeritan pembalasan.

Yang memenuhi kota adalah rahmat.

Makkah dahulu mengusir Muhammad dan memburu Ali.

Kini Muhammad kembali membawa ampunan—dan Ali memasuki kota membawa panji rahmat.

Khaibar memperlihatkan kedahsyatan tangan Ali ketika benteng melawan.

Fathu Makkah memperlihatkan kedahsyatan hati Ali ketika musuh tidak lagi mampu melawan.

Fathu makkah

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Catatan sumber:

Riwayat sahih tentang barisan pasukan, ucapan Sa‘d bin Ubadah, serta penolakan Rasulullah terhadap seruan tersebut terdapat dalam “Sahih al-Bukhari no. 4280”).
Riwayat “hari kasih sayang” dinukil dalam karya sejarah melalui “Ibn ‘Asakir”.
Tentang siapa yang menerima panji Anshar setelah Sa‘d, terdapat perbedaan dalam riwayat-riwayat sirah; tulisan ini mengikuti tradisi yang menyebut “Imam Ali menerima dan membawa panji tersebut”

—

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/1CNRss6N8i/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us