3 September 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Nabi Saw pernah mengatakan, “sesiapa yang mengucapkan Subhanallah satu kali, Allah akan menumbuhkan satu pohon untuknya di surga”.

Seorang sahabat dari Quraisy berkata, “jika begitu ya Rasulullah, saya sudah punya banyak pohon di surga”.

Lalu kemudian Nabi Saw menukas, “Betul, tapi jangan sampai kamu mengirimkan api untuk membakarnya sampai tiada yang tersisa”.

Apa yang bisa membakar taman surga kita? Silahkan lihat di seri kali ini untuk tema Keutamaan Wara’

Pegunungan Tihamah sebagai Perumpamaan

Mungkin banyak dari kita yang tidak mengenal Pegunungan Tihamah. Tihamah adalah rangkaian puluhan gunung yang memanjang di pantai sebelah barat Arab Saudi, membentang dari tepian Laut Merah di utara hingga ke Yaman di sebelah selatan.
Dalam tradisi Arab, rangkaian bukit Tihamah sering dijadikan ungkapan untuk menunjukkan sesuatu yang sangat besar dan sangat banyak jumlahnya.

Nabi Muhammad SAW sering menyebut Pegunungan Tihamah dalam hadis-hadisnya mengenai hari kiamat.
Beliau bersabda bahwa nanti pada hari kiamat, akan ada kaum yang datang dengan membawa kebaikan (amal saleh) sebesar rangkaian Gunung Tihamah.
Namun, seluruh kebaikan yang sangat besar itu diperintahkan untuk dibakar oleh api Allah, sehingga amal-amal tersebut menjadi bagaikan debu yang berterbangan (faja’alnahu haba’an mantsura),.

Amal yang Menjadi Debu dan Fatamorgana

Melihat hal itu, orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulullah, apakah mereka tidak melakukan salat? Apakah mereka tidak berpuasa?”.
Nabi SAW menjawab bahwa mereka sebenarnya mengerjakan salat, menjalankan ibadah puasa, bahkan mengambil sebagian waktu malam mereka untuk beribadah.

Lantas, apa yang menyebabkan amal mereka sirna?
Nabi menjelaskan bahwa ketika mereka melihat sedikit saja keuntungan dunia dari kejauhan, mereka langsung melompat untuk mengejarnya dengan cepat.

Bayangkan jika pada hari pengadilan nanti, seluruh tumpukan kebaikan Anda yang sebanyak Pegunungan Tihamah tiba-tiba hangus terbakar api besar.
Amal tersebut tidak lagi tampak seperti gunung, melainkan menjadi debu yang dicerai-beraikan ditiup angin.
Dalam Al-Qur’an, amal yang sia-sia dan tidak diterima ini disebut sebagai habaโ€™an mantsura atau dalam ayat lain digambarkan sebagai fatamorgana (sarab).
Amal itu tampak seperti mata air dari kejauhan bagi musafir yang kehausan di padang pasir, namun saat didatangi, ia tidak mendapati apa pun.

Bahaya Cinta Dunia

Penyebab utama dari kesia-siaan amal tersebut adalah cinta dunia. Hal ini terjadi ketika seseorang melihat keuntungan duniawiโ€”meskipun masih samar-samarโ€”lalu mengejarnya tanpa memedulikan batasan halal dan haram.

Suatu hari, Nabi SAW pernah bersabda: “Siapa yang mengucapkan Subhanallah satu kali, maka Allah menanamkan baginya satu pohon di surga”.
Seorang sahabat dari kaum Quraisy berkata bahwa ia pasti sudah memiliki banyak sekali pohon di surga.
Nabi segera mengingatkan: “Benar, tapi hati-hati, jangan sampai kamu mengirimkan api dan kamu membumihanguskannya”.

Secara sederhana, cinta dunia adalah ketika Anda menilai kemuliaan manusia hanya berdasarkan tumpukan kekayaan, tingginya jabatan, kemasyhuran reputasi, kehebatan gengsi, dan prestise,.
Sikap inilah yang dapat membakar habis kebaikan-kebaikan Anda.

Pilihan Hidup Rasulullah SAW

Rasulullah SAW memberikan teladan nyata dalam menyikapi dunia. Suatu kali, saat sedang duduk bersama Jibril di Bukit Shofa, Rasulullah SAW berujar: “Wahai Jibril, keluarga Muhammad pada sore ini tidak punya sejemput tepung ataupun segenggam gandum”.

Tak lama kemudian, terdengar suara gemuruh yang dahsyat seperti gunung yang akan runtuh.
Ternyata itu adalah Malaikat Israfil yang turun membawa pesan dari Allah SWT.
Allah menawarkan kunci-kunci perbendaharaan bumi dan menawarkan untuk mengubah Pegunungan Tihamah menjadi zamrud, yakut, emas, dan perak untuk Rasulullah SAW.

Israfil memberikan pilihan kepada Nabi: “Pilihlah, apakah engkau ingin menjadi nabi sekaligus raja yang kaya raya, atau menjadi hamba sahaya sekaligus nabi (abdan nabiyya)?”,.
Malaikat Jibril memberi isyarat agar Nabi memilih kerendahhatian. Maka Rasulullah SAW pun menjawab: ***”Aku memilih sebagai hamba dan nabi”***.
Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali sebagai penegasan atas kesederhanaan dan keteguhan hatinya dalam menghamba kepada Allah.

Waspada Bahaya Cinta Dunia

Bersama KH DR Jalaluddin Rakhmat
Judul video: Jangan Kau Bakar Taman Surgamu – Watch on Youtube

Yuk Subscribe Channel Majulah IJABI:
Subscribe Channel Majulah IJABI

 

Add comment

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us