Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Ustadz Miftah menyapa pemirsa dalam edisi The Prophetic Wisdom di bulan suci Ramadhan, sebuah program yang bertujuan mengambil hikmah dari kisah para nabi melalui perspektif yang berbeda.
Ustadz menyampaikan terima kasih kepada para hadirin yang ikut menyebarkan tayangan ini dan berharap agar semangat untuk mengkaji kisah para nabi dapat terus tumbuh sebagai pedoman hidup.
Beliau menekankan bahwa kisah para nabi dalam Al-Qur’an bukan sekadar cerita masa kecil atau materi pesantren kilat, melainkan petunjuk besar bagi umat manusia.
Kisah Kelahiran Nabi Musa dan Kekejaman Firaun
Kajian kali ini membahas beberapa hal yang sering dianggap “menggantung” atau menyisakan pertanyaan dalam kisah Nabi Musa AS.
Kisah dimulai saat Raja Mesir, Firaun, memerintahkan perburuan dan pembunuhan bayi-bayi laki-laki dari Bani Israil.
Berdasarkan satu versi, perintah ini dipicu oleh mimpi Firaun yang ditafsirkan oleh peramal bahwa akan lahir seorang anak dari Bani Israil yang akan menghancurkan kerajaannya.
Hal ini memicu pertanyaan kritis:
- Apa salah bayi-bayi tersebut sehingga harus dibunuh?
- Di mana keadilan Allah SWT ketika ribuan bayi terbunuh sementara Nabi Musa diselamatkan?
- Apakah Allah yang Maha Kuasa tidak bisa menyelamatkan nabi-Nya tanpa mengorbankan ribuan nyawa bayi lainnya?
Kaitan Ujian Para Nabi
Ustadz Miftah menjelaskan bahwa dalam sebuah riwayat, para nabi adalah manusia yang paling berat ujiannya, dan yang paling berat di antara mereka adalah Rasulullah SAW.
Terdapat pendapat bahwa setiap ujian yang dialami para nabi terdahulu juga dialami oleh Rasulullah SAW dan umatnya, baik itu ujian kelaparan maupun bencana alam,.
Mengenai kasus pembunuhan bayi di zaman Nabi Musa, muncul pertanyaan apakah hal serupa terjadi pada masa Baginda Nabi SAW.
Jika dilihat dari sudut pandang yang sama, tindakan Firaun sebenarnya didasari oleh kezaliman yang sudah ada sebelumnya.
Firaun telah lama menjadikan Bani Israil sebagai budak dan merampas hak-hak mereka,.
Konteks Politik dan Populasi
Alasan lain di balik kekejaman Firaun adalah kekhawatiran terhadap pesatnya pertumbuhan populasi Bani Israil.
Ustadz Miftah memberikan analogi dengan situasi di Palestina saat ini, di mana pertumbuhan populasi muslim Palestina menjadi kekhawatiran bagi otoritas tertentu.
Dalam konteks Nabi Musa, mimpi Firaun hanyalah sebuah dalih atau alasan tambahan untuk melegitimasi niat buruk yang sudah ada sejak awal, yaitu menindas Bani Israil,.
Jadi, bayi-bayi tersebut tidak dibunuh semata-mata demi menyelamatkan Nabi Musa; ancaman persekusi itu sudah ada tanpa kehadiran Nabi Musa sekalipun.
Pertanyaan yang Belum Terjawab
Meskipun demikian, masih ada hal-hal yang “menggantung” dan akan dibahas pada kesempatan berikutnya, antara lain:
- Mengapa hanya ibu Nabi Musa yang menerima wahyu untuk menyelamatkan bayinya dengan menghanyutkannya ke sungai dalam keranjang?
- Mengapa bayi-bayi lainnya tidak diselamatkan melalui cara yang serupa?
- Penjelasan mengenai insiden saat Nabi Musa melerai perkelahian dan secara tidak sengaja menyebabkan seseorang meninggal dunia, yang kemudian disebut Nabi Musa sebagai “perbuatan setan”,.
Penutup
Kajian diakhiri dengan permohonan maaf dan ajakan untuk terus menggali rasa ingin tahu terhadap kitab suci Al-Qur’an.
Ustadz Miftah juga memimpin doa untuk mereka yang sedang sakit, yang telah wafat, serta agar semua umat dapat melalui ujian wabah yang sedang terjadi dengan sebaik-baiknya keadaan. Tayangan ditutup dengan selawat dan salam.

Bersama KH Miftah F. Rakhmat
Judul video: Yang Tertunda, Dari Kisah Nabi Musa AS.| Ustadz Miftah |#14 The Prophetic Wisdom Bulan Suci Ramadhan – Watch on Youtube


