Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Peringatan Hari Besar Islam sebagai Madrasah Kehidupan
Peringatan hari besar Islam, seperti Isra dan Mi’raj, memiliki makna besar yang membantu umat untuk senantiasa menghidupkan dan mengikuti fase-fase perjuangan dakwah Rasulullah SAW.
Peringatan ini berfungsi sebagai “madrasah” untuk menambah wawasan keagamaan, memperkokoh keyakinan, serta memastikan warisan kebenaran agama tersampaikan dengan baik kepada generasi mendatang.
Selain itu, momentum berkumpul seperti ini mempererat tali silaturahmi dan merawat persaudaraan yang rukun antar-sesama umat hamba Allah SWT.
Hakikat Peristiwa Isra dan Mi’raj
Meskipun sering digabungkan dalam satu istilah, Isra dan Mi’raj sebenarnya merupakan dua peristiwa berbeda yang terjadi secara berurutan dalam waktu singkat:
- Al-Isra:
Perjalanan malam hari Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina.
Dalam beberapa catatan sejarah, perjalanan ini dimulai ketika malaikat Jibril mendatangi beliau yang kala itu sedang berada di rumah sepupunya, Ummu Hani (putri Abu Thalib). - Al-Mi’raj:
Perjalanan lanjutan dari Masjidil Aqsa menembus langit demi langit hingga langit ketujuh, dan berakhir di Sidratul Muntaha setelah sebelumnya beliau memimpin shalat berjamaah sebagai imam bagi para nabi terdahulu.
Tujuan Agung di Balik Perjalanan
Tujuan utama dari perjalanan spektakuler ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an adalah untuk memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT:
- Peristiwa Isra bertujuan untuk menunjukkan tanda-tanda keagungan Allah (linuriyahu min ayatina) agar jiwa Rasulullah SAW semakin tangguh dalam menghadapi tantangan dakwah dari kaum kafir.
- Peristiwa Mi’raj menunjukkan tanda-tanda terbesar dari keagungan-Nya (laqad ra’a min ayati rabbihil kubra).
Secara keseluruhan, kedua peristiwa ini bertujuan mengokohkan jiwa Nabi Muhammad SAW sekaligus menjadi bukti nyata kebenaran risalah dakwah beliau.
Makna Mendalam Kata “Hamba” (Abduhi)
Dalam Surah Al-Isra ayat 1, Allah SWT memilih menggunakan kata “hamba-Nya” (abdihi) untuk merujuk kepada Nabi Muhammad SAW, alih-alih menggunakan nama asli atau gelar kerasulan beliau.
Pilihan kata ini mengisyaratkan bahwa penghambaan yang sempurna kepada Allah merupakan kedudukan tertinggi dan paling mulia bagi seorang manusia.
Seseorang yang sepenuhnya menghambakan diri kepada Allah akan layak menerima anugerah besar yang tidak terduga.
Untuk mencapai derajat hamba sejati, langkah awal yang harus ditempuh adalah memperkokoh ma’rifat (pengenalan mendalam) kepada Allah SWT dan memantapkan akidah.
Tanpa ma’rifat, keimanan seseorang akan sangat rentan digoyahkan oleh keragu-raguan.
Keteladanan Utama: Keluhuran Akhlak, Jujur, dan Amanah
Peringatan ini menjadi momentum penting untuk meneladani Rasulullah SAW, terutama dalam kesadaran menghamba serta keluhuran akhlaknya.
Sebagai teladan, Imam Ja’far as-Sadiq (cucu Rasulullah yang menjadi kakek para habaib di Indonesia sekaligus guru dari Imam Abu Hanifah dan Imam Malik) menceritakan kisah kakeknya, Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib meraih kedudukan yang sangat istimewa di sisi Rasulullah SAW bukan semata karena hubungan kekerabatan, melainkan karena memiliki dua sifat yang sangat sempurna: amanah (dapat dipercaya) dan jujur.
Sifat jujur dan amanah ini harus ditanamkan pada setiap individu, pejabat, rakyat, dan generasi muda agar mendatangkan kemakmuran serta kemajuan bagi bangsa dan negara.
Salat sebagai Kebutuhan Spiritual Rohani
Oleh-oleh terbesar dari perjalanan Isra dan Mi’raj adalah perintah salat lima waktu. Sebelum peristiwa ini, umat Islam hanya diwajibkan melakukan salat dua rakaat di pagi hari dan dua rakaat di malam hari.
Melalui peristiwa mulia ini, Rasulullah membawa pulang paket lengkap ibadah salat dari langit, mulai dari adzan, iqomah, takbir, hingga ditutup dengan taslim.
- Salat adalah Kebutuhan:
Salat bukanlah beban kewajiban yang memberatkan, melainkan kebutuhan mendasar bagi roh manusia agar tetap sehat, sebagaimana fisik kita membutuhkan asupan makanan dan vitamin. - Jalan Kejayaan:
Seruan salat (Hayya ‘alas-sholah) dalam adzan senantiasa berdampingan dengan seruan menuju kejayaan (Hayya ‘alal-falah), menunjukkan bahwa salat adalah kunci kesuksesan sejati manusia. - Hakikat Sujud:
Gerakan sujud mengajari manusia untuk merendahkan dahi (anggota tubuh paling mulia) di tempat paling bawah di hadapan Allah SWT.
Merendahkan diri di hadapan Allah mendatangkan kemuliaan sejati, sedangkan merendahkan diri di hadapan sesama manusia hanya membawa kehinaan. - Keistimewaan Salat Subuh:
Dalam Surah Al-Isra ayat 78, salat Subuh diistilahkan sebagai Qur’anal Fajri.
Salat Subuh memiliki keistimewaan luar biasa karena bertepatan dengan waktu pergantian tugas para malaikat, sehingga disaksikan secara langsung oleh kelompok malaikat penjaga malam dan penjaga siang.
Keberkahan Majelis dan Harapan Syafaat
Segala pengorbanan waktu dan tenaga yang diluangkan oleh panitia serta jamaah dalam menyiarkan agama melalui majelis seperti ini tidak akan sia-sia. Tempat yang digunakan berkumpul untuk mengingat Allah kelak di hari kiamat akan bersaksi atas amal ibadah tersebut. Kelak di akhirat, kecintaan kita yang tulus kepada Rasulullah SAW diharapkan berbuah manis dengan sambutan hangat berupa syafaat beliau di hari kiamat.

Judul video: Pristiwa Isra & Miraj dan Keteladanan Baginda Nabi Saw – Watch on Youtube
Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:


