Hikmah di Balik Perjalanan (Safar)
Kajian spesial ini dilaksanakan di kawasan Situ Panjalu, Ciamis.
Dalam tradisi Islam, melakukan perjalanan (safar) memiliki dimensi kesehatan lahiriah maupun batiniah.
Ada sebuah ungkapan yang menyebutkan bahwa dengan melakukan perjalanan, seseorang akan menjadi sehat.
Secara batiniah, Al-Qur’an dan berbagai riwayat menganjurkan kita untuk mengambil pelajaran dari umat terdahulu melalui sisa-sisa peninggalan mereka agar kita menyadari kesudahan dari setiap perbuatan.
Hakikat Tafakur (Merenung)
Tafakur atau merenung sejenak dianggap lebih utama daripada ibadah selama seribu tahun.
Imam Ali bin Musa menjelaskan bahwa makna Tafakur adalah ketika seseorang melihat sebuah bangunan tua atau peninggalan sejarah, lalu ia bertanya dalam hatinya: “Ke manakah orang-orang yang pernah tinggal dan membangun tempat ini?”.
Perenungan ini menyadarkan kita bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini; semuanya sedang dalam perjalanan kembali kepada-Nya, sehingga kita perlu mencari bekal terbaik untuk perjalanan ruhaniah tersebut.
Pemenuhan Hak: Tuhan, Keluarga, dan Tubuh
Berdasarkan sabda Baginda Nabi Muhammad SAW, terdapat tiga hak utama yang harus dipenuhi secara seimbang:
- Hak Tuhan (Inna lirabbika Alaika Haq):
Kita berkewajiban menyembah-Nya, bersyukur atas nikmat-Nya, bertawakal, serta bersabar atas segala ujian dan ketentuan-Nya. - Hak Keluarga:
Meliputi hak kebersamaan, kasih sayang, perhatian, pendidikan, serta nafkah lahiriah. - Hak Tubuh:
Tubuh memiliki hak untuk beristirahat dan sehat. Jika dipaksa bekerja terlalu berat tanpa henti, tubuh akan menuntut haknya dengan cara jatuh sakit.
Jantung, otot, dan saraf kita memerlukan perhatian agar tetap berfungsi dengan baik.
Kesehatan Jasmani untuk Ibadah
Pemeliharaan kesehatan jasmani adalah bagian penting dari spiritualitas.
Dalam doa Kumail, terdapat permohonan agar Allah memperkokoh anggota badan (jawarih) untuk berkhidmat atau beribadah kepada-Nya.
Dengan tubuh yang kuat dan sehat, jiwa pun menjadi kuat untuk menjalankan ketaatan. Oleh karena itu, olahraga sangat dianjurkan sebagai sarana menjaga amanah tubuh ini.
Filosofi dan Tingkatan Kesabaran
Berdasarkan Surah Ali Imran ayat 200, terdapat tiga kata yang merujuk pada jenis kesabaran: Isbiru (Sabar), Washabiru (Musobarah), dan Warabitu (Ribat).
- Asal Kata:
Sabar berasal dari kata Jadam, yaitu tumbuhan yang rasanya sangat pahit namun bisa menjadi obat.
Sabar berarti kesediaan menelan “kepahitan” peristiwa hidup demi mendapatkan kesembuhan atau hikmah. - Tingkatan Sabar:
- Sabar Billah (Sabar karena Allah):
Ini adalah tingkat dasar, yaitu memilih untuk taat kepada Allah saat hawa nafsu memanggil. Contohnya adalah menolak suap atau harta haram meskipun godaan materi sangat besar, demi menjaga kesucian diri di hadapan Allah. - Sabar Lillah (Sabar untuk Allah).
- Sabar Maโallah (Sabar beserta Allah).
- Sabar Billah (Sabar karena Allah):

Bersama: KH Miftah F Rakhmat
KUNUZUL HIKMAH
Episode 14: “Hak Tubuh, Tafakur dan Hikmah Safar”
PERCIK HIKMAH : Allahyarham KH Jalaluddin Rakhmat
“Sabar”part 4 Eps.14
Video source: JRTV

