Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Bismillahirrohmanirrohim. Alhamdulillahirrobbilalamin. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Di bulan suci Ramadan yang penuh berkah ini, kita akan melanjutkan tadabbur kisah para nabi yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an sebagai pelajaran hidup bagi kita semua.
Kali ini, kita akan masuk ke dalam rangkaian kisah Nabiyullah Isa AS, namun diawali dengan sosok luar biasa di baliknya, yaitu Siti Maryam.
Keistimewaan Siti Maryam dan Surat ke-19
Setiap nabi dan setiap manusia memiliki keistimewaan yang unik di mata Allah. Kita semua adalah pribadi yang istimewa; tidak ada satu pun orang di dunia ini yang benar-benar sama dengan kita.
Dalam Al-Qur’an, Allah memberikan penghormatan khusus kepada Siti Maryam dengan menamakan surat ke-19 dengan namanya: Surah Maryam.
Mengapa bukan Surah Nabi Isa atau Surah Al-Masih? Ini menunjukkan bahwa orang-orang di sekitar para nabi pun bisa memperoleh derajat kemuliaan yang sangat tinggi di sisi Allah.
Siti Maryam adalah sosok yang sejak lahir sudah dinazarkan oleh ibundanya untuk diwakafkan berkhidmat di jalan Tuhan.
Kehidupan di Mihrab dan Kesalehan
Siti Maryam tumbuh besar di bawah bimbingan Nabiyullah Zakaria AS. Beliau menghabiskan waktunya sebagai ahli ibadah di dalam mihrab dan sangat menjaga kesucian dirinya.
Saking salehnya, Allah memberikan karunia khusus berupa makanan yang datang di luar musimnya—seperti buah musim panas yang hadir di musim dingin, dan sebaliknya.
Ujian Fitnah yang Teramat Berat
Ujian besar datang ketika Allah menganugerahkan mukjizat berupa kelahiran Nabi Isa AS tanpa perantaraan seorang ayah.
Bagi Maryam yang telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk berkhidmat kepada Tuhan, ini adalah ujian mental yang luar biasa.
Ketika Maryam membawa bayi itu kembali ke masyarakatnya, ia langsung dihujani kecaman.
Orang-orang menuduhnya dengan berbagai tuduhan keji.
Sebagaimana terekam dalam Surah Maryam ayat 28, masyarakat berkata: “Wahai saudara perempuan Harun! Ayahmu bukan seorang yang buruk perangainya dan ibumu bukan seorang perempuan pezina”.
Mereka mempertanyakan bagaimana mungkin seorang wanita yang dikenal salehah bisa membawa seorang bayi tanpa suami.
Strategi Menghadapi Fitnah: Puasa Lisan
Menghadapi kecaman dan tuduhan tersebut, Maryam memberikan teladan luar biasa dalam mengendalikan diri.
Ia diperintahkan untuk bernazar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih untuk berpuasa lisan (shauman).
Maryam berkata (melalui isyarat): “Aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini”.
Pelajaran penting bagi kita adalah: saat menghadapi tuduhan, fitnah, atau kecaman, hal pertama yang harus kita kendalikan adalah lisan kita.
Terkadang, tidak semua hal perlu dijelaskan dengan kata-kata, terutama kepada mereka yang sudah menutup mata dari kebenaran.
Mukjizat Nabi Isa di Dalam Buaian
Sesuai perintah Allah, Maryam hanya menunjuk kepada bayinya saat orang-orang terus mencemoohnya.
Masyarakat merasa dihina karena diminta berbicara dengan bayi yang masih dalam ayunan. Namun, pada saat itulah terjadi keajaiban besar.
Bayi Isa berbicara dengan lantang:
“Inni Abdullah, ataniyal Kitaba wa ja’alani nabiya” (Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab dan Dia menjadikan aku seorang nabi).
Kalimat ini merupakan hujjah (bukti) yang tidak dapat dibantah lagi oleh masyarakat saat itu.
Menariknya, dalam bahasa Arab, kata “memberiku” dan “menjadikan aku” menggunakan bentuk lampau (fi’il madhi), yang mengisyaratkan bahwa kedudukan Nabi Isa sebagai nabi dan penerima kitab sudah ditetapkan sejak beliau berada di dalam buaian.
Renungan Penutup
Kisah ini membawa kita pada sebuah perenungan: Apakah kenabian itu adalah hasil usaha manusia ataukah murni anugerah dari Allah?.
Jika Nabi Isa sudah menjadi nabi sejak bayi, apakah hal yang sama berlaku bagi nabi-nabi lainnya, termasuk Baginda Nabi Muhammad SAW?.
Semoga di bulan Ramadan ini, doa-doa kita dikabulkan oleh Allah SWT. Kita memohon kemaslahatan bagi umat, persatuan bagi kaum muslimin, serta keselamatan bagi bangsa dan negara dari segala ujian dan wabah.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bersama KH Miftah F. Rakhmat
Judul video: Tawassul dalam Kisah Nabi Khidr AS. | Ustadz Miftah | #20 The Prophetic Wisdom Edisi Bulan Ramadhan – Watch on Youtube


