12 October 2026

“Siapa yang mengangkatmu menjadi pemimpin?”

tanya Abu Quhafah. Ayah dari Khalifah Abubakar. Beliau masuk Islam setelah Futuh Makkah.

“Kaum Muslimin,” jawab Abubakar.

“Apakah Bani ‘Abd Manaf ridha?” (keluarga Rasulullah ﷺ)

“Tidak semua.”

Abu Quhafah terdiam sejenak, lalu berkata pelan namun berat:

“Kalau begitu, urusan ini belum selesai.”

Ia kemudian mengajukan pertanyaan yang lebih tajam—bukan politis, melainkan rasional:

“Kenapa bukan Ali?”

Abu Bakar menjawab singkat: “Ali masih muda.”

Dan di titik inilah sejarah memancarkan kejujurannya yang paling telanjang. Abu Quhafah menimpali:

“Kalau begitu, biarkan aku duduk di kursi itu. Karena aku lebih tua.”

Tidak ada makian. Tidak ada ambisi.

Hanya logika lurus yang menguji sebuah alasan.

Ayah, Anak, dan Ukuran Kepemimpinan

Dialog ini sering disembunyikan karena terlalu sederhana—padahal justru di situlah kekuatannya. Abu Quhafah tidak berbicara sebagai teolog, tidak pula sebagai ideolog.
Ia adalah orang tua Quraisy yang memahami adat, kehormatan, dan stabilitas sosial. Pertanyaannya bukan siapa menang, melainkan apa ukurannya.

Jika umur dijadikan kriteria, maka:

  • Abu Quhafah lebih tua dari Abu Bakar,
  • Banyak sahabat lain lebih tua dari Ali bin Abi Thalib,
  • Kepemimpinan berubah menjadi hierarki usia, bukan kapasitas, ilmu, atau kedekatan dengan Rasulullah ﷺ.

Dengan satu kalimat, Abu Quhafah membongkar inkonsistensi argumen “Ali masih muda”. Sejarah mencatat: tidak ada jawaban lanjutan atas bantahan itu.

“Ali Terlalu Muda”: Alasan atau Dalih?

Mari kita letakkan fakta, tanpa emosi:

Ali bin Abi Thalib adalah:

  • Orang pertama dari kalangan pemuda yang masuk Islam,
  • Tidur di ranjang Nabi ﷺ pada malam hijrah,
  • Panglima di hampir seluruh peperangan besar,
  • Rujukan hukum dan hikmah para sahabat,
  • Sepupu dan menantu Rasulullah ﷺ,
  • Dibentuk langsung dalam rumah kenabian.

Maka pertanyaan yang muncul bukanlah pembelaan mazhab, melainkan kejujuran sejarah:

Muda dibanding apa? Dan tua untuk kepentingan siapa?

Di sini kita melihat bahwa persoalannya bukan kelayakan Ali, melainkan kriteria yang cair—hari ini umur, besok pengalaman, lusa stabilitas. Kriteria bergerak mengikuti kebutuhan, bukan sebaliknya.

“Urusan Ini Belum Selesai”: Kalimat yang Terlalu Mahal

Ucapan Abu Quhafah—“urusan ini belum selesai”—bukan ancaman, bukan oposisi. Ia adalah kesadaran sosial bahwa kepemimpinan pasca-Nabi ﷺ tidak lahir dari satu formula ilahiah yang disepakati semua pihak. Bahkan ayah sang khalifah pun merasakan ada yang belum tuntas.

Menariknya, Abu Quhafah tidak pernah menjadi pembangkang. Ia masuk Islam, hidup tenang, dan tidak mengorganisasi perlawanan. Ini menegaskan bahwa kritik itu bukan kebencian, melainkan kejernihan.

Pelajaran yang Enggan Kita Baca

Dari dialog singkat ini, sejarah mengajarkan:

  1. Kepemimpinan awal Islam lahir dalam kegamangan kriteria, bukan dalam kesepakatan tunggal yang mapan.
  2. Ali tersisih bukan karena tidak layak, tetapi karena alasan-alasan yang berubah-ubah.
  3. Pertanyaan “Kenapa bukan Ali?” adalah pertanyaan paling awal dan paling jujur—dan ia datang dari ayah khalifah sendiri, bukan dari mazhab yang lahir berabad-abad kemudian.
  4. Sejarah bermasalah bukan karena perbedaan, melainkan karena alasan yang tidak berani diuji.

Saya tidak mengajak kita marah. Hanya mengajak kita berpikir jujur.

Kadang, satu kalimat sederhana:

“Kalau ukurannya umur, aku lebih tua.” lebih berbahaya bagi mitos sejarah daripada seribu polemik yang datang belakangan.

Dan mungkin benar kata Abu Quhafah— urusan itu memang belum selesai, selama kita belum berani menimbangnya dengan akal yang lurus.

Sumber dan Rujukan Sejarah

Riwayat dialog Abu Quhafah dengan Abu Bakar serta pertanyaan “Kenapa bukan Ali?” disebutkan dan dibahas dalam literatur tarikh klasik, di antaranya:

  1. Al-Balādzurī, Ansāb al-Ashrāf — pembahasan awal kekhalifahan dan respons keluarga.
  2. Ibn Sa‘d, Ṭabaqāt al-Kubrā — biografi Abu Bakar dan keluarganya.
  3. Al-Ṭabarī, Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk — riwayat Saqifah dan dinamika pasca wafat Nabi ﷺ.
  4. Ibn Abī al-Ḥadīd, Sharḥ Nahj al-Balāghah — kritik rasional atas peristiwa Saqifah dan posisi Ali.
  5. Al-Mas‘ūdī, Murūj al-Dhahab — analisis sosial-politik awal Islam.

Catatan penting:

riwayat-riwayat ini hadir dengan variasi redaksi dalam sumber-sumber tarikh. Esai ini tidak berdiri pada satu sanad tunggal, melainkan pada koherensi makna historis yang ditunjukkan oleh banyak penulis klasik.

Kenapa bukan

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/1BgjonBLEA/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us