Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
“Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an) yang nyata (dari Allah). Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik, dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu. Dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.”
[QS. Yusuf: 1-3].
Kisah Nabiyullah Yusuf as adalah kisah teramat indah. Tak sedikit umat Islam yang memahami bahwa Surah Yusuf menggambarkan kisah cinta seorang perempuan (bernama Zulaikha) terhadap seorang lelaki (bernama Nabi Yusuf). Benarkah demikian? Sesungguhnya, kisah Nabi Yusuf adalah kisah tentang kisah cinta teramat indah. Antara siapa dengan siapa?
Berikut adalah transkrip naratif dari video “Daqaiq Al-Quran (14); SURAH YUSUF, KISAH PALING INDAH” yang telah disusun agar lebih rapi dan nyaman dibaca tanpa mengurangi esensi isinya:
Keutamaan Al-Quran
Segala puji bagi Allah SWT, kita diberikan karunia untuk senantiasa mendekatkan diri dengan membaca dan mengkaji Al-Quran.
Al-Quran mengandung petunjuk, bimbingan, perintah, larangan, serta perumpamaan untuk masa depan.
Di dalamnya juga terdapat kisah-kisah pelajaran (ibrah) dari umat terdahulu. Salah satu kisah yang disebut oleh Al-Quran sebagai Ahsan Al-Qosos (kisah terbaik atau paling indah) adalah kisah Nabi Yusuf AS dalam Surah Yusuf.
Al-Quran menggunakan bentuk kata kerja fi’il mudhore (nahnu naqussu) yang berarti kisah ini sedang dan terus berlangsung perumpamaannya hingga sekarang.
Sebelum wahyu ini turun, manusia termasuk orang-orang yang belum mengetahui hakikat keindahan kisah ini.
Hakikat Kisah Cinta dalam Surah Yusuf
Banyak orang menduga kisah Nabi Yusuf hanyalah kisah cinta antara seorang wanita (Zulaikha) dan seorang laki-laki.
Memang benar ini adalah kisah cinta, namun kita perlu melihat lebih dalam antara siapa dengan siapa cinta itu sebenarnya terjalin.
Dalam tradisi pernikahan di Indonesia, seringkali dibacakan doa agar pasangan pengantin disatukan sebagaimana Allah menyatukan Nabi Yusuf dan Siti Zulaikha.
Namun, perlu diingat bahwa saat Zulaikha tertarik pada Nabi Yusuf, ia adalah istri dari seorang pembesar Mesir (Al-Aziz).
Kisah ini sangat menarik karena mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang mendalam, melampaui sekadar ketertarikan fisik.
Mimpi Nabi Yusuf dan Awal Kecemburuan
Kisah ini dimulai saat Yusuf muda bercerita kepada ayahnya, Nabi Ya’qub AS: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku”.
Nabi Ya’qub berpesan agar Yusuf tidak menceritakan mimpi itu kepada saudara-saudaranya karena khawatir mereka akan membuat makar untuk membinasakannya.
Pelajaran pertamanya adalah: karunia atau rahasia tertentu tidak serta merta boleh disampaikan kepada semua orang, bahkan kepada saudara sendiri, karena setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.
Fitnah dan Pembuangan
Saudara-saudara Yusuf merasa cemburu karena menganggap Yusuf dan adiknya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah mereka. Mereka bahkan menuduh Nabi Ya’qub berada dalam kesesatan yang nyata (dhalalin mubin) karena perbedaan kasih sayang tersebut. Akibat kecemburuan ini, mereka berencana membunuh Yusuf atau membuangnya ke daerah yang jauh agar perhatian sang ayah hanya tertumpah pada mereka.
Nabi Yusuf akhirnya dimasukkan ke dalam sumur. Saudara-saudaranya kemudian berbohong dengan membawa pakaian Yusuf yang berlumuran darah, mengklaim bahwa Yusuf dimakan serigala.
Menariknya, dalam Al-Quran, serigala adalah makhluk pertama yang difitnah (menjadi “kambing hitam”) padahal ia tidak melakukan pembunuhan tersebut.
Ketampanan dan Ujian di Mesir
Nabi Yusuf ditemukan oleh kafilah dagang dan dijual sebagai budak di Mesir, hingga bekerja di rumah Al-Aziz.
Ketampanan Nabi Yusuf begitu luar biasa hingga membuat para wanita di kota itu tak sengaja melukai jari tangan mereka dengan pisau saat melihatnya, seraya berkata: “Ini bukan manusia, ini adalah malaikat yang mulia”.
Mengenai ketampanan ini, ada sebuah riwayat bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya siapa yang lebih tampan antara beliau dan Nabi Yusuf.
Rasulullah menjawab: “Yusuf lebih tampan, tapi aku lebih menawan (mliha/mempesona)”.
Nabi Yusuf kemudian harus mendekam di penjara karena berusaha menghindari fitnah dan menundukkan hawa nafsunya.
Dimensi Sufi: Penantian Imam Zaman
Kisah para Nabi, termasuk Nabi Yusuf, memiliki hikmah untuk menjawab keraguan bagi mereka yang bertanya (lis-sa’ilin).
Dalam perspektif Ahlul Bait, kisah ini berkaitan erat dengan konsep Imam Mahdi (Imam Zaman).
Ada beberapa kesejajaran menarik:
- Umur Panjang:
Sebagaimana Nabi Nuh AS yang berumur panjang, Imam Mahdi juga dipanjangkan usianya oleh Allah. - Ketersembunyian:
Sebagaimana Nabi Yusuf yang berada di depan saudara-saudaranya namun mereka tidak mengenalinya, Imam Mahdi berada di tengah manusia, mengetahui keadaan kita, namun kita tidak mengenalinya. - Penderitaan Ayah dan Penantian:
Nabi Ya’qub AS terus menangis merindukan Yusuf hingga matanya memutih (buta).
Meskipun jarak antara Mesir dan Palestina sangat jauh, Nabi Ya’qub mampu mencium wangi gamis Yusuf begitu kafilah mulai bergerak.
Kisah Nabi Yusuf adalah kisah cinta yang paling indah karena menggambarkan cinta seorang ayah kepada anaknya dan bakti seorang anak kepada ayahnya, serta bagaimana mereka menjaga kesetiaan cinta tersebut dalam keterpisahan yang sangat lama.

Bersama KH Miftah F. Rakhmat
Judul video: Daqaiq Al-Quran (14); SURAH YUSUF, KISAH PALING INDAH – Watch on Youtube



Add comment