3 September 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Alhamdulillah, kita dapat berjumpa kembali dalam upaya meraih keberkahan di hari-hari bulan suci Ramadhan melalui kajian kisah para nabi yang diambil dari Al-Qur’anul Karim.
Kajian ini merupakan bagian dari ikhtiar kita untuk memuliakan bulan Ramadhan, memuliakan kitab suci Al-Qur’an, serta mengisi kegiatan tadarus dengan mengkaji hikmah yang difirmankan Allah SWT.

Keistimewaan Kisah Nabi Yusuf AS

Saat ini kita masih membahas tentang Nabi Yusuf Alaihis shalatu Wassalam. Kisah beliau memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri dibandingkan kisah nabi-nabi lainnya.
Pertama, kisahnya diceritakan secara sangat rinci dan detail, mulai dari masa kecil, berbagai peristiwa hidupnya, hingga akhir kisah yang menceritakan perjumpaan kembali dengan ayahnya.
Berbeda dengan nabi lain yang mungkin hanya dikisahkan masa kenabian atau risalahnya saja secara terfragmentasi, kisah Nabi Yusuf terhimpun secara utuh.

Kedua, Allah SWT mengkhususkan kisah ini dalam satu surat saja, yaitu Surat Yusuf.
Jika kisah nabi lain seperti Nabi Ibrahim atau Nabi Musa tersebar di berbagai surat (seperti Al-Baqarah atau Al-Kahfi), seluruh rangkaian cerita Nabi Yusuf terfokus dalam satu surat tersebut.
Itulah sebabnya kisah ini disebut sebagai Ahsan Al-Qashash atau kisah yang paling indah.

Cinta yang Dibalut Kesabaran

Meskipun sering kali dipahami secara sempit sebagai kisah cinta antara laki-laki dan perempuan, Surat Yusuf sebenarnya lebih tepat dipahami sebagai kisah cinta seorang ayah kepada anaknya, serta kerinduan seorang nabi kepada umatnya.
Namun, ada hal utama yang membungkus cinta tersebut sehingga menjadi begitu indah dan istimewa, yaitu kesabaran.

Dalam Al-Qur’an, terdapat banyak ayat mengenai sabar, namun ungkapan “sabar itu indah” (fashobrun jamil) hanya disebutkan dua kali, dan keduanya terdapat dalam Surat Yusuf.
Hal ini mengajarkan bahwa cinta sejati harus diwujudkan dalam kesabaran. Tidak akan ada cinta tanpa kesabaran, penantian, pengharapan, dan kebergantungan penuh kepada Allah SWT.
Kedua ungkapan fashobrun jamil tersebut disampaikan oleh Nabi Ya’qub AS dalam menghadapi ujian kehilangan putranya.

Harapan vs Putus Asa

Surat Yusuf juga memberikan pesan kuat agar manusia tidak berputus asa dari rahmat Allah.
Menariknya, kata-kata yang melarang keputusasaan dan menumbuhkan harapan justru banyak ditemukan dalam surat ini.
Al-Qur’an mengajarkan bahwa seberat apa pun keadaan yang kita alami, kita harus tetap memiliki harapan dan keyakinan sepenuhnya kepada Allah SWT.

Perspektif Lain dalam Kisah Yusuf

Terdapat bagian menarik yang patut direnungkan dari sisi kemanusiaan para nabi ini:

  1. Sisi Nabi Ya’qub AS:
    Ketika putra-putranya membawa baju dengan darah palsu, Nabi Ya’qub secara lahiriah bisa saja mencari tahu kebenarannya atau mencari lokasi kejadiannya.
    Apalagi dalam tafsir disebutkan baju tersebut tidak robek sedikit pun, yang seharusnya menimbulkan kecurigaan.
  2. Sisi Nabi Yusuf AS:
    Mengapa saat ditemukan oleh kafilah di sumur, Nabi Yusuf tidak meminta tolong untuk diantarkan kembali kepada ayahnya?.
    Bahkan ketika beliau sudah menjadi penguasa besar di Mesir dan memiliki segala kemampuan, tidak ada cerita beliau segera pulang untuk menengok ayahnya.

Pertanyaan-pertanyaan ini mengajak kita untuk melihat kisah para nabi dari berbagai perspektif yang lebih dalam.

Penutup

Semoga kita semua diberikan kemudahan dalam menjalani ujian, termasuk situasi wabah saat ini.
Doa terbaik bagi para tenaga medis dan semua petugas yang berjuang di luar sana, sementara kita menjalankan bagian kita dengan tetap berada di rumah.

Semoga segala urusan kita berada dalam kemudahan Allah SWT.

Resep Cinta Sejati Nabi Yusuf

Bersama KH Miftah F. Rakhmat

Judul video: Apa Resep Cinta Sejati? | Ustadz Miftah | #12 The Prophetic Wisdom Edisi Bulan Suci Ramadhan – Watch on Youtube

Yuk Subscribe NGOPI TV:
Subscribe Channel NGOPI TV

 

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us