20 October 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Keutamaan Ramadhan

Segala puji bagi Allah SWT yang telah mengaruniakan keberkahan bulan suci Ramadhan kepada kita.
Sebagaimana disampaikan dalam hadis Baginda Nabi Muhammad SAW, pada bulan ini napas kalian dihitung sebagai tasbih dan tidur kalian dinilai sebagai ibadah.
Bahkan, bacaan satu ayat Al-Qur’an pada bulan ini memiliki kadar pahala yang sama dengan mengkhatamkan seluruh isi Al-Qur’an.

Syarat dan Ketentuan dalam Beramal

Meskipun terdapat banyak hadis mengenai keutamaan (fadhilah) amal, saya pribadi sering memberikan catatan kecil berupa “syarat dan ketentuan berlaku”.
Tingkat keimanan dan keberagaman seseorang tentu bertahap, namun ada batasan yang harus diperhatikan agar amalan tersebut bernilai di sisi Allah:

  • Napas menjadi tasbih:
    Syaratnya adalah selama kita tidak menggunjing atau membicarakan keburukan orang lain (ghibah). Begitu kata-kata tidak dijaga, maka nilai tasbih itu hilang.
  • Tidur menjadi ibadah:
    Syaratnya adalah tidur tersebut tidak melalaikan kita dari kewajiban utama.
    Misalnya, jangan sampai karena mengejar tahajud, kita justru tertidur dan melewatkan salat Subuh. Kewajiban harus tetap didahulukan daripada amalan sunnah.
  • Membaca satu ayat seperti khatam Al-Qur’an:
    Keberkahan ini akan berlipat ganda jika kita juga mendalami maknanya, memahami isinya, dan mengambil pelajaran darinya.

Kisah Nabi Musa AS dan Pertikaian di Kota

Pelajaran mengenai hal ini dapat kita ambil dari kisah Nabi Musa AS dalam Al-Qur’an Surat Al-Qashash ayat 15.
Dikisahkan bahwa Nabi Musa memasuki sebuah kota ketika penduduknya sedang lengah.
Di sana, beliau menemukan dua orang laki-laki yang sedang bertikai hebat atau saling ingin membunuh (yaqtatilan).

Salah satu dari mereka adalah pengikut Nabi Musa (disebut sebagai Syiahnya Nabi Musa), sedangkan yang lainnya adalah musuhnya.
Pengikut Nabi Musa yang dalam keadaan terdesak itu meminta pertolongan kepada beliau.
Nabi Musa kemudian melerai dengan cara meninju (wakazahu) musuh tersebut menggunakan kepalan tangannya, yang menyebabkan orang itu meninggal dunia.

Memahami “Perbuatan Setan”

Setelah kejadian tersebut, Nabi Musa berkata, “Ini adalah termasuk perbuatan setan”.
Penting untuk dipahami bahwa yang dimaksud “perbuatan setan” oleh Nabi Musa bukanlah tindakan beliau saat melerai, melainkan pertikaian dan permusuhan itu sendiri.

Setan sangat menyukai pertikaian.
Siapa pun yang mengajak pada kebencian, memusuhi satu komunitas, atau menyebarkan ujaran kebencian, sebenarnya mereka sedang membantu perjuangan setan untuk menyuburkan perpecahan di antara umat manusia.
Sebaliknya, umat Islam seharusnya berjuang untuk mempersatukan dan mendamaikan (faaslihu).

Niat Nabi Musa dalam Melerai

Nabi Musa tidak berniat membunuh; beliau berniat untuk melerai orang yang sedang baku hantam.
Dalam situasi pertikaian yang hebat, melerai tidak bisa dilakukan hanya dengan kata-kata lembut karena situasinya sedang tidak tenang.
Namun, pukulan Nabi Musa yang kuat secara tidak sengaja menyebabkan kematian pada musuhnya yang sedang dalam posisi tidak bersiap.

Peristiwa ini jangan dijadikan dalil untuk memukul orang sembarangan dengan alasan melerai.
Inti pelajarannya adalah menjauhi pertikaian yang merupakan amal setan dan terus berupaya membawa kedamaian.

Penutup

Semoga di bulan suci ini, segala niat dan hajat kita didekatkan dengan ijabah Allah SWT.
Wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Ramadhan dan Persatuan Nabi Musa

Bersama KH Miftah F. Rakhmat

Judul video: Kisah Nabi Musa AS. dan Syiahnya | Ustadz Miftah |#15 The Prophetic Wisdom Edisi Bulan Suci Ramadhan – Watch on Youtube

Yuk Subscribe NGOPI TV:
Subscribe Channel NGOPI TV

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us