Program Kunuzul Hikmah mengajak kita untuk menggali mutiara hikmah dari teladan agung sepanjang sejarah, dengan harapan membawa manfaat rohaniah dan keberkahan dalam kehidupan kita.
Pada kesempatan ini, tema yang diangkat adalah tentang bakhil atau kekikiran.
Dilema antara Riya’ dan Bakhil
Terdapat sebuah ungkapan menarik dari almarhum ayahanda pembicara: “Lebih baik riya’ tetapi dermawan, daripada ikhlas tetapi bakhil”.
Mengapa demikian?
Meskipun orang yang ria mungkin tidak mendapatkan pahala karena niatnya yang tidak tulus, namun harta atau bantuan yang ia berikan tetap mendatangkan manfaat nyata bagi orang banyak, seperti sembako atau bantuan finansial yang bisa digunakan oleh penerimanya.
Sebaliknya, sifat bakhil tidak memberikan manfaat kepada siapapun.
Etika dalam Memberi menurut Al-Qur’an
Al-Qur’an dalam Surat Al-Baqarah ayat 263 mengingatkan: “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima)”.
Ayat ini menekankan bahwa:
- Ucapan yang indah dan pengampunan jauh lebih berharga daripada bantuan yang disusul dengan gerutuan, caci maki, atau penyesalan.
- Kata “magfirah” (pengampunan) dalam ayat tersebut mengandung makna bahwa kita memohon ampun kepada Allah atas ketidakmampuan kita untuk memberi secara ikhlas atau belum mampu membantu sama sekali.
Daripada membantu lalu menggerutu, lebih baik memberikan kata-kata yang baik (qaulan ma’rufa) sembari memaafkan keterbatasan diri sendiri.
Definisi Bakhil dari Teladan Imam Sajjad
Imam Ali bin Husayn (Imam Sajjad) dikenal sebagai sosok yang tidak pernah menolak orang yang meminta bantuan.
Beliau selalu menyambut peminta dengan kalimat: “Selamat datang bagi yang akan membawakan bekalku untuk hari akhirat”.
Imam Sajjad mendefinisikan kekikiran dengan sangat menyentuh:
“Aku sungguh malu pada Tuhanku jika aku melihat saudaraku memohon bantuan kepada Tuhan, sementara aku menahan dinar dan dirham darinya”.
Bakhil, menurut beliau, adalah keengganan untuk memberi dan sikap menahan apa yang dimiliki. Beliau memberikan perumpamaan bahwa jika surga adalah milik kita untuk diberikan, orang yang bakhil bahkan akan menahan surga itu agar tidak sampai kepada orang lain.
Bahaya Ucapan yang Sia-sia (Fudulul Kalam)
Selain kekikiran harta, video ini juga menyoroti pentingnya menjaga lisan:
- Obrolan yang Sia-sia:
Surat An-Nisa ayat 114 menyebutkan bahwa tidak ada kebaikan dalam banyak pembicaraan kecuali yang berisi perintah sedekah, kebaikan, atau mendamaikan manusia. - Senyum sebagai Sedekah:
Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa senyum kepada saudaramu adalah sedekah, dan ucapan yang baik jauh lebih baik daripada pemberian yang diungkit-ungkit. - Pembicaraan Batil:
Menghindari pembicaraan yang merendahkan agama atau lelucon yang berlebihan tentang hal suci.
Dalam Al-Qur’an, salah satu penyebab orang masuk neraka Saqar adalah karena mereka suka “ngobrol” hal-hal batil bersama orang yang melakukannya (surat Al-Mudatsir ayat 45).
Kesimpulan
Kekikiran bukan hanya soal menahan harta, tetapi juga soal menahan kebaikan melalui lisan.
Jika tidak mampu membantu secara materi, setidaknya bantulah dengan ucapan yang membahagiakan hati orang lain.


