Bagian 1: Ustadz Miftah
Di antara buku-buku yang memperkenalkan dan menginspirasi kekayaan khazanah keluarga Nabi SAW adalah karya-karya pemikir besar, Asy-Syahid Murtadha Mutahhari.
Ada dua buku beliau yang menonjol:
- pertama, Keadilan Ilahi yang sangat filosofis dan penuh dalil;
- kedua, sebuah kumpulan kisah berjudul Dostone Roston atau Kisah Orang-orang Bijak.
Kisah Si Kaya dan Si Miskin di Majelis Rasulullah
Salah satu kisah dalam buku tersebut menceritakan suasana saat Baginda Nabi SAW duduk bersama para sahabatnya.
Kedudukan Nabi di tengah majelis digambarkan ibarat mata cincin yang mempesona dan menarik semua perhatian.
Sesuai tradisi saat itu, siapa pun yang baru datang akan mencari tempat duduk yang kosong.
Suatu ketika, seorang muslim yang tampak fakir datang dan duduk di samping seorang pria yang kaya raya.
Begitu orang fakir itu duduk, si kaya langsung mengibaskan selendangnya dan menggeser posisi duduknya seolah ingin menjauh.
Melihat perbuatan itu, Rasulullah SAW bertanya kepadanya:
- “Apakah engkau takut kemiskinannya menular kepadamu?”
- “Tidak, ya Rasulullah,” jawab si kaya.
- “Apakah engkau takut kekayaanmu akan berkurang karenanya?”
- “Tidak, ya Rasulullah.”
- “Apakah engkau takut pakaianmu akan kotor karena bersentuhan dengannya?”
- “Tidak, ya Rasulullah.”
- “Lalu, mengapa engkau menarik pakaianmu dan menggeser dudukmu?”
Pria kaya itu pun mengakui kesalahannya dan berkata, “Aku akui kesalahanku, ya Rasulullah.
Sebagai tebusan (kifarat), aku akan memberikan setengah kekayaanku kepadanya saat ini juga.” Namun, si miskin tersebut menolak tawaran itu.
Ketika ditanya alasannya, ia menjawab: “Aku takut jika aku menerima kekayaan itu, aku akan menjadi sombong dan berperilaku buruk seperti dia”.
Pelajaran Tentang Keimanan
Dalam Islam, memperlakukan seseorang secara berbeda hanya karena kekayaan, pangkat, atau jabatan dapat menghancurkan keimanan.
Disebutkan bahwa perbuatan tersebut dapat menghilangkan dua pertiga, bahkan seluruh keimanan seseorang.
Baginda Nabi SAW menegaskan bahwa di hadapan Allah, semua manusia adalah sama, dan yang membedakan hanyalah ketakwaannya.
Konsep Puasa Bicara (As-Sumtu)
Bagian lain dari pembahasan ini adalah mengenai pengendalian lisan sebagai bentuk penyucian diri (tasawuf).
Al-Qur’an menyebutkan konsep “puasa bicara” (saum) dalam beberapa kisah:
- Nabi Zakaria AS:
Beliau diperintahkan Allah untuk tidak berbicara kepada manusia selama tiga hari tiga malam sebagai bentuk syukur atas kabar kelahiran putranya, Yahya AS.
Selama masa itu, beliau hanya berkomunikasi menggunakan isyarat dan memperbanyak zikir. - Sayyidah Maryam AS:
Ketika menghadapi fitnah setelah melahirkan Nabi Isa AS, Allah memerintahkan Maryam untuk bernazar puasa bicara (saum).
Hal ini dilakukan agar ia tidak perlu meladeni kecaman kaumnya, hingga akhirnya mukjizat terjadi saat Nabi Isa yang masih bayi dapat berbicara untuk membela ibunya.
Puasa bicara ini merupakan bentuk latihan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjaga kesucian hati dari ucapan yang buruk.
Bagian 2: Hakikat Puasa Bicara (As-Sumtu), audio ustadz KH Jalaluddin Rakhmat
Mengendalikan Lisan
Pembahasan berlanjut pada pengendalian lisan berdasarkan Surah Annisa ayat 148, bahwa Allah tidak menyukai ucapan buruk yang diucapkan terang-terangan, kecuali oleh orang yang terzalimi. Salah satu praktik untuk mensucikan diri adalah As-Sumtu atau puasa bicara.
Kisah Nabi Zakaria AS
Contoh puasa bicara terdapat pada kisah Nabi Zakaria AS.
Setelah bertahun-tahun berdoa meminta keturunan hingga rambutnya memutih dan tulangnya rapuh, Allah akhirnya menganugerahinya putra bernama Yahya.
Sebagai bentuk syukur, Allah memerintahkan Nabi Zakaria untuk tidak berbicara kepada manusia selama tiga hari tiga malam.
Saat keluar dari mihrab, ia hanya menggunakan bahasa isyarat untuk mengajak kaumnya memperbanyak zikir di waktu pagi dan sore.
Kisah Sayyidah Maryam AS
Contoh kedua adalah puasa bicara (saum) Sayyidah Maryam AS menjelang kelahiran Nabi Isa AS.
Saat menghadapi fitnah dari kaumnya karena membawa bayi tanpa suami, Maryam diperintahkan Allah untuk bernazar puasa bicara.
Ketika kaumnya mencerca, Maryam hanya menunjuk kepada bayinya.
Atas izin Allah, Nabi Isa yang masih dalam buaian berbicara untuk membela ibunya dan menjelaskan statusnya sebagai hamba Allah dan seorang Nabi.


