15 October 2026

Anak itu berhenti di belakang teman-temannya.

Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat sebuah wadah berisi madu. Cahaya menyentuh permukaannya, membuat warna keemasan itu tampak hangat.

Anak-anak lain bergerak mendekat.

Ia tetap di tempatnya.

Kedua tangannya meremas ujung pakaian. Sesekali ia mengangkat wajah, lalu menundukkannya kembali, seperti sedang memastikan apakah kedatangannya benar-benar dikehendaki.

Di hadapannya duduk Ali bin Abi Thalib.

Dan hari itu, anak-anak yatim menjadi tamunya.

⸻

Bagi seorang anak, kehilangan ayah dapat tinggal dalam perkara-perkara yang sangat kecil.

Pada langkah yang tidak lagi terdengar pulang.

Pada pertanyaan yang tidak tahu harus disampaikan kepada siapa.

Pada kegembiraan yang tiba-tiba tertahan karena seseorang yang biasanya ikut bergembira sudah tidak ada.

Dunia tetap bergerak. Orang-orang tetap membuka pintu rumah, pergi bekerja, bercakap-cakap, dan menyusun rencana.

Seorang anak harus belajar menjalani semua itu sambil membawa sebuah ketidakhadiran.

Kadang ia menjadi lebih pendiam.

Kadang ia berusaha tampak berani.

Kadang ia hanya memerlukan seseorang yang tidak tergesa-gesa ketika menatapnya.

Di tempat itu, mereka memperoleh perhatian.

Ali mengundang mereka.

Madu disediakan untuk mereka.

Mereka mempunyai tempat untuk mendekat.

⸻

Anak yang berdiri paling belakang itu kembali mengangkat wajah.

Kali ini, ia mendapati perhatian Ali tertuju kepadanya.

Sebuah tangan terbuka.

Gerakannya sederhana, memberi ruang baginya untuk maju.

Anak itu menoleh sebentar kepada teman di sisinya. Kemudian ia melangkah.

Satu langkah.

Lalu satu lagi.

Ujung pakaiannya terlepas dari genggaman.

Di dekat Ali, ia berhenti dengan bahu masih sedikit terangkat. Ada kehati-hatian yang sering kita lihat pada anak yang belum yakin bagaimana ia akan diterima.

Ali memberinya madu.

Anak itu mengecapnya.

Untuk sesaat, wajahnya tetap diam. Kemudian matanya bergerak menuju wadah, lalu kembali kepada orang yang berada di hadapannya.

Manis.

Sesuatu yang begitu sederhana tiba-tiba memenuhi seluruh perhatiannya.

Ia menelan, dan sebuah senyum kecil mulai terbentuk.

⸻

Di sekelilingnya, suasana perlahan menjadi lebih hidup.

Anak-anak menunggu giliran. Ada yang memperhatikan temannya dengan penuh minat. Ada yang tersenyum setelah mencicipi madu. Suara-suara kecil mulai mengisi ruang yang semula terasa asing bagi mereka.

Seorang anak menggeser duduknya lebih dekat.

Yang lain berhenti menyembunyikan kedua tangan di balik pakaian.

Kegugupan pelan-pelan mengendur.

Ali berada di tengah mereka.

Dalam adegan itu, kebesaran seorang pemimpin terasa begitu dekat: pada waktu yang diberikannya, pada kesabarannya menghadapi gerak anak-anak, pada perhatian yang membuat mereka berani menjadi diri sendiri.

Madu dapat dimasukkan ke dalam wadah dan dikirimkan.

Namun sebuah pertemuan memberi sesuatu yang hanya dapat diterima melalui kehadiran.

Seorang anak dapat merasakan bahwa orang dewasa di hadapannya bersedia tinggal.

Bersedia memperhatikan.

Bersedia membiarkan kegembiraannya tumbuh tanpa segera menyuruhnya diam.

⸻

Anak kecil tadi kini duduk lebih tenang.

Tangannya terletak di atas lutut. Sesekali ia mengikuti gerak Ali dengan pandangan, kemudian melihat teman-temannya.

Senyumnya belum hilang.

Barangkali seperti itulah sebuah rasa aman mulai tumbuh: sangat perlahan, melalui kejadian yang tampak kecil bagi orang dewasa.

Seseorang mempersilakannya mendekat.

Seseorang memberinya sesuatu yang baik.

Seseorang memperlakukannya dengan kelembutan, tanpa membuatnya merasa menjadi beban.

Kehilangan ayah tetap menjadi bagian hidupnya. Sebuah pertemuan tidak dapat menghapus seluruh kesedihan itu.

Tetapi kasih sayang dapat memberinya tempat untuk beristirahat.

Untuk beberapa saat, ia boleh menikmati rasa manis.

Ia boleh tersenyum.

Ia boleh menjadi seorang anak.

⸻

Ada orang dewasa yang menyaksikan pemandangan tersebut.

Dalam riwayat, salah seorang sahabat sampai berkata:

“Seandainya aku seorang yatim.”

Kalimat itu membuat kita terdiam.

Kita mengetahui beratnya kehilangan yang terkandung dalam kata yatim. Karena itu, ungkapan tersebut terasa begitu kuat.

Dalam pembacaan kita, ia menggambarkan kekaguman terhadap perhatian yang diterima anak-anak itu. Begitu besar kelembutan yang terlihat, sampai seorang dewasa berharap memperoleh bagian darinya.

Ia menyaksikan bagaimana mereka diperlakukan.

Bagaimana anak-anak yang kehilangan ayah mendapatkan perhatian dari Ali.

Dan dari pemandangan itu, lahirlah sebuah kalimat yang terus diingat.

⸻

Madu menyentuh lidah anak-anak.

Pemandangan itu menyentuh hati orang-orang dewasa.

Betapa jauh sebuah tindakan kasih dapat menjangkau.

Anak-anak menerima kegembiraan pada saat itu. Orang yang menyaksikannya membawa pulang sesuatu untuk direnungkan. Berabad-abad kemudian, kita membaca kisahnya dan mendapati diri ingin mendekat pula.

Kita ingin melihat bagaimana Ali berada di tengah mereka.

Bagaimana seorang yang memikul begitu banyak tanggung jawab memberi tempat bagi kebutuhan yang sering dianggap kecil: kebutuhan seorang anak untuk diperhatikan.

Di situlah adegan ini memperoleh kekuatannya.

Kepemimpinan memasuki ruang kehidupan yang paling rapuh.

Ia hadir di dekat anak-anak yang belum mampu mengurus seluruh keperluannya sendiri, tetapi sudah harus menghadapi sebuah kehilangan yang besar.

⸻

Dalam penutup penggambaran ini, anak kecil tadi bersiap pulang bersama teman-temannya.

Ia sudah bergerak beberapa langkah ketika menoleh kembali.

Ali masih berada di sana.

Anak itu tersenyum, lalu mengikuti yang lain.

Kelak, rasa madu akan hilang dari lidahnya. Hari akan berganti, dan hidup akan kembali membawa kesulitannya.

Namun manusia kadang menyimpan sebuah pertemuan lebih lama daripada yang dapat diperkirakan oleh orang yang memberinya kebaikan.

Sebuah tatapan.

Sebuah tempat di dekat seseorang.

Sebuah sore ketika ia merasa diterima.

Dan kita, yang melihat anak itu pergi melalui halaman kisah ini, akhirnya memahami mengapa seseorang sampai berkata:

“Seandainya aku seorang yatim.”

Betapa dalam kasih yang disaksikannya, hingga ia ingin menjadi salah seorang anak yang duduk di dekat Ali.

Seandainya aku

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

Catatan sumber:

Baqir Syarif al-Qurasyi mengutip kisah Imam Ali mengundang anak-anak yatim dan memberi mereka madu, disertai ucapan seorang sahabat, dalam The Life of Ali Ibn Abi Talib⁠, bagian tentang kezuhudan⁠, dengan rujukan Bihār al-Anwār, jilid 41, hlm. 29.
Kutipan yang diperiksa tidak menyebut nama sahabat, jumlah anak, atau tanggal kejadian. Detail anak yang ragu mendekat hingga menoleh ketika pulang merupakan rekaan adegan, bukan rincian riwayat.

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1KMU8H71DB/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us