Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Hakikat Salam
Ustadz Miftah membuka dengan puji syukur kepada Allah SWT dan selawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para nabi. Ia menyoroti salam yang biasa diucapkan dalam salat (tahiyat), yaitu “Assalamualaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakatuh,” yang kemudian diikuti dengan “Assalamualaikum waโala ibadillahish sholihin”.
Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an dalam Surah An-Nisa ayat 86 memerintahkan kita untuk membalas penghormatan atau salam dengan yang lebih baik atau setidaknya yang setara.
Berdasarkan ayat ini, diyakini bahwa ketika kita menyampaikan salam kepada Baginda Nabi SAW, beliau akan membalas salam kita dengan sesuatu yang jauh lebih baik.
Oleh karena itu, jika seseorang memberi salam yang panjang, hendaknya kita tidak hanya menjawab dengan singkat, melainkan membalas dengan kalimat yang sama panjang atau menambahkannya dengan menyebut nama-nama Allah yang lain serta doa-doa kebaikan,.
Mendahulukan Baginda Nabi SAW
Salah satu adab penting yang ditekankan adalah kewajiban mendahulukan dan mengutamakan Baginda Nabi SAW di atas diri kita sendiri, sebagaimana diingatkan dalam Surah Al-Ahzab ayat 6.
Dalam hal berkirim salam, adabnya adalah mengucapkan salam kepada Baginda Nabi SAW terlebih dahulu sebelum kepada orang lain.
Penerapan praktisnya adalah saat kita hendak masuk ke dalam rumah. Sebelum mengucapkan salam kepada penghuni rumah, dianjurkan untuk mendahuluinya dengan salam kepada Nabi: “Assalamualaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakatuh,” baru kemudian mengucapkan salam umum.
Selain itu, terdapat anjuran untuk membaca Surah Al-Ikhlas sebanyak tiga kali, diikuti Surah Al-Falaq, An-Nas, dan Al-Fatihah masing-masing sekali untuk mendatangkan keberkahan bagi rumah dan keluarga.
Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir: Ilmu Laduni dan Adab Belajar
Pembahasan berlanjut pada sosok hamba saleh yang dikisahkan dalam Surah Al-Kahf, yaitu Nabi Khidir AS (meskipun namanya tidak disebutkan secara eksplisit dalam ayat tersebut).
Allah menyebutnya sebagai hamba yang diberi rahmat dan ilmu langsung dari sisi-Nya (Min Laduna), yang menjadi asal-usul istilah Ilmu Laduni,.
Kisah perjumpaan Nabi Musa AS dengan Nabi Khidir AS mengajarkan beberapa hal penting:
- Kaidah Keilmuan:
Di atas orang yang berilmu, selalu ada yang lebih berilmu lagi. Sekalipun Nabi Musa memiliki kemuliaan yang agung, beliau tetap diminta untuk “berguru” kepada Nabi Khidir. - Adab Menuntut Ilmu:
Dalam Surah Al-Kahf ayat 66, Nabi Musa menunjukkan adab yang luar biasa dengan meminta izin terlebih dahulu: “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”,.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam menuntut ilmu, seseorang harus datang dengan kerendahan hati dan permohonan izin kepada sang guru.
Penutup
Video diakhiri dengan doa bagi mereka yang sedang sakit, para tenaga medis, petugas aparat, dan pejuang keselamatan agar diberikan perlindungan dan keberkahan dalam setiap urusan, terutama di tengah masa ujian wabah,.
Ustadz Miftah menutup dengan harapan agar kita semua dapat mengambil pelajaran dari setiap episode kehidupan para nabi.

Bersama KH Miftah F. Rakhmat
Judul video: Dahulukan Baginda Nabi SAW bahkan dalam Salam Kita | Ustadz Miftah |#22 ThePropheticWisdom l – Watch on Youtube


