11 October 2026

Suatu hari di Madinah, langit sedang terang dan angin musim semi mengalir lembut melalui jendela rumah Imam Ja’far ash-Shadiq. Majelis ilmu sedang berlangsung. Para murid duduk melingkar, sebagian membawa lembaran perkamen, sebagian lagi hanya menundukkan kepala, menyimpan setiap kata sang Imam di dalam dada.

Salah seorang murid mengangkat tangan dengan hati-hati. Suaranya pelan, namun pertanyaannya berat:

“Wahai Putra Rasulullah, mengapa Allah disebut Muqallibal Qulub, Sang Pembolak-balik Hati? Mengapa Dia memilih nama ini, padahal Dia bisa saja menetapkan hati hamba-Nya seperti batu yang kokoh, tidak goyah, tidak ragu?”

Para murid menanti. Ruangan terasa senyap dan sepi.

Imam Ja’far diam. Beliau tidak menjawab.

Beliau berdiri perlahan, melangkah menuju jendela, lalu membuka daun jendela kayu itu lebar-lebar. Cahaya matahari masuk membanjiri ruangan.

“Mendekatlah kalian,” kata Imam sambil tersenyum tipis. “Lihat ke luar.”

Para murid berdiri dan berkerumun di dekat jendela. Di kejauhan, di hamparan tanah cokelat yang baru saja disiram hujan semalam, seorang petani tua sedang membajak ladangnya. Tubuhnya membungkuk. Tangannya mencengkeram gagang bajak. Keringat mengalir di pelipisnya, namun langkahnya tegap, dan matanya menatap ke depan dengan penuh tekad.

Imam Ja’far berkata dengan suara rendah, hampir seperti berbisik:

“Perhatikan petani itu. Dia sedang mempersiapkan masa depan. Dia membajak tanah dengan semangat, menanam benih dengan penuh harapan. Dia tahu — atau setidaknya dia percaya — bahwa kelak ia akan menuai hasil dari semua keringatnya hari ini. Dari mana datangnya semangat itu?”

Para murid terdiam. Imam tidak menunggu jawaban.

“Semangat itu adalah pemberian. Allah meniupkan keyakinan ke dalam dadanya, sehingga ia kuat mengangkat bajak yang berat itu. Sekarang, tunggu. Perhatikan.”

Tidak lama kemudian, sesuatu terjadi di kebun itu. Petani tua itu tiba-tiba berhenti. Bajak yang tadi bergerak konstan kini diam. Bahunya turun. Ia melepaskan gagang kayu itu, melangkah lambat ke pinggir kebun, lalu duduk di atas sebuah batu di bawah pohon kurma. Pandangannya kosong, menatap tanah yang baru saja ia bajak.

Imam Ja’far menoleh kepada murid-muridnya:

“Nah, lihatlah. Allah baru saja mencabut semangatnya. Sekarang di kepala petani itu muncul pikiran-pikiran lain.

‘Bagaimana kalau benih ini tidak tumbuh? Bagaimana kalau hama datang dan memakan daunnya?

Bagaimana kalau hujan tidak turun, atau turun terlalu deras hingga akarnya membusuk?

Bagaimana kalau semua kerja kerasku ini sia-sia?’ Pikiran-pikiran itu berputar di kepalanya seperti angin yang mengaduk debu.”

“Inilah hati manusia, wahai murid-muridku. Pagi ini ia yakin, siang ini ia ragu. Pagi ini ia kuat, siang ini ia lemah. Pagi ini ia melangkah, siang ini ia duduk termenung. Bukan tubuhnya yang berubah — tubuhnya masih sama. Yang berubah adalah hatinya.”

Para murid masih menatap ke luar jendela. Mereka melihat petani itu duduk cukup lama, mungkin seperempat jam. Lalu, perlahan, ia menarik napas panjang. Ia menegakkan punggungnya. Ia berdiri kembali. Ia berjalan menuju bajaknya, mencengkeram kembali gagang kayu itu, dan melanjutkan pekerjaannya — kali ini dengan langkah yang bahkan lebih mantap dari sebelumnya.

Imam Ja’far tersenyum.

“Lihatlah. Hatinya kembali diluruskan. Pikirannya kembali jernih. Ia berkata pada dirinya sendiri: ‘Kalau aku tidak mengerjakan, maka sudah pasti aku tidak akan mendapatkan apa-apa. Kalau aku mengerjakan, setidaknya ada harapan, ada kemungkinan, ada pintu yang Allah buka.’ Dan dengan itu, ia bangkit.”

“Tentu,” lanjut Imam, “kemampuan untuk cepat bangkit ini juga dipengaruhi oleh pengalaman. Petani ini sudah pernah menikmati hasil panen di musim-musim sebelumnya. Ia tahu rasanya menuai. Maka keraguannya tidak berlangsung lama — sebentar saja, lalu ia kembali. Tapi seandainya ia petani baru yang belum pernah merasakan satu pun musim panen, mungkin ia akan duduk lebih lama. Mungkin ia akan ragu berhari-hari. Mungkin ia bahkan akan meninggalkan kebunnya.”

Imam Ja’far menutup jendela perlahan, lalu duduk kembali di tengah majelis. Wajahnya tenang, namun matanya tajam menatap setiap muridnya satu per satu.

“Inilah jawaban dari pertanyaanmu tadi. Allah disebut Muqallibal Qulub bukan untuk menakut-nakuti hamba-Nya, melainkan untuk mengajarkan satu hal yang paling penting dalam hidup: bahwa hati ini bukan milikmu sepenuhnya. Hati ini ada dalam genggaman-Nya. Dia yang menggerakkannya, Dia yang menenangkannya, Dia yang membolak-balikkannya.”

“Petani tadi tidak akan pernah bisa menyelesaikan ladangnya hanya dengan kekuatan ototnya. Ia membutuhkan hati yang lurus, niat yang kuat, dan keyakinan yang tidak goyah. Dan ketiganya — hati, niat, keyakinan — semuanya berada di tangan Allah.”

“Maka jika engkau ingin istiqamah dalam agamamu, jika engkau ingin tetap berdiri di atas jalan kebenaran ketika dunia mengguncangmu dari segala arah, jangan pernah lupa untuk memohon kepada Pemilik Hatimu. Karena pekerjaanmu, ibadahmu, perjuanganmu — semuanya bergantung pada satu hal: apakah hatimu tetap lurus menghadap-Nya, atau berpaling.”

Imam Ja’far kemudian mengangkat kedua tangannya, dan para murid mengikuti. Beliau mengajarkan sebuah doa yang sederhana, namun mengandung seluruh inti pelajaran hari itu:

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Yaa Hayyu Yaa Qayyuum, Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit qalbii ’alaa diinik.

“Wahai Yang Maha Hidup, Wahai Yang Maha Berdiri Sendiri (mengurus segala sesuatu), Wahai Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Imam Ja’far menutup majelis hari itu dengan kalimat yang kemudian disimpan oleh murid-muridnya sepanjang hidup mereka:

“Petani di luar jendela tadi mungkin tidak pernah tahu bahwa ia hari ini menjadi guru bagi kalian. Tetapi setiap manusia adalah petani, wahai muridku. Setiap kita sedang membajak ladang akhirat dengan amal-amal kita. Dan setiap kita, pada satu titik, akan duduk di pinggir kebun, ragu, lelah, bertanya-tanya apakah semua ini ada gunanya. Pada saat itulah, ucapkan doa ini. Karena hanya Pemilik Hati yang bisa mengembalikanmu untuk berdiri dan membajak kembali.”

Catatan:

Doa Yaa Muqallibal Quluub ini juga diriwayatkan dalam banyak hadits sebagai doa yang sering diucapkan oleh Rasulullah ﷺ sendiri. Dalam riwayat Imam at-Tirmidzi, sahabat Anas bin Malik pernah bertanya kepada Nabi mengapa beliau begitu sering mengucapkan doa ini. Rasulullah menjawab:

“Tidak ada satu hati pun melainkan ia berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman. Jika Dia berkehendak meluruskannya, Dia luruskan. Dan jika Dia berkehendak memalingkannya, Dia palingkan.”

Maka kisah Imam Ja’far dan petani di balik jendela bukanlah kisah yang berdiri sendiri — ia adalah cermin dari sunnah Nabi sendiri, yang setiap hari, di antara langkah-langkah dakwahnya, tidak pernah berhenti memohon kepada Allah agar hatinya tetap diteguhkan.

Karena pada akhirnya, semua amal kita bermula dari satu tempat: hati yang lurus menghadap-Nya.

Petani dibalik

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/1cYDUvJvRL/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us