Definisi dan Hakikat Ratapan (Riza)
Ratapan atau Riza dalam tradisi Islam adalah kegiatan mengulang-ulang cerita duka, rintihan, dan ucapan yang menampakkan kesedihan serta menjelaskan keagungan orang yang sedang diperingati.
Tradisi ini bukan sekadar luapan emosi, melainkan cara untuk selalu mengingat orang-orang mulia dan terhormat agar jasa-jasa mereka tidak terlupakan.
Namun, Islam menekankan bahwa apa yang disampaikan dalam ratapan haruslah sesuai dengan fakta dan kenyataan, bukan melebih-lebihkan sesuatu yang tidak ada pada diri orang yang diratapi.
Landasan dalam Sunnah Nabi
Tradisi ratapan memiliki akar kuat dalam tindakan Rasulullah SAW sendiri:
- Dukacita Sejak Kelahiran: Ketika Imam Husain lahir, Jibril datang membawa dua agenda: mengucapkan selamat sekaligus menyampaikan belasungkawa bahwa cucu beliau akan dibantai oleh sekelompok orang dari umatnya sendiri.
- Pembaruan Kesedihan: Allah memerintahkan Jibril untuk terus mengulangi kabar duka ini di berbagai kesempatan (saat Husain usia 7 hari, 1 tahun, dan 2 tahun) untuk memperbarui kesedihan dan menjadikannya sebuah tradisi agar umat tidak lalai akan peristiwa tersebut.
- Tanah Karbala: Nabi SAW pernah menerima segenggam tanah Karbala dari Jibril, menciumnya, dan menangis di hadapan para sahabat di masjid sambil menceritakan apa yang akan menimpa Husain. Hal ini menjadikan Rasulullah sebagai pribadi pertama yang mengadakan majelis duka (Aza).
Landasan dalam Al-Qur’an
Video ini menjelaskan bahwa ratapan adalah Sunnah Qur’ani. Contoh utamanya adalah Surat Al-Buruj, yang menceritakan tentang pembantaian keji kaum mukmin (Ashabul Ukhdud). Al-Qur’an menggunakan gaya bahasa yang menyayat hati dan menekankan sisi teraniayanya mereka agar pembaca:
- Ikut larut dalam kesedihan dan memiliki keberpihakan yang jelas kepada yang dizalimi (mazlum).
- Mengecam pelaku kezaliman.
- Mengambil pelajaran agar tragedi serupa tidak terulang.
Pentingnya Ratapan bagi Jiwa
- Menghidupkan Hati: Mengadakan majelis duka bagi Imam Husain diyakini dapat menghidupkan hati yang keras atau mati. Orang yang enggan meratapi kezaliman terhadap Ahlul Bait dikhawatirkan memiliki hati yang mati karena lebih mencintai dunia.
- Pembersih Diri: Air mata yang tumpah dalam ratapan dianggap sebagai sarana untuk memadamkan api neraka dan memadamkan sifat-sifat buruk dalam jiwa manusia.
- Melawan Keterpaku pada Dunia: Tragedi Karbala terjadi karena masyarakat saat itu terlalu bergantung pada dunia dan abai terhadap agama. Ratapan berfungsi untuk mengingatkan manusia bahwa jati diri sejati adalah amal saleh dan akhirat, bukan harta atau jabatan.
Sebagai penutup, video menekankan bahwa mencintai dan meratapi Imam Husain adalah jalan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, serta merupakan bentuk ketaatan kepada bimbingan Al-Qur’an, Nabi, dan para Imam suci.
Judul video: Tradisi Ratapan Dalam Al Qur’an & Sunnah – Watch on Youtube



