Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Peringatan Hari Lahir Imam Husain as.
Peringatan hari lahir Imam Husain as. (Abul Abdillah) jatuh pada tanggal 3 Sya’ban.
Sebagian ulama mencatat kelahiran beliau pada tahun ke-4 Hijriah, sementara sebagian lainnya, seperti Syekh Kulaini dalam kitab Usul al-Kafi dan Syekh Tabarsi, mencatatnya pada tahun ke-3 Hijriah.
Dalam peringatan ini, umat Islam dianjurkan untuk merutinkan pembacaan Ziarah Asyura.
Salah satu keutamaan luar biasa dari ziarah ini adalah jaminan memperoleh syafaat Imam Husain as. yang akan menyertai seorang pencinta sejak detik-detik akhir meninggalkan dunia, di alam barzakh, hingga di mahkamah Allah kelak.
Peziarah juga memohon agar diberikan keteguhan langkah di jalan kebenaran bersama beliau dan para sahabat setianya.
Makna Agung di Balik Kelahiran
Mengenang hari kelahiran Imam Husain as. pada hakikatnya adalah mengenang kelahiran figur-figur suci lainnya: kakek beliau (Rasulullah SAW), ayah beliau (Imam Ali), ibu beliau (Fatimah Az-Zahra), serta abang beliau (Imam Hasan).
Kelahiran beliau merupakan kelahiran keadilan, penegakan tauhid, dan keabadian syariat Allah di muka bumi.
Kehadiran beliau membawa harapan besar bagi kelangsungan risalah Islam yang diperjuangkan oleh keluarga suci tersebut.
Mimpi Ummu Aiman dan Takwil Rasulullah SAW
Ummu Aiman adalah sosok wanita mulia yang oleh Rasulullah SAW dinyatakan sebagai wanita penghuni surga (imroatun min ahlil Jannah).
Suatu malam, ia mengalami mimpi dahsyat yang membuatnya terbangun dalam ketakutan dan menangis hingga subuh.
Kabar ini dilaporkan oleh tetangganya kepada Rasulullah SAW.
Beliau kemudian memanggil Ummu Aiman dengan penuh kelembutan dan mendoakannya agar tidak bersedih (la’abkallah ‘ainaka).
Meskipun awalnya Ummu Aiman merasa sangat berat dan tidak sanggup menceritakan mimpi tersebut karena mengiranya sebagai pertanda buruk bagi Nabi, Rasulullah SAW menenangkannya dan meminta ia bercerita.
Ummu Aiman pun menyampaikan mimpinya: “Aku melihat sepenggal dari jasadmu terlepas dan jatuh di rumahku“.
Rasulullah SAW menakwilkan mimpi tersebut sebagai kabar gembira: Fatimah Az-Zahra akan melahirkan al-Husain, dan Ummu Aiman-lah yang akan membantu persalinan serta mengurus kebutuhan menyusui sang bayi pada hari pertama kelahirannya.
Dengan demikian, bagian dari diri Rasulullah (cucunya) memang akan berada di rumah Ummu Aiman.
Kelahiran Imam Husain as. dan Air Mata Rasulullah SAW
Saat Imam Husain as. lahir, Rasulullah SAW menyambutnya dengan gembira, memeluknya erat, serta mengumandangkan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri.
Namun, di tengah kebahagiaan tersebut, Rasulullah SAW tiba-tiba meneteskan air mata saat memangku sang bayi.
Ketika Asma’ bintu Umais bertanya heran, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa kelak putranya ini akan dibunuh oleh kelompok pembangkang yang menyimpang dari agama (al-fiatul baghiyah) setelah masa beliau.
Beliau menegaskan bahwa kelompok tersebut tidak akan mendapatkan syafaatnya.
Adab Penamaan dan Refutasi Riwayat Palsu
Ketika ditanya tentang nama bayi tersebut, Imam Ali as. menunjukkan adab yang luar biasa tinggi dengan berkata: “Aku tidak mungkin mendahului-Mu, wahai Rasulullah, dalam memberi nama kepada putramu ini“.
Rasulullah SAW kemudian menanti turunnya wahyu, hingga Allah SWT memerintahkan agar bayi tersebut diberi nama Husain.
Tentang sebuah riwayat palsu yang mengeklaim bahwa Imam Ali as. bersikeras menamai putranya “Harb” (perang), ada tiga tujuan jahat di balik penyebaran cerita palsu tersebut:
- Menggambarkan Imam Ali as. sebagai sosok yang haus darah.
Padahal, Imam Ali bertempur hanya untuk membela agama dari musuh yang menolak hidayah. - Menggambarkan Imam Ali as. tidak memiliki sopan santun
karena seolah membangkang arahan Rasulullah SAW setelah nama “Harb” ditolak pada kelahiran Imam Hasan. - Melegitimasi kebaikan nama “Harb” (yang merupakan nama kakek Muawiyah bin Abi Sufyan)
dengan mengeklaim bahwa Imam Ali menyukai nama tersebut.
Prosesi Hari Ketujuh dan Tanggung Jawab Kerasulan
Pada hari ketujuh, Rasulullah SAW melakukan prosesi aqiqah dengan menyembelih seekor domba, mencukur rambut sang bayi, dan bersedekah perak seberat timbangan rambut tersebut.
Selanjutnya, perhatian luar biasa yang selalu ditunjukkan Rasulullah SAW kepada Imam Hasan dan Imam Husain—selain ditegaskan oleh ayat-ayat seperti Ayatul Mawaddah, Ayat Tathir (Al-Ahzab: 33), dan Ayatul Mubahalah—merupakan bagian dari tanggung jawab kerasulan beliau untuk memperkenalkan pemimpin umat dan penjamin keabadian risalah Islam sepeninggal beliau.
Imam Husain as. adalah sosok yang diutus untuk menyelamatkan agama ini dari segala upaya pemusnahan di masa depan.

Bersama Ustadz Ali Umar Al Habsyi
Judul video: Kelahiran Imam Husain as. Dalam Takwil Nabi Saw. Atas Mimpi Ummu Aiman – Watch on Youtube
Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:


