20 October 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Sifat Ke-11 Ibadurrahman (Tafsir Surah Al-Furqan Ayat 73)

1. Makna Harfiah dan Kiasan Ayat 73

Ayat 73 berbunyi: “walladzina idza dzukkiru bi-ayati rabbihim lam yakhirru ‘alaiha shumman wa ‘umyana” (Dan orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidak menyikapinya seolah-olah tuli dan buta).

  • Arti Lam Yakhirru:
    Frasa lam yakhirru berasal dari kata dasar al-hurr yang secara literal berarti tersungkur jatuh.
    Dalam ayat ini, kata tersebut merupakan kiasan yang menunjukkan arti perhatian.
  • Sikap Ibadurrahman:
    Ketika diperingatkan dengan ayat-ayat Allah, mereka tidak bersikap acuh seolah-olah tuli dan buta.
    Sebaliknya, hamba-hamba pilihan ini membuka telinga, mata, dan akal untuk merenungkan pesan-pesan Tuhan dengan penuh kesadaran.
  • Perbedaan dengan Kaum Munafik:
    Ayat ini membedakan karakter Ibadurrahman dengan kaum munafik yang sengaja menutup mata dan telinga agar tidak perlu merenungkan perintah Allah.
    Ayat ini tidak membandingkannya dengan orang kafir, karena orang kafir sejak awal memang tidak memiliki perhatian sama sekali terhadap ayat-ayat Allah.

2. Penafsiran Imam Ja’far ash-Sadiq tentang Bashirah

Dalam riwayat dari Raudhatul Kafi—bagian ketiga dari kitab hadis standar Syiah Al-Kafi yang disusun oleh Thiqat al-Islam Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini selama 20 tahun—sahabat tunanetra bernama Abu Bashir bertanya mengenai tafsir ayat ini kepada Imam Ja’far ash-Sadiq (a.s.).
Abu Bashir dipuji karena meski matanya buta, mata hatinya sangat tajam dalam melihat kebenaran.

Imam Ja’far ash-Sadiq (a.s.) menjelaskan makna ayat tersebut ke dalam dua poin utama:

  • Mustabshirin (Memiliki Bashirah):
    Hamba Ibadurrahman memiliki ketajaman mata hati (bashirah).
    Dengan bashirah ini, mereka dapat memahami agama dengan benar, mempertahankan keyakinan dengan kokoh, serta mendeteksi jebakan musuh yang ingin melemahkan akidah mereka.
    Tanpa pemahaman yang kokoh, keyakinan seseorang akan sangat mudah digoyahkan oleh fitnah atau keraguan.
  • Bukan Peragu (Wa Laisu bi Syukkak):
    Mereka adalah orang-orang yang tidak meragukan kebenaran keyakinannya.
    Bertanya untuk memahami dalil atau penjelasan lebih mendalam diperbolehkan, namun menaruh keraguan adalah masalah.
    Jika ada keraguan yang muncul dalam benak kita, jawabannya sebenarnya sudah disiapkan secara tuntas oleh para ulama; sering kali kita hanya kekurangan informasi atau belum membacanya saja.

3. Kaitan Ayat dengan Pengikut Ahlul Bayt

Merujuk pada riwayat lain dalam kitab klasik Al-Mahasin karya Al-Barqi, Imam Ja’far ash-Sadiq (a.s.) menyampaikan kepada Sulaiman bin Khalid bahwa ayat ini juga merupakan ujian bagi para pengikut Ahlul Bayt.

  • Ketika dibacakan ayat yang menerangkan keutamaan Ahlul Bayt (seperti Ayat Tathir tentang kesucian mereka atau Ayat Al-Mawaddah tentang kewajiban mencintai mereka), para pengikut sejati akan langsung meyakini dan mengimaninya.
  • Mereka tidak memunculkan keraguan atau memalingkan makna jelas dari ayat-ayat tersebut demi kepentingan tertentu.

4. Pandangan Allamah Tabataba’i dalam Tafsir al-Mizan

Tokoh tafsir Allamah Tabataba’i (yang penafsirannya senantiasa melebur dengan riwayat-riwayat tepercaya dari Ahlul Bayt) menjelaskan makna senada.
Menurutnya, saat diingatkan dengan nasihat atau hikmah dari Al-Qur’an maupun wahyu lainnya (seperti hadis qudsi dan nabawi), Ibadurrahman tidak menutup diri. Sebaliknya, mereka memikirkan, memahami, serta memegang teguh nasihat tersebut dengan penuh kesadaran dan keyakinan yang kokoh.

5. Contoh Hikmah di Balik Syariat

Ditekankan pentingnya bashirah agar kita tidak mudah mempertanyakan aturan syariat secara keliru, seperti contoh berikut:

  • Hukum Waris:
    Ketentuan bagian anak laki-laki dua kali lipat dari perempuan sering dipertanyakan sebagai hal yang tidak adil.
    Padahal, secara utuh aturan ini sangat adil karena suami/laki-laki memikul tanggung jawab penuh untuk menafkahi istri dan keluarganya, sedangkan istri/wanita sama sekali tidak dibebani kewajiban menafkahi dan harta pribadinya tetap milik pribadinya.
  • Jilbab:
    Aturan jilbab bagi wanita juga sering memicu pertanyaan serupa.

Bagi hamba Ibadurrahman, mereka menerima semua syariat ini atas bukti nyata (bayyinat) dan pemahaman yang utuh, sehingga akidah mereka tetap kokoh terlindungi dari keruntuhan.

Sifat Ke 11 Ibadurrahman Bashirah

Bersama Ustadz Ali Umar Al Habsyi

 

Judul video: 13 Sifat/Prilaku Terpuji “Ibadur Rahman” Ngaji Surah Al Furqan Ayat 63-76 (6) – Watch on Youtube

Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:
Subscribe Channel PANDU AHLULBAYT

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us