Sebelum Ali berangkat menuju Yaman, Rasulullah SAW memanggilnya.
Kali ini Ali tidak dikirim sebagai panglima perang.
Tidak ada benteng yang harus dijebol.
Tidak ada pendekar yang harus dihadapi.
Tidak ada pasukan yang menunggu untuk ditaklukkan.
Rasulullah mengutus Ali sebagai hakim.
Ali masih muda.
Ia dapat berdiri menghadapi ribuan pedang tanpa ragu. Namun ketika diperintahkan mengadili perselisihan manusia, ia berkata dengan jujur:
“Wahai Rasulullah, engkau mengutusku kepada suatu kaum, sedangkan aku masih muda dan belum mengetahui bagaimana harus memutuskan perkara.”
Rasulullah mendekatinya.
Beliau meletakkan tangannya di dada Ali.
Dada yang pernah dijadikan benteng bagi tubuh Muhammad.
Dada yang telah menerima hantaman di Uhud.
Dada yang tidak pernah mundur dari bahaya.
Kemudian Rasulullah berdoa:
“Ya Allah, tunjukilah hatinya dan teguhkanlah lisannya.”
Lalu beliau mengajarkan satu prinsip yang seharusnya ditulis di setiap ruang pengadilan:
“Jika dua orang yang berselisih duduk di hadapanmu, janganlah engkau memutuskan sebelum mendengar pihak kedua sebagaimana engkau telah mendengar pihak pertama.”
Ali berangkat.
Ia tidak membawa kitab hukum yang memenuhi punggung unta.
Ia membawa tangan Rasulullah yang pernah menyentuh dadanya.
Ia membawa doa Nabi yang telah memasuki hatinya.
Dan sejak saat itu, Ali berkata bahwa dirinya tidak lagi meragukan keputusan yang dibuatnya di antara dua orang.
Di Yaman, tidak lama kemudian, terjadilah sebuah peristiwa mengerikan.
Orang-orang menggali lubang besar untuk menjebak seekor singa.
Singa itu akhirnya jatuh ke dalamnya.
Kabar segera menyebar.
Penduduk berdatangan dari berbagai arah. Mereka berkerumun di tepi lubang untuk melihat binatang buas yang mengaum dari bawah.
Semakin banyak orang datang.
Barisan belakang terus mendesak maju.
Tanah di sekitar lubang mulai rapuh.
Tiba-tiba kaki seorang lelaki tergelincir.
Tubuhnya terjatuh menuju lubang.
Dalam kepanikan, tangannya meraih lelaki di sebelahnya.
Orang kedua ikut terseret.
Ia berusaha menyelamatkan diri dengan memegang orang ketiga.
Orang ketiga meraih orang keempat.
Dalam sekejap, empat manusia jatuh bertumpuk ke dalam lubang singa.
Teriakan pecah.
Orang-orang mundur.
Sebagian mencari tombak.
Sebagian melempari singa dari atas.
Namun semuanya terlambat.
Keempat orang itu mengalami luka berat dan akhirnya meninggal.
Kesedihan segera berubah menjadi kemarahan.
Keluarga orang pertama menuntut pertanggungjawaban.
Keluarga orang kedua berkata bahwa kerabat mereka ditarik oleh orang pertama.
Keluarga orang ketiga menuduh orang kedua.
Keluarga orang keempat menuntut karena kerabat mereka tidak menarik siapa pun—ia hanya menjadi korban dari orang-orang yang berada di depannya.
Setiap keluarga merasa paling berhak menuntut.
Setiap kabilah merasa darah anggotanya lebih mahal daripada darah yang lain.
Suara tangisan berubah menjadi teriakan.
Teriakan berubah menjadi ancaman.
Ancaman berubah menjadi pedang yang ditarik dari sarungnya.
Orang-orang yang beberapa saat sebelumnya berdiri bersama melihat singa, kini saling berhadapan sebagai musuh.
Empat orang telah meninggal.
Namun karena empat kematian itu, ratusan orang hampir saling membunuh.
Pedang-pedang telah terhunus.
Tombak-tombak telah diarahkan.
Kabilah-kabilah mulai menyusun barisan.
Sedikit saja seseorang mengayunkan senjata, darah akan mengalir memenuhi tanah Yaman.
Pada saat itulah Ali datang.
Ia melihat wajah-wajah yang dipenuhi kemarahan.
Ia melihat keluarga-keluarga yang berduka.
Ia melihat ratusan manusia siap menambahkan kematian baru kepada empat kematian yang belum selesai mereka tangisi.
Ali berdiri di antara mereka.
Suaranya mengguncang kerumunan:
“Celakalah kalian! Apakah kalian hendak membunuh dua ratus manusia hanya karena perkara empat orang?”
Semua mata memandang kepadanya.
Pedang masih berada di tangan.
Namun tidak seorang pun berani memulai serangan.
Ali melanjutkan:
“Datanglah kepadaku. Aku akan memutuskan perkara di antara kalian. Jika kalian menerima keputusanku, selesailah persoalan ini. Jika tidak, bawalah perkara kalian kepada Rasulullah.”
Mereka setuju.
Ali tidak langsung menjatuhkan putusan.
Ia mendengar keluarga orang pertama.
Kemudian keluarga orang kedua.
Lalu keluarga orang ketiga.
Terakhir, keluarga orang keempat.
Ia tidak membiarkan kemarahan menentukan siapa yang benar.
Ia mengulang ajaran Rasulullah:
Mendengar pihak pertama tidak pernah cukup sebelum pihak kedua memperoleh kesempatan yang sama.
Ali kemudian memeriksa rangkaian peristiwa.
Orang pertama terjatuh, tetapi ia menarik orang kedua.
Orang kedua menjadi korban, tetapi tangannya menarik orang ketiga.
Orang ketiga ikut terseret, tetapi ia menarik orang keempat.
Sedangkan orang keempat tidak menarik siapa pun.
Ia adalah ujung dari seluruh rangkaian.
Ali menghitung hubungan sebab dan akibat di antara mereka.
Lalu ia menetapkan pembayaran diyat secara bertingkat:
Untuk orang pertama, seperempat diyat.
Untuk orang kedua, sepertiga diyat.
Untuk orang ketiga, setengah diyat.
Untuk orang keempat, satu diyat penuh.
Pembayarannya dibebankan kepada kabilah-kabilah orang yang berdesakan di sekitar lubang itu.
Kerumunan terdiam.
Sebagian menerima.
Sebagian masih tidak puas.
Namun Ali tidak memaksa mereka menerima putusannya karena takut kepada pedangnya.
Ia berkata:
“Bawalah perkara ini kepada Rasulullah.”
Mereka pun pergi menuju Madinah.
Mereka ingin Nabi sendiri memutuskan.
Ketika sampai di hadapan Rasulullah, mereka menceritakan seluruh kejadian: lubang singa, empat orang yang jatuh, perselisihan kabilah, dan keputusan Ali.
Rasulullah mendengarkan.
Kemudian beliau diberi tahu bagaimana Ali membagi tanggung jawab di antara mereka.
Rasulullah tidak membatalkannya.
Beliau mengesahkan keputusan Ali.
Saat itulah orang-orang Yaman memahami:
Ali tidak sedang menebak.
Tangan Rasulullah yang dahulu diletakkan di dadanya telah menjadi doa.
Doa itu telah menjadi cahaya.
Dan cahaya itu berbicara melalui keputusan Ali.
Kita terlalu sering mengagumi Ali karena pedangnya.
Memang, pedang Ali mengakhiri perlawanan Marhab.
Pedang Ali menjatuhkan Amr bin Abdi Wudd.
Pedang Ali menjaga Rasulullah di Uhud dan Hunain.
Namun kisah di Yaman memperlihatkan bentuk keberanian yang lain.
Mengayunkan pedang di tengah pertempuran membutuhkan kekuatan.
Tetapi berdiri di antara dua ratus manusia yang sedang marah, menghentikan mereka, mendengarkan seluruh pihak, lalu menjatuhkan keputusan yang adil—membutuhkan sesuatu yang lebih langka:
hati yang tidak dapat ditundukkan oleh tekanan.
Di Khaibar, Ali mengangkat pintu yang konon tidak sanggup diangkat puluhan orang.
Tetapi di Yaman, Ali mengangkat beban yang jauh lebih berat:
Darah empat manusia.
Kemarahan empat keluarga.
Kehormatan beberapa kabilah.
Dan kemungkinan pecahnya perang yang dapat menelan ratusan korban.
Semuanya diletakkan di hadapannya.
Ali tidak marah.
Tidak panik.
Tidak memihak kepada kabilah yang paling kuat.
Tidak memutuskan berdasarkan siapa yang paling keras berteriak.
Ia mendengarkan.
Menghitung.
Menimbang.
Lalu memutuskan.
Satu keputusan menghentikan ratusan pedang.
Satu keputusan menyelamatkan dua ratus nyawa.
Dan ketika perkara itu dibawa kepada Rasulullah, keputusan Ali tetap berdiri.
Sebab pada hari keberangkatannya ke Yaman, Rasulullah tidak hanya mengirim seorang hakim muda.
Beliau telah meletakkan tangannya di dada Ali dan memohon:
“Ya Allah, tunjukilah hatinya dan teguhkanlah lisannya.”
Di Badar, Allah meneguhkan tangan Ali.
Di Yaman, Allah meneguhkan lisannya.
Dan terkadang, lidah yang menegakkan keadilan—
jauh lebih dahsyat daripada pedang yang memenangkan peperangan.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Catatan sumber:
Pengutusan Imam Ali sebagai hakim ke Yaman, doa Rasulullah agar hatinya diberi petunjuk dan lisannya diteguhkan, serta perintah mendengarkan kedua pihak diriwayatkan dengan derajat hasan dalam “Sunan Abi Dawud 3582”.
Kisah lubang singa dan pengesahan Nabi atas keputusan Ali tercatat dalam “Musnad Ahmad 1310” ; sanad jalur ini dinilai lemah oleh penilaian Darussalam karena kelemahan Hanasy bin al-Mu‘tamir, sehingga kisah tersebut tepat disampaikan sebagai sebuah riwayat yang masyhur.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1EpMvi9vqn/

