3 September 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Makna Spiritual dan Kesadaran atas Wafatnya Rasulullah SAW

  • Kehilangan Terbesar Kemanusiaan:
    Wafatnya Rasulullah SAW pada tanggal 28 Safar (berdasarkan riwayat para pengikut Ahlul Bait) merupakan musibah teragung dan kerugian terbesar yang tidak tergantikan bagi seluruh alam semesta.
    Beliau diturunkan ke dunia membawa misi mulia untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya terang Al-Quran.
  • Keberlanjutan Rahmat Beliau:
    Meskipun kematian adalah ketetapan mutlak Allah bagi setiap makhluk, rahmat Nabi SAW tidak terputus oleh kematiannya.
    Berdasarkan riwayat, setiap hari Senin dan Kamis, amal-amal umat manusia dilaporkan kepada Rasulullah SAW di alam barzakh; beliau akan mendoakan kebaikan bagi yang berbuat baik, dan memohonkan ampunan bagi mereka yang melakukan keburukan.
  • Kesempurnaan Ajaran di Masa Depan:
    Saat beliau wafat, ajaran agama yang dibawanya belum sempat diterapkan secara sempurna di muka bumi. Kelak, ajaran tersebut akan diimplementasikan secara paripurna oleh cucu beliau, Al-Imam Al-Mahdi.
    Seiring berjalannya waktu, manusia akan menyadari kegagalan sistem-sistem buatan mereka sendiri dan dipaksa untuk kembali pada keadilan sejati yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

 

Peristiwa-Peristiwa Besar di Hari-Hari Terakhir Nabi SAW

A. Pengutusan Pasukan Usamah bin Zaid

  • Beberapa minggu sebelum wafat, dalam kondisi mulai sakit, Rasulullah SAW mengutus pasukan besar ke perbatasan (wilayah Yordania saat ini) di bawah kepemimpinan seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun, Usamah bin Zaid.
    Beliau menyertakan para sahabat senior di dalamnya.
  • Namun, mayoritas sahabat enggan berangkat dan melontarkan kecaman (to’an) terhadap penunjukan Usamah karena usianya yang masih sangat muda.
  • Rasulullah SAW yang harus dituntun oleh Imam Ali dan Al-Fadhl bin Abbas demi menaiki mimbar, membongkar alasan mereka.
    Beliau menegaskan bahwa usia muda hanyalah dalih pembangkangan, sebab sebelumnya mereka juga mengecam penunjukan ayah Usamah, Zaid bin Haritsah, yang padahal bukan lagi pemuda.
  • Karena pasukan tak kunjung berangkat akibat provokasi, Rasulullah SAW sampai mengeluarkan sabda yang sangat tegas: Semoga Allah melaknat orang-orang yang mangkir dari pasukan Usamah.

B. Tragedi Hari Kamis (Ar-Raziyyah)

  • Pada hari Kamis—empat hari sebelum wafatnya beliau di hari Senin—beberapa orang menjenguk Rasulullah SAW di kamarnya.
  • Dalam kondisi terbaring sakit, Rasulullah SAW meminta tinta dan kertas untuk menuliskan sebuah wasiat tertulis agar umatnya tidak tersesat selamanya.
  • Namun, usulan tersebut langsung dihalangi oleh pihak tertentu yang mengklaim bahwa nabi sedang meracau (yahjur) karena panas demamnya yang tinggi.
  • Terjadilah perdebatan dan kekacauan di hadapan beliau. Karena tidak sepatutnya ada pertikaian di depan nabi, Rasulullah SAW akhirnya mengusir mereka semua dari kamarnya.
    Peristiwa menyedihkan ini dikenang oleh Ibnu Abbas sebagai “bencana hari Kamis” (Ar-Raziyyah), karena menghalangi umat dari wasiat keselamatan abadi.

C. Ziarah Tengah Malam ke Al-Baqi dan Isyarat Fitnah

  • Di keheningan malam saat penduduk Madinah tertidur, Rasulullah SAW yang sedang sakit meminta pembantunya, Abu Muwaihibah (atau dalam riwayat lain bersama Imam Ali), untuk mengantarnya berziarah ke pemakaman Al-Baqi.
  • Di sana, beliau mendoakan para penghuni kubur dan mengucapkan selamat kepada mereka karena telah wafat mendahului beliau. Beliau mengisyaratkan bahwa fitnah dan ujian yang sangat pekat akan segera mendatangi umat Islam seperti gelapnya malam.
  • Isyarat ini selaras dengan peringatan dalam Al-Quran (QS. 3:144) serta Hadits Al-Haudh (Hadis tentang Telaga di hari kiamat) yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari.
    Hadis tersebut menggambarkan bahwa setelah nabi wafat, banyak dari golongan umatnya yang akan berbalik ke belakang (mengalami kemerosotan atau kemurtadan maknawi) sehingga digiring ke neraka, dan hanya sedikit sekali dari mereka yang selamat.

 

Detik-Detik Wafat dan Pemakaman Beliau

  • Pembicara menekankan pentingnya mencurigai riwayat-riwayat tertentu yang tampak sengaja didesain demi keuntungan politis pihak-pihak tertentu—seperti riwayat yang menyebutkan bahwa nabi wafat sebatang kara hanya ditemani oleh satu istrinya, atau bahwa jasad beliau telantar tanpa diurus dari hari Senin hingga malam Rabu.
  • Riwayat-riwayat yang shahih dan dapat dipertanggungjawabkan baik dari jalur Sunni maupun Syiah menegaskan bahwa Rasulullah SAW wafat dalam dekapan Imam Ali bin Abi Thalib, disaksikan oleh putri beliau (Sayyidah Fatimah) serta keluarganya.
  • Mengenai pemakaman, riwayat yang shahih menyatakan beliau wafat pada hari Senin dan telah dikebumikan pada malam Selasa.
    Salat jenazah dilakukan secara bergelombang tanpa satu imam yang memimpin. Di saat prosesi suci tersebut berlangsung, sebagian tokoh lainnya justru sibuk dengan urusan kekuasaan di Saqifah sehingga tidak ikut menyaksikan atau mengurus pemakaman Rasulullah SAW.

Secara keseluruhan, hari-hari terakhir Rasulullah SAW memperlihatkan betapa perjuangan beliau hingga akhir hayatnya dipenuhi oleh kesedihan dan tantangan berat, yang justru datang dari lingkungan internal umatnya sendiri.

Kronologi Wafatnya Rasulullah SAW

 

Judul video: Pristiwa-pristiwa Hari-hari Terakhir Nabi Saw. – Watch on Youtube

Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:
Subscribe Channel PANDU AHLULBAYT

 

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us