Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Bulan Ramadan sebagai Syiar Allah (Syiarullah)
Bulan suci Ramadan merupakan salah satu dari syiar Allah (tanda-tanda kebesaran Allah) yang harus senantiasa kita agungkan.
Al-Qur’an meminta umat manusia untuk terus mengagungkan syiar-syiar ini, sebagaimana beberapa ritual dalam ibadah haji (seperti bukit Shofa-Marwah dan hewan kurban) disebut sebagai syiar yang dapat mendekatkan diri serta menguatkan ikatan kita kepada Allah.
Mengagungkan syiar Allah merupakan bukti nyata dari ketakwaan yang ada di dalam hati seorang hamba.
Keagungan bulan Ramadan ini salah satunya ditandai dengan dipilihnya bulan ini sebagai waktu diturunkannya Al-Qur’an, yang berfungsi sebagai petunjuk, penjelasan, serta pembeda antara yang hak dan yang batil bagi umat manusia.
Tujuan Utama Berpuasa: Meraih Ketakwaan
Melalui Surah Al-Baqarah ayat 183, Allah menetapkan kewajiban berpuasa dengan tujuan utama agar manusia menjadi orang yang bertakwa (la’allakum tattaqun).
Orang yang bertakwa adalah mereka yang mampu memahami keagungan Allah, mensyukuri segala kebaikan-Nya, serta meraih kesuksesan dan kejayaan baik di dunia maupun di akhirat.
Di setiap perintah-Nya, Allah sengaja menyertakan hikmah tertentu untuk memotivasi hamba-Nya agar lebih bersemangat dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Esensi Puasa Lahir dan Batin
Ketakwaan yang sejati tidak akan dicapai jika seseorang hanya menahan lapar dan dahaga secara fisik.
Ibadah ini harus disempurnakan dengan puasa batin (menjaga kesucian jiwa atau tazkiyatun nafs) agar terhindar dari hal-hal yang dapat mengotori jiwa.
Berdasarkan sabda Imam Ja’far as-Sadiq (a.s.), ketika kita berpuasa, hendaknya pendengaran, penglihatan, kulit, hingga rambut kita juga ikut berpuasa.
Hari saat kita berpuasa harus menunjukkan perbedaan, kontrol diri, dan perbaikan akhlak yang lebih baik dibandingkan hari-hari biasa saat kita tidak berpuasa.
Melalui rasa lapar dan haus ini, seseorang dilatih untuk mengekang syahwat dan mengontrol hawa nafsunya.
Puasa sebagai Pelatihan Kesabaran
Puasa pada hakikatnya adalah sarana yang luar biasa untuk melatih kesabaran.
Para ulama membagi kesabaran menjadi tiga macam, di mana ketiganya dipraktikkan secara langsung di dalam ibadah puasa:
- Sabar dalam menjalankan perintah Allah (berpuasa sepanjang hari).
- Sabar dalam menjauhi larangan-Nya (menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa).
- Sabar dalam meninggalkan hal yang sebenarnya mampu dilakukan (seseorang bisa saja makan atau minum secara sembunyi-sembunyi tanpa ketahuan orang lain, namun ia memilih bersabar dan menahannya karena kesadaran spiritual yang tinggi kepada Allah).
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 45, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk meminta pertolongan melalui sabar dan salat.
Berbagai riwayat menjelaskan bahwa wujud nyata dari “sabar” dalam ayat tersebut merujuk pada ibadah puasa.
Dengan puasa dan salat, seorang hamba akan memperoleh kekuatan takwa yang memudahkan mereka untuk konsisten beramal saleh serta menjauhi kemaksiatan di hari-hari selanjutnya.
Menumbuhkan Empati Sosial dan Kesadaran Berbagi
Dengan merasakan lapar dan haus, orang yang berpuasa diajak untuk merasakan penderitaan kaum fakir miskin yang sering kali menjalani hari-harinya dalam kelaparan.
Banyak dari mereka yang terpaksa hidup sengsara akibat ketidakadilan atau kerakusan sebagian manusia.
Melalui pengalaman rasa lapar ini, tumbuhlah kesadaran spiritual untuk mensyukuri kelimpahan nikmat Allah serta terdorong untuk membersihkan harta dengan bersedekah dan berbagi rezeki kepada sesama yang membutuhkan.
Pengingat akan Hari Akhirat
Menurut riwayat dari Imam Ali bin Musa ar-Ridha (a.s.), perintah puasa bertujuan agar manusia merasakan pedihnya lapar dan dahaga di dunia, sehingga mereka dapat membayangkan dahsyatnya rasa lapar dan haus pada hari kiamat kelak.
Kesadaran akan kebutuhan di hari akhirat ini membuat jiwa orang yang berpuasa menjadi lebih khusyuk, tunduk, merasa hina di hadapan Allah, dan bersabar demi mengharapkan pahala-Nya.
Rasulullah SAW dalam khotbah menyambut bulan Ramadan juga menekankan pentingnya mengingat hari kiamat melalui rasa lapar saat puasa serta memperbanyak sedekah kepada kaum fakir miskin.
Kesimpulan
Sebagai penutup, mengagungkan bulan suci Ramadan sebagai salah satu syiar Allah dapat diwujudkan dengan menjalankan ibadah puasa secara sempurna (lahir dan batin), meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an, aktif bersedekah, serta mengisi hari-hari dengan berbagai amal sosial yang bermanfaat bagi orang lain.

Judul video: Seri Kajian Berkah Ramadhan (2) Rahasia Disyari’atkannya Puasa Ramadhan – Watch on Youtube
Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:


