Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Makna Syajaratul Khuldi
Ustadz Miftah membuka dengan salam dan memperkenalkan kelanjutan pembahasan The Prophetic Wisdom edisi bulan Ramadhan di saluran NGOPI TV, yang kali ini menuntaskan pembahasan mengenai makna Syajarah (pohon) dalam kisah Nabi Adam AS.
Di antara para ahli tafsir, makna Syajarah ini umumnya dikaitkan dengan nikmat yang tidak akan pernah sanggup kita tunaikan haknya, yaitu nikmat keabadian yang dikenal sebagai Syajaratul Khuldi atau pohon buah khuldi.
Terkait godaan setan terhadap pohon ini, maknanya seringkali bersifat kiasan atau “bersayap”.
Hakikat Syukur dan Keterbatasan Manusia
Makna dari pohon keabadian ini adalah sebuah nikmat yang pada dasarnya tidak akan pernah mampu kita syukuri sepenuhnya.
Merujuk pada riwayat dari silsilah keturunan Nabi, Imam Hasan al-Askari, disebutkan bahwa pada hari akhir nanti, kaki anak Adam tidak akan melangkah sebelum mampu menjawab bagaimana ia mensyukuri nikmat Tuhan.
Beliau menjelaskan bahwa sekiranya manusia ditanya tentang syukur atas nikmat satu bola mata saja, seluruh anggota tubuh lainnya tidak akan sanggup menjawab atau menunaikan syukur tersebut.
Oleh karena itu, manusia dianjurkan untuk terus mengulang doa memohon ampunan dan kasih sayang Allah agar tidak termasuk golongan orang yang merugi.
Pohon Pengetahuan dan Makrifat
Allamah Thabathaba’i, penulis Tafsir Al-Mizan, menyebutkan bahwa pohon yang dimaksud adalah pohon wilayah atau pohon pengetahuan yang berkaitan dengan makrifatโrahasia kehidupan, rahasia makhluk, dan rahasia wujud.
Pohon ini terkait dengan manifestasi cinta Allah yang menjadi alasan diciptakannya seluruh alam semesta.
Larangan untuk “mendekati pohon” ini juga bisa dimaknai sebagai peringatan untuk tidak mempertanyakan karunia Allah yang mungkin tampak tidak adil dalam pandangan terbatas manusiaโseperti pertanyaan mengapa tidak ada nabi perempuan, mengapa para nabi banyak diturunkan di Timur Tengah, atau mengapa seseorang dipilih menjadi nabi,.
Pengetahuan ini bersifat bertahap; jika seseorang menerima pengetahuan yang belum sesuai dengan kadar kemampuannya, hal itu justru bisa menimbulkan salah paham atau mendatangkan kerugian bagi dirinya sendiri.
Pohon Keberadaan menurut Ibn Arabi
Seorang Sufi besar, Ibn Arabi, dalam bukunya Syajaratul Kawn (Pohon Keberadaan), merujuk pohon dalam kisah Nabi Adam sebagai pohon wujud atau pohon rahasia penciptaan.
Segala sesuatu diciptakan sebagai manifestasi cinta, kasih sayang, dan rahmat Allah bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin).
Karunia Warisan, Bukan Dosa Warisan
Ustadz Miftah menegaskan bahwa turunnya Nabi Adam ke dunia bukanlah karena “dosa warisan,” melainkan sebuah “karunia warisan”,.
Karunia ini meliputi karunia wujud, pengetahuan, dan cinta. Beliau menjelaskan pandangan Imam Fakhruddin al-Razi bahwa malaikat diizinkan turun ke bumi karena ada dua amalan mulia yang hanya bisa dilakukan oleh makhluk bumi (manusia) dan tidak dapat dilakukan oleh makhluk langit:
- Beristighfar:
Merintih memohon ampunan kepada Allah. - Berbagi:
Kemampuan mereka yang memiliki kelebihan untuk memberi kepada yang membutuhkan.
Sama halnya dengan cahaya yang baru terasa nikmatnya setelah mengalami kegelapan, pengalaman di bumi ini justru menambah rasa syukur kita.
Langkah Nabi Adam adalah langkah untuk mengantarkan umat manusia menuju tingkatan pengetahuan yang lebih tinggi dan mencapai kesempurnaan setinggi-tingginya.
Sebagai penutup, pembahasan ini merupakan ajakan bagi kita semua untuk terus menggali lebih dalam rahasia kisah para nabi dalam Al-Qur’an agar semakin dekat dengan kitab suci tersebut.

Bersama KH Miftah F. Rakhmat
Judul video: Syajarah Khuldi: Pohon Cinta Abadi? | Ustadz Miftah | #9 The Prophetic Wisdom Edisi Bulan Ramadhan – Watch on Youtube


