Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahirabbil’alamin, bertemu kembali dalam channel NGOPI TV pada edisi The Prophetic Wisdom seri bulan suci Ramadhan.
Kali ini, kita akan mengisahkan sepenggal hikmah dan perumpamaan yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari kisah Nabiyullah Musa Alaihisshalatu Wassalam.
Beliau adalah salah seorang nabi yang termasuk dalam golongan Ulul Azmi dari sekian ratus ribu nabi yang diturunkan Allah ke muka bumi.
Keistimewaan Nabi Musa AS dalam Al-Qur’an
Kisah Nabi Musa AS selalu memiliki tempat yang istimewa.
Perlu dipahami bahwa ketika kita menyebutkan “istimewa,” hal itu bukan berarti meninggikan satu nabi di atas nabi lainnya, melainkan merujuk pada karunia khusus yang Allah anugerahkan kepada setiap individu.
Sebagaimana Allah memuliakan seluruh keturunan Adam, setiap manusia sejatinya memiliki keistimewaan masing-masing.
Nabiyullah Musa AS memiliki keistimewaan tersendiri, di antaranya:
- Nama yang Paling Banyak Disebut:
Nama Nabi Musa AS disebut sebanyak kurang lebih 136 kali dalam Al-Qur’an, yang tersebar di sekitar 131 ayat.
Sebagai perbandingan, nama Baginda Nabi Muhammad SAW sendiri secara eksplisit disebut sebanyak empat kali. - Kelengkapan Kisah:
Berbeda dengan banyak nabi lain yang sejarah masa kecilnya tidak banyak diceritakan secara detail dalam Al-Qur’an, kisah Nabi Musa AS terekam dengan sangat lengkap, mulai dari saat beliau dilahirkan, masa kecilnya, hingga perjalanan risalah kenabiannya.
Konteks Kelahiran dan Ancaman Firaun
Kisah ini bermula ketika Firaun mendapatkan isyarat melalui mimpinya tentang kehadiran sosok laki-laki yang akan membawa kehancuran bagi kerajaannya.
Menanggapi ancaman tersebut, Firaun memerintahkan tentaranya untuk menyisir setiap pelosok dan merenggut nyawa bayi-bayi laki-laki dari Bani Israil dengan cara yang sangat kejam.
Di tengah situasi yang mengerikan tersebut, Allah SWT memberikan perlindungan kepada Nabi Musa AS melalui ibundanya.
Wahyu atau Ilham kepada Ibu Nabi Musa?
Dalam Surah Thaha ayat 38, Allah berfirman: “Idz auhayna ila ummika ma yuha,” yang dalam terjemahan bahasa Indonesia sering diartikan sebagai “ketika Kami ilhamkan kepada ibumu apa yang diilhamkan”.
Terdapat diskusi menarik mengenai penggunaan kata “Uhayna” (Wahyu) dalam ayat ini.
Mengingat wahyu biasanya hanya diturunkan kepada para nabi, mengapa Allah menggunakan kata tersebut untuk ibu Nabi Musa yang bukan nabi?.
Untuk membedakannya, penerjemah di Indonesia sering memilih kata “Ilham,” meskipun dalam teks aslinya Al-Qur’an menggunakan kata “Wahyu”.
Perintah yang diterima sang ibu adalah meletakkan bayi Musa ke dalam sebuah peti atau keranjang (tabut), lalu menghanyutkannya ke sungai. Allah menjanjikan bahwa arus sungai akan membawanya ke tepi, di mana ia akan ditemukan oleh seseorang yang merupakan musuh Allah sekaligus musuh Musa, yaitu Firaun sendiri.
Renungan: Mengapa Harus Ada Korban Bayi Lainnya?
Dari kisah pengejaran Firaun terhadap bayi-bayi tersebut, muncul sebuah pertanyaan mendalam sebagai bahan refleksi bagi kita semua:
“Bagaimana nasib para bayi yang menjadi korban itu?”. Demi menyelamatkan seorang bayi yang kelak menjadi nabi besar, mengapa puluhan atau mungkin ratusan bayi lain yang tidak berdosa harus menjadi korban kejahatan Firaun?.
Jika bayi-bayi itu suci dan kembali kepada Allah, lantas bagaimana dengan perasaan dan nasib kedua orang tua mereka yang harus kehilangan anak-anak mereka?.
Inilah pertanyaan besar yang menjadi bahan kajian kita lebih jauh untuk memetik hikmah di balik setiap takdir dan rencana Allah SWT.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bersama KH Miftah F. Rakhmat
Judul video: Benarkah Bayi-Bayi Jadi Tameng Nabi Musa AS? | Ustadz Miftah |#5 The Prophetic Wisdom Bulan Ramadhan – Watch on Youtube


