2 September 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Kisah Dua Anak Adam dalam Al-Qur’an & Tragedi Karbala

1. Relevansi Menghidupkan Ingatan akan Tragedi Karbala

Dalam rangka memperingati syahadah Imam Husain as. menjelang hari Arbain, umat Islam sangat dianjurkan untuk mengungkapkan kesedihan, berduka, dan meneteskan air mata melalui berbagai ritual ibadah ziarah.
Meskipun peristiwa tragis di Karbala telah berlalu sekitar 14 abad yang lalu, menyegarkan ingatan akan peristiwa tersebut sangat penting demi menjaga kesadaran kita.

Sebagian ulama (seperti yang tertulis dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin karya Al-Ghazali) berpandangan bahwa fragmen pembantaian hari Asyura tidak sepatutnya diulang-ulang agar tidak memicu rasa benci atau dengki di dalam hati. Namun, pandangan ini dapat dikritisi secara mendalam melalui perspektif Al-Qur’an yang justru sering kali mengangkat kembali kisah kezaliman masa lalu.

2. Sunnah Quraniyah: Urgensi Mengingat Kisah Kezaliman

Al-Qur’an dipenuhi dengan kisah-kisah kejahatan kekejaman kelompok atau individu yang sengaja diangkat kembali oleh Allah secara bersih dan objektif.
Kisah-kisah kezaliman ini diturunkan bukan sekadar sebagai dongeng masa lalu tanpa tuntutan sikap, melainkan sebagai pelajaran (ibrah) penting bagi pembacanya.
Saat membaca tentang kezaliman, Al-Qur’an menuntut kita untuk mengecam pelakunya dan berpihak kepada korban yang dizalimi (si mazlum), alih-alih bersikap netral.

Contoh nyatanya adalah kisah dua anak Adam yang terjadi ribuan tahun sebelum Al-Qur’an diturunkan, namun Allah segarkan kembali kisahnya untuk dibaca berulang-ulang oleh miliaran kaum muslimin sepanjang masa.
Mengulang kisah kezaliman sejarah demi menegakkan nilai kebenaran adalah Sunnah Quraniyah (ketetapan Al-Qur’an).
Atas dasar ini, mengulang dan membaca kisah perjuangan Imam Husain di Karbala sepenuhnya sah dan sejalan dengan metode dakwah Al-Qur’an.

3. Kisah Dua Anak Adam dalam Surah Al-Ma’idah

Bacakanlah (Nabi Muhammad) kepada mereka berita tentang dua putra Adam dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, kemudian diterima dari salah satunya (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti akan membunuhmu.” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa. (27)
Pada Surah Al-Ma’idah ayat 27, Allah memerintahkan Rasulullah untuk membacakan kisah nyata dua anak Adam kepada Ahlul Kitab (kaum Yahudi).

Pembacaan kisah ini sangat relevan karena penentangan mereka terhadap kenabian Rasulullah tidak didasari oleh kurangnya bukti, melainkan murni akibat penyakit kedengkian (hasad).
Kedengkian yang mendalam memiliki daya rusak luar biasa yang mampu menyeret seseorang hingga tega melenyapkan nyawa saudaranya sendiri.

Dalam kisah tersebut, terdapat beberapa poin penting:

  • Persembahan Kurban:
    Kedua anak Adam mempersembahkan kurban (qurbanan) sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Kurban salah satu anak diterima, sementara kurban anak yang lainnya ditolak, dan keduanya sama-sama mengetahui status tersebut.
  • Ancaman Pembunuhan:
    Dipicu oleh rasa dengki karena amalnya ditolak, anak yang kurbannya tidak diterima langsung mengancam saudaranya dengan berkata, “Aku benar-benar akan membunuhmu”.
  • Ketakwaan sebagai Ukuran:
    Saudaranya yang kurbannya diterima merespons dengan bijak bahwa diterima atau ditolaknya amal sepenuhnya bergantung pada ketakwaan si pelaku (“Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa”).
    Jawaban ini menegaskan bahwa ia adalah sosok yang bertakwa sekaligus memiliki pengetahuan ketuhanan yang sangat mendalam (alim).
  • Prinsip Menolak Kejahatan:
    Ketika diancam, anak yang bertakwa ini menegaskan bahwa ia tidak akan membalas dengan mengulurkan tangan untuk membunuh saudaranya, karena ia takut kepada Allah, Tuhan semesta alam (Inni akhafullaha rabbal ‘alamin).
    Pengetahuan dan keyakinan spiritual yang kokoh ini diilhamkan langsung oleh Allah kepadanya.
  • Konsekuensi Hukum Tuhan:
    Ia memilih untuk menahan tangannya dan membiarkan saudaranya menanggung dosa ganda di akhirat: dosa ketidaktaqwaannya yang pertama dan dosa pembunuhan keji tersebut, yang akhirnya akan menyeret si pelaku ke dalam neraka sebagai balasan bagi orang-orang yang zalim.

4. Kewajiban Berpihak dan Larangan Bersikap “Netral”

Pelajaran utama dari kisah ini adalah kewajiban moral untuk selalu memihak pada kebenaran.
Al-Qur’an diturunkan tidak hanya agar manusia mengenal orang-orang baik, tetapi juga untuk memperjelas dan menyingkap bagaimana jalannya orang-orang yang jahat (waliya stabina Sabilul mujrimin) agar kita tidak mudah tertipu.

Dalam pandangan Al-Qur’an, tidak ada tempat untuk bersikap netral dalam pertarungan antara kebenaran dan kezaliman (seperti kasus Imam Husain melawan Yazid).
Bahkan di dalam Surah Al-Fatihah yang dibaca setiap hari, umat manusia dibagi dengan tegas menjadi tiga golongan: kelompok yang diberi nikmat (an’amta ‘alaihim), kelompok yang dimurkai (al-maghdubi ‘alaihim), dan kelompok yang sesat (ad-dhalin).
Keimanan sejati menuntut kita untuk aktif membela orang-orang mukmin yang teraniaya serta berani bersikap tegas menolak segala bentuk kezaliman di muka bumi.

Sunnah Quraniyah dan Relevansi Karbala

 

Judul video: Kisah Dua Anak Adam Dalam Al Qur’an & Tragedi Karbala’ – Watch on Youtube

Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:
Subscribe Channel PANDU AHLULBAYT

 

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us