Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Kebijaksanaan Kenabian – Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim AS
Alhamdulillah, kita kembali lagi dalam edisi Prophetic Wisdom di bulan suci Ramadhan. Kali ini, kita akan menuntaskan pembahasan mengenai Nabiyullah Ibrahim Alaihissalam, sosok yang dikenal sebagai bapak para nabi.
Terdapat dua silsilah besar kenabian: satu yang tumbuh di tanah Palestina dan satu lagi di Jazirah Arab (Mekkah), di mana keduanya bertemu pada sosok Nabi Ibrahim AS.
Kisah Penghancuran Berhala dan Diplomasi Nabi Ibrahim
Kisah ini berfokus pada saat Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala dan menyisakan satu berhala paling besar.
Beliau kemudian menggantungkan kapak yang digunakannya pada leher berhala besar tersebut.
Ketika dipanggil ke hadapan Raja untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Nabi Ibrahim menjawab: “Bal faโalahu kabiruhum hadza”, yang artinya: “Sebenarnya patung besar itulah yang melakukannya”.
Hal ini memunculkan diskusi menarik: Apakah Nabi Ibrahim AS berdusta?
Pertanyaan ini penting karena para nabi adalah teladan utama bagi kita.
Etika Dakwah: Tujuan Tidak Menghalalkan Segala Cara
Dalam istilah manajemen modern, ada konsep “the end justifies the means” atau tujuan menghalalkan segala cara.
Namun, dalam menegakkan nilai-nilai agama, kita tidak boleh menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri.
Al-Qur’an memerintahkan kita untuk berdakwah menuju jalan Tuhan dengan hikmah (bil-hikmah) dan nasihat yang baik (mauidhoh hasanah).
Berbohong atau berdusta sama sekali tidak termasuk dalam kategori hikmah maupun nasihat yang baik. Oleh karena itu, penyampaian Nabi Ibrahim pasti dilakukan dengan cara yang sebaik-baiknya.
Mengenal Konsep “Tauriyah”
Untuk memahami hal ini, Imam Ghazali dalam pembahasan tentang lisan (Afatul Lisan) menjelaskan sebuah konsep yang disebut Tauriyah.
Tauriyah adalah kalimat yang ambigu atau “bersayap”; kalimat tersebut tidak mengandung dusta, namun juga tidak menyampaikan kebenaran secara terang-benderang demi tujuan yang lebih besar, seperti menyelamatkan jiwa atau umat.
Contoh Sederhana Tauriyah:
Bayangkan ada seseorang yang dikejar gerombolan dan bersembunyi di rumah Anda. Awalnya Anda berdiri di tiang sebelah kiri saat orang itu masuk, lalu Anda berpindah ke tiang sebelah kanan.
Ketika gerombolan pengejar bertanya apakah Anda melihat orang tersebut, Anda menjawab: “Selama saya berdiri di sini, saya tidak melihat orang yang Anda ceritakan”.
Secara teknis Anda tidak berbohong, karena sejak Anda berdiri di posisi (tiang) yang baru, Anda memang tidak melihat orang itu lewat.
Tafsir Kalimat Nabi Ibrahim
Berdasarkan konsep tersebut, terdapat dua pemaknaan terhadap kalimat Nabi Ibrahim (Bal faโalahu kabiruhum hadza):
- Menggiring Opini:
Beliau ingin menunjukkan betapa tidak berdayanya berhala besar tersebut karena tidak mampu berbuat apa-apa, apalagi melakukan penghancuran. - Makna Tersembunyi:
Secara metaforis, kalimat tersebut juga bisa merujuk kepada diri Nabi Ibrahim sendiri sebagai sosok yang “besar” (dalam hal keberanian atau kedudukan) yang melakukannya.
Kesimpulan dan Penutup
Pelajaran penting dari sini adalah bahwa kita bertanggung jawab atas apa yang kita sampaikan, tetapi kita tidak bisa bertanggung jawab atas bagaimana orang lain mempersepsikan pesan tersebut.
Memahami persepsi masyarakat adalah tingkatan lanjut setelah memahami konsep Tauriyah.
Mari kita terus mengkaji lebih dalam kisah para nabi dalam Al-Qur’an. Semoga Allah mengangkat segala ujian dan wabah dari umat manusia.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bersama KH Miftah F. Rakhmat
Judul video: Mulutmu Penyelamatmu | Ustadz Miftah | #10 The Prophetic Wisdom Edisi Bulan Suci Ramadhan – Watch on Youtube


