16 October 2026

Jejak Nama yang Tersembunyi

Nama asli Abu Hurairah adalah Abdurrahman bin Shakhr ad-Dausi al-Yamani. Julukan Abu Hurairah—“bapak kucing kecil”—datang dari kebiasaannya membawa anak kucing. Julukan sederhana ini menutupi nama aslinya, dan sebagian ulama melihatnya sebagai simbol oportunisme: kucing mendekat bila ada makanan, lucu tapi penuh kepentingan.

Abu Hurairah hanya bersama Nabi ﷺ selama 3 tahun (7–10 H), tetapi meriwayatkan 5.374 hadis. Jumlah ini jauh melampaui sahabat yang mendampingi Nabi sejak awal. Perbedaan mencolok ini menimbulkan kecurigaan: mengapa ia bisa menjadi “produsen” hadis terbesar?

Kedekatan dengan Kekuasaan

Setelah wafat Nabi, Abu Hurairah dekat dengan penguasa Bani Umayyah, khususnya Muawiyah bin Abu Sufyan. Ia diangkat menjadi gubernur Bahrain dan memperoleh fasilitas besar. Kedekatan ini memunculkan dugaan bahwa hadis-hadis darinya sering “disesuaikan” untuk memperkuat otoritas politik penguasa.

Hadis-Hadis Kontroversial

Selain riwayat ganjil (Musa menampar Malaikat Maut, setan mengikat manusia tidur, kucing menjilat air), terdapat hadis-hadis yang mendukung status quo politik:

  1. Taat kepada penguasa zalim

Abu Hurairah meriwayatkan Nabi bersabda: “Taatlah kepada pemimpinmu, meskipun ia memukul punggungmu dan mengambil hartamu.” (HR. Muslim, riwayat Abu Hurairah dan Hudzaifah).

→ Hadis ini sangat cocok untuk menjaga legitimasi kekuasaan zalim Bani Umayyah, yang banyak mendapat penolakan rakyat.

  1. Puji-pujian terhadap Muawiyah

Ada riwayat tentang doa Nabi: “Ya Allah, jadikanlah Muawiyah seorang pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk.”

→ Riwayat ini justru bertentangan dengan banyak catatan sejarah tentang permusuhan Muawiyah terhadap Ahlul Bait.

  1. Larangan memberontak kepada pemimpin

Ia meriwayatkan hadis yang menegaskan bahwa siapa pun yang keluar dari ketaatan kepada penguasa akan mati seperti mati jahiliyah.

→ Riwayat ini dipakai Bani Umayyah untuk membungkam kritik dan pemberontakan, meskipun penguasa mereka zalim.

Kritik dari Sahabat Lain

  • Umar bin Khattab: menegurnya dan pernah melarangnya meriwayatkan hadis.
  • Aisyah: berkali-kali mengoreksi hadisnya yang dianggap tidak sesuai dengan kenyataan.
  • Ali bin Abi Thalib: menyebut Abu Hurairah sebagai “orang yang paling banyak berdusta atas nama Rasulullah.”

Kritik keras ini memperlihatkan bahwa sejak awal, para sahabat besar tidak sepakat dengan “banjir hadis” dari Abu Hurairah.

Fungsi Politik Hadis Abu Hurairah

Hadis-hadis Abu Hurairah dijadikan alat propaganda Bani Umayyah:

  1. Menjinakkan oposisi dengan hadis taat kepada penguasa zalim.
  2. Mengangkat citra penguasa dengan riwayat yang memuji tokoh-tokoh tertentu.
  3. Melemahkan posisi Ahlul Bait dengan menyebarkan riwayat yang mengurangi wibawa mereka atau menutupi hak-hak mereka.

Dengan cara ini, hadis tidak lagi murni ajaran Nabi, melainkan instrumen politik.

Kenapa Kita Harus Curiga?

  1. Jumlah hadis tidak wajar dibanding masa kebersamaan dengan Nabi.
  2. Kedekatan dengan Bani Umayyah membuka ruang manipulasi.
  3. Kritikan keras sahabat utama menunjukkan ada masalah serius dalam riwayatnya.
  4. Konten hadis yang aneh dan politis, bertentangan dengan Al-Qur’an dan semangat risalah Nabi.

Antara Kucing dan Hadis

Julukan Abu Hurairah seolah nubuwah simbolis: kucing hanya mendekat saat ada makanan. Jika sifat ini disematkan pada manusia, maka hadis bisa menjadi jalan mencari penghidupan dan kedekatan dengan kekuasaan.

Namun, Islam dijaga oleh Al-Qur’an dan Ahlul Bait. Ribuan hadis yang meragukan tidak akan meruntuhkan agama, tetapi menjadi pelajaran agar kita kritis: tidak semua riwayat harus diterima tanpa saringan akal, nash Al-Qur’an, dan tolok ukur dari keluarga Nabi.

Wallahu a’lam.

Abu hurairah

 

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1cxBfA1oTP/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us