21 October 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Surat Al-Kahfi ayat 32 -43

Berikanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka sebuah perumpamaan, yaitu dua orang laki-laki. Kami berikan kepada salah satunya (yang kufur) dua kebun anggur. Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan Kami buatkan ladang di antara kedua (kebun) itu. (32)
Kedua kebun itu menghasilkan buahnya dan tidak berkurang (buahnya) sedikit pun. Kami pun alirkan sungai dengan deras di celah-celah kedua (kebun) itu. (33)
ia (orang kafir itu) juga memiliki kekayaan besar. Dia lalu berkata kepada kawannya (yang beriman) ketika bercakap-cakap dengannya, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat.” (34)
Dia memasuki kebunnya dengan sikap menzalimi dirinya sendiri (karena angkuh dan kufur). Dia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, (35)
aku kira hari Kiamat tidak akan datang dan sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada ini.”(36)
Kawannya (yang beriman) berkata kepadanya ketika bercakap-cakap dengannya, “Apakah engkau ingkar kepada (Tuhan) yang menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan engkau seorang laki-laki yang sempurna? (37)
Akan tetapi, aku (percaya bahwa) Dia adalah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhanku. (38)
Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, “Mā syā’allāh, lā quwwata illā billāh” (sungguh, ini semua kehendak Allah. Tidak ada kekuatan apa pun kecuali dengan [pertolongan] Allah). Jika engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu, (39)
mudah-mudahan Tuhanku akan memberikan kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini) dan mengirimkan petir dari langit ke kebunmu sehingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin (40)
atau airnya menjadi surut ke dalam tanah sehingga engkau tidak akan dapat menemukannya lagi.” (41)
Harta kekayaannya dibinasakan, lalu dia membolak-balikkan kedua telapak tangannya (tanda sangat menyesal) terhadap apa yang telah dia belanjakan untuk itu, sedangkan pohon anggur roboh bersama penyangganya dan dia berkata, “Aduhai, seandainya saja dahulu aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhanku.” (42)
Tidak ada (lagi) baginya segolongan pun yang dapat menolongnya selain Allah dan dia pun tidak dapat membela dirinya. (43)

Pendahuluan & Konteks Tadabbur

Ini merupakan kajian rutin tadabbur Al-Qur’an yang berfokus pada Surat Al-Kahfi ayat 32 hingga 43.
Al-Qur’an sering kali menggunakan metode perumpamaan (massal) untuk menyampaikan pesan-pesan konseptual yang rumit agar menjadi lebih konkret, jelas, dan mudah dicerna oleh akal manusia.
Perumpamaan dalam ayat-ayat ini menggambarkan pertentangan antara dua kubu ideologi atau pandangan dunia dalam menyikapi kehidupan, asal-muasal penciptaan (al-mabda), dan hari akhir (al-ma’ad).

 

2. Hubungan dengan Ayat Sebelumnya & Konteks Sosial

Ayat-ayat tadabbur ini memiliki kaitan erat dengan ayat sebelumnya di mana Allah memerintahkan Rasulullah SAW untuk bersabar dan hidup berdampingan dengan orang-orang mukmin yang miskin tetapi senantiasa berzikir kepada Allah.
Pada masa awal Islam, terdapat polarisasi sosial yang tajam: mayoritas pengikut Nabi adalah golongan lemah secara ekonomi, sedangkan kaum kafir Quraisy yang menentang Nabi adalah orang-orang kaya (miliarder).

Kaum kafir tersebut memandang rendah orang mukmin dan meminta agar Nabi mengusir kaum miskin tersebut sebagai syarat jika mereka ingin menghadiri majelis Nabi.
Allah dengan tegas menolak permintaan itu untuk menegaskan bahwa nilai sejati manusia di hadapan Allah tidak diukur dari harta, melainkan dari keimanan, ketakwaan, dan amal saleh.

 

3. Perdebatan Mengenai Hakikat Kisah

Para ulama berbeda pendapat mengenai status kisah dua pemilik kebun ini:

  • Sebagai Permisalan Saja:
    Sebagian ulama berpendapat kisah ini murni merupakan perumpamaan fiktif yang dibuat untuk menyampaikan pesan moral tanpa harus benar-benar terjadi dalam sejarah nyata.
    Hal ini sama sekali tidak mengurangi nilai pesan yang ingin disampaikan.
  • Sebagai Peristiwa Riil:
    Sebagian lainnya meyakini bahwa ini adalah peristiwa nyata yang pernah terjadi di masa lalu.
    Di antara kelompok kedua ini, ada yang meriwayatkan bahwa kedua tokoh tersebut adalah dua orang bersaudara yang membagi warisan dari ayah mereka (satu menggunakan uangnya untuk membeli kebun, sementara yang lain menginfakkannya di jalan Allah), dan ada pula yang menyebut mereka sebagai dua orang teman biasa.

 

4. Gambaran Keberlimpahan Dua Kebun

Tokoh kafir dalam kisah ini digambarkan sebagai petani yang sangat sukses dan memiliki kekayaan luar biasa. Ia memiliki dua kebun anggur yang sangat indah dan subur, dikelilingi oleh pohon-pohon kurma sebagai pagar alami, dengan bagian tengahnya ditanami berbagai tanaman dan sayur-sayuran produktif.

Kebun ini memiliki sistem irigasi sempurna berupa sungai yang mengalir di sela-selanya.
Kebun tersebut juga selalu menghasilkan buah secara stabil tanpa pernah mengalami kegagalan panen atau berkurang kesuburannya.
Selain kebun, ia mengumpulkan berbagai bentuk kekayaan lain (hewan ternak, tanah, emas) serta memiliki banyak pengikut (anak buah, pelayan, dan pendukung) yang selalu siap melayaninya.

 

5. Kesombongan dan Penyimpangan Logika si Kafir

Kekayaan yang melimpah ini mulai merusak cara berpikir pemilik kebun tersebut.
Ia jatuh ke dalam kesombongan dan melakukan kezaliman terhadap dirinya sendiri (zalimun linafsihi).
Kezaliman ini mewujud dalam beberapa bentuk penyimpangan logika:

  • Sikap Menyepelekan Orang Lain:
    Ia menyombongkan diri kepada temannya yang mukmin dengan berkata bahwa ia jauh lebih kaya dan memiliki pengikut/anak yang lebih banyak.
  • Keyakinan bahwa Dunianya Abadi:
    Saat memasuki kebunnya, ia dengan percaya diri mengklaim bahwa kebunnya tidak akan pernah rusak atau sirna. Ia lupa bahwa kesuburan kebunnya bergantung pada banyak faktor luar seperti cuaca dan angin yang diatur oleh Allah.
  • Mengabaikan Peran Tuhan (Mentalitas Qarun):
    Seperti halnya Qarun, ia merasa kekayaan tersebut murni hasil dari kehebatan bisnis, kecerdasan, dan usahanya sendiri tanpa campur tangan Tuhan. Ia menolak peran Tuhan dan menganggap materi adalah takaran kemuliaan seseorang.
  • Mengingkari Hari Akhir:
    Karena terlalu mencintai dunianya, ia berhalusinasi bahwa segalanya akan kekal dan menolak adanya kiamat.
  • Halusinasi Teologis:
    Ia bahkan menyatakan bahwa andai kiamat itu benar-benar ada dan ia dikembalikan kepada Tuhannya, ia pasti akan mendapatkan tempat yang jauh lebih baik di akhirat.
    Logika jahiliyahnya mengasumsikan bahwa kekayaan di dunia adalah bukti bahwa Tuhan mencintai dan memihaknya, sehingga di akhirat pun ia pasti akan diistimewakan kembali.

 

6. Cara Menghadapi Orang yang Terpedaya (Maghrur)

Pemilik kebun yang kafir tersebut berada dalam kondisi maghrur—yakni orang yang tertipu oleh dirinya sendiri karena lupa akan hakikat dirinya yang lemah.
Kajian ini memberikan panduan berharga berdasarkan penjelasan para ulama (seperti Syeikh Makarem Shirazi) tentang cara menghadapi orang yang maghrur:

  • Jangan membalas dengan kemarahan atau caci maki, karena hal itu hanya akan memuaskan hawa nafsu ego kita tanpa membawa kesadaran bagi pelaku.
  • Ingatkan ia pada masa lalunya:
    Manusia berasal dari bahan yang hina (tanah dan sperma).
    Mengutip Amirul Mukminin, sangat mengherankan melihat orang yang sombong padahal kemarin ia hanya berupa setetes sperma yang menjijikkan dan esok akan menjadi bangkai yang membusuk.
  • Ingatkan ia pada ketidakpastian masa depan:
    Kekayaan tidak ada yang abadi. Hanya ada dua kemungkinan: kekayaan itu yang meninggalkan manusia (karena bencana, perampokan, dll) atau manusia yang mati meninggalkan kekayaannya untuk diwarisi orang lain.
  • (Kisah Ilustrasi): Dicontohkan kisah seorang jenderal kejam di Tehran yang sombong dan mengklaim memiliki 1000 bukti bahwa Tuhan tidak ada. Ketika jenderal tersebut akhirnya dipenjara oleh raja yang murka, seorang ulama mendatanginya dan menyampaikan bahwa kejatuhannya yang instan ke dalam penjara adalah satu bukti nyata yang langsung membatalkan 1000 argumen kesombongannya tentang ketiadaan Tuhan.

 

Respons Bijak dan Teguh dari si Mukmin

Meskipun diserang secara mental dan direndahkan karena kemiskinannya, si mukmin tidak goyah sedikit pun.
Ia menghadapi si kafir dengan adab yang luar biasa, tanpa mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati.
Respons si mukmin meliputi:

  • Meningkatkan Hakikat Penciptaan:
    Ia mempertanyakan bagaimana si kafir bisa ingkar kepada Tuhan yang telah menciptakannya dari tanah, kemudian setetes sperma, hingga menyempurnakannya menjadi seorang laki-laki yang utuh.
    Ia menekankan bahwa manusia tidak tercipta dengan sendirinya.
  • Ikrar Tauhid yang Kokoh:
    Si mukmin menegaskan keyakinannya sendiri dengan berkata, “Tetapi aku (percaya bahwa) Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhanku”.
  • Meluruskan Sumber Kekuatan:
    Ia menasihati si kafir bahwa ketika memasuki kebunnya yang indah, ia seharusnya tidak bersikap jemawa melainkan mengucapkan kalimat ketundukan kepada Allah.

 

Keutamaan Kalimat “Masya Allah La Quwwata Illa Billah”

Kajian ini menyoroti keutamaan luar biasa dari zikir “Masya Allah, la quwwata illa billah” (Atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan bantuan Allah):

  1. Perlindungan dari Kerusakan:
    Berdasarkan riwayat Rasulullah SAW, jika seseorang melihat sesuatu yang menakjubkan lalu ia khawatir hal tersebut rusak akibat pandangan mata takjub (‘ain), maka membaca zikir ini akan menjaganya dari kerusakan.
  2. Pengabulan Doa:
    Imam Ja’far ash-Shadiq a.s. menyatakan bahwa siapa saja yang berdoa kemudian menutup doanya dengan zikir ini, maka doanya akan diijabah oleh Allah.
  3. Keselamatan dari Bencana:
    Berdasarkan kitab Tahdzibul Ahkam karya Syaikh Tusi dari Imam ash-Shadiq a.s., zikir ini termasuk salah satu dari empat zikir yang memiliki khasiat khusus, salah satunya adalah untuk menyelamatkan seseorang dari musibah kebakaran atau tenggelam.

 

Kehancuran Kebun dan Penyesalan Akhir

Karena kesombongan si kafir yang menafikan peran Tuhan, Allah mengirimkan bencana nyata yang menghancurkan seluruh kebunnya.

  • Si mukmin sebelumnya telah memperingatkan bahwa Allah sangat mungkin mengirimkan “husban” (bencana/petir yang membakar dengan perhitungan yang sangat presisi) dari langit atau membuat air irigasinya mengering ke dalam tanah hingga tidak bisa digali kembali.
  • Nubuat tersebut menjadi kenyataan. Kebun yang tadinya rindang dan subur seketika rata dengan tanah akibat terbakar.
  • Pemilik kebun yang sombong itu akhirnya terduduk lesu sambil membolak-balikkan kedua telapak tangannya—sebuah ekspresi penyesalan yang mendalam atas investasi besar yang sia-sia.
    Ia meratap, “Aduhai, kiranya dahulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku”.
  • Pada titik kehancuran tersebut, anak-anak, pelayan, dan para pendukung yang dulu ia banggakan sama sekali tidak mampu memberikan pertolongan dari murka Allah, dan ia pun tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.

 

Kesimpulan Utama

Tadabbur kisah ini mengajarkan bahwa kehidupan dunia tidak boleh dinilai semata-mata dengan materi. Harta kekayaan adalah sesuatu yang fana dan tidak akan abadi.
Orang yang menyandarkan hidupnya pada materi yang tidak abadi pasti akan berujung pada penyesalan.

Sebaliknya, nilai sejati seorang manusia di hadapan Allah terletak pada keimanan, ketaatan, dan ketakwaannya.
Mereka yang bertawakal dan menyandarkan hidupnya kepada Dzat Yang Maha Abadi akan senantiasa mendapatkan kecukupan dan bimbingan terbaik dari Allah SWT.

Tadabbur Kisah Dua Pemilik Kebun

 

Judul video: Tadabbur Al Qur’an: (Ayat 32-43 Surah Al Kahfi) – Watch on Youtube

Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:
Subscribe Channel PANDU AHLULBAYT

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us