Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Hikmah di Balik Kisah Para Nabi
Bismillahirohmanirohim. Dalam suasana bulan suci Ramadan yang penuh berkah ini, kita memanfaatkan waktu untuk mengkaji kisah para nabi dalam serial Prophetic Wisdom.
Ada dua alasan utama mengapa kita mempelajari sejarah mereka: pertama, karena pada diri para nabi terdapat teladan yang sangat besar; kedua, karena kisah-kisah ini dipetik langsung dari kitab suci Al-Qur’an, yang mana Ramadan adalah bulan di mana Al-Qur’an diturunkan.
Keistimewaan Nabi Musa AS dan Nabi Muhammad SAW dalam Al-Qur’an
Kali ini, kita membahas fragmen kisah Nabi Musa AS, seorang nabi dari golongan Ulul Azmi.
Jika kita perhatikan, nama Nabi Muhammad SAW secara eksplisit hanya disebut empat kali dalam Al-Qur’an, itu pun dalam posisi orang ketiga, bukan sapaan langsung.
Allah SWT tidak pernah memanggil Nabi Muhammad SAW langsung dengan namanya sebagai bentuk penghormatan dan akhlak yang mulia, melainkan dengan gelar seperti “Ya ayyuhan nabiyyu” atau “Ya ayyuha rasul”.
Berbeda dengan nabi-nabi lain yang sering disapa langsung dengan nama mereka, seperti “Ya Adam,” “Ya Nuh,” “Ya Isa,” termasuk Nabi Musa AS dalam ayat “Wama tilka biyaminika ya Musa” (Apa yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?) saat beliau berbicara langsung dengan Allah di Bukit Sina.
Nabi Musa AS termasuk nabi yang namanya paling banyak disebut dan kisahnya tersebar luas di berbagai surat dalam Al-Qur’an, mulai dari Al-Baqarah hingga surat-surat lainnya.
Tugas Khusus Nabi Musa AS untuk Bani Israil
Berbeda dengan Nabi Muhammad SAW yang diutus sebagai rahmatan lil’alamin untuk seluruh umat, zaman, dan makhluk hingga akhir zaman, para nabi sebelumnya memiliki tugas yang lebih spesifik.
Nabi Musa AS diutus khusus untuk kaum Bani Israil dengan misi utama membebaskan mereka dari penjajahan dan cengkraman kekuasaan Firaun.
Sebagai contoh batas wilayah risalah ini, pada masa itu Nabi Musa AS memimpin Bani Israil, sementara di wilayah Madyan terdapat Nabi Syuaib AS yang membimbing kaumnya sendiri.
Risalah Nabi Musa tidak mencakup bangsa Madyan, melainkan fokus sepenuhnya pada urusan Bani Israil.
Peristiwa di Kota: Sebuah Konflik dan Ketidaksengajaan
Salah satu peristiwa penting yang memicu perjalanan panjang Nabi Musa diceritakan dalam Surat Al-Qashash ayat 15. Suatu ketika, Nabi Musa memasuki sebuah kota saat penduduknya sedang lengah. Beliau mendapati dua orang sedang berkelahi: satu orang berasal dari golongannya (Bani Israil) dan satu lagi dari kelompok musuh (pendukung Firaun).
Orang dari kaum Bani Israil tersebut meminta tolong kepada Nabi Musa. Merespons permintaan bantuan itu, Nabi Musa kemudian memukul atau meninju orang dari kelompok musuh tersebut dengan keras (wakaza).
Namun, di luar dugaan, pukulan tersebut menyebabkan orang itu meninggal dunia.
Refleksi Nabi Musa AS
Menghadapi kenyataan bahwa tindakannya menyebabkan jatuhnya korban jiwa, Nabi Musa AS tidak membenarkan kejadian tersebut sebagai contoh perilaku yang patut diikuti begitu saja.
Beliau justru berkata, “Hadza min ‘amalis syaithan” (Sesungguhnya ini adalah perbuatan setan).
Bagaimana mungkin seorang nabi melakukan perbuatan yang kemudian beliau sebut sebagai perbuatan setan?
Dan bagaimana hikmah di balik peristiwa tragis ini? Hal ini menjadi poin refleksi yang mendalam tentang kemanusiaan dan penjagaan Allah terhadap para nabi-Nya.

Bersama KH Miftah F. Rakhmat
Judul video: Nabi Musa AS. Pernah Membunuh? | Ustadz Miftah – Watch on Youtube


