11 October 2026

Di Meja Itu, Orang Miskin Tidak Mendapat Kursi

Malam turun di Basrah dengan cahaya keemasan.

Di sebuah rumah besar, pelita-pelita digantung berjajar. Permadani dibentangkan. Wadah-wadah besar diletakkan di atas meja. Aroma daging panggang, roti lembut, madu, dan rempah memenuhi ruangan.

Para pelayan bergerak cepat.

Satu hidangan belum habis, hidangan lain telah datang.

Malam itu seorang pemuda kaya Basrah mengadakan perjamuan. Ia tidak mengundang sembarang orang. Yang hadir adalah para saudagar, pemilik tanah, tokoh masyarakat—orang-orang yang pakaiannya harum dan namanya mempunyai pengaruh.

Di antara mereka terdapat seorang tamu istimewa: Utsman bin Hunaif al-Anshari.

Ia bukan orang biasa. Ia seorang sahabat Nabi saw. dan gubernur Basrah yang diangkat oleh Imam Ali a.s.

Ketika ia memasuki ruangan, tuan rumah menyambutnya dengan penuh penghormatan. Tempat terbaik disediakan. Wadah-wadah makanan diarahkan kepadanya.

Orang-orang berdiri. Senyum mengembang.

Seorang gubernur telah hadir di meja mereka.

Namun di luar rumah, di balik pintu yang dijaga, ada manusia-manusia yang tidak diundang.

Orang miskin tidak mendapat tempat. Pengemis diusir.

Mereka yang pakaiannya lusuh bahkan tidak diperkenankan mendekati pintu—sementara di dalam, makanan berlimpah hingga sebagian mungkin akan tersisa.

Malam semakin larut. Orang-orang kaya tertawa. Mangkuk-mangkuk berpindah tangan.

Dan kehadiran seorang gubernur membuat pesta itu tampak terhormat.

Utsman bin Hunaif mungkin tidak mengambil uang haram.

Ia tidak mencuri harta rakyat. Tidak menjual keputusan.

Ia hanya memenuhi sebuah undangan makan. Hanya makan malam.

Namun ratusan kilometer dari Basrah, di rumah yang sangat sederhana di Kufah, berita tentang jamuan itu sampai kepada Imam Ali.

Seseorang melaporkan:

“Gubernurmu menghadiri sebuah pesta. Orang-orang kaya diundang. Orang-orang miskin disingkirkan.”

Ali terdiam.

Bukan makanan lezat yang membuatnya murka. Islam tidak mengharamkan hidangan yang baik.

Bukan pula rumah besar itu. Ali tidak menganggap kekayaan sebagai dosa.

Yang melukai hatinya adalah sebuah pemandangan:

seorang pejabat pemerintah duduk nyaman di meja yang pintunya tertutup bagi kaum miskin.

Ali mengambil pena.

Di hadapannya tidak ada daging panggang. Tidak ada madu murni. Tidak ada roti lembut.

Hanya roti kasar yang keras dan pakaian sederhana yang telah lama dipakainya.

Pelita kecil menerangi lembaran surat. Ujung pena menyentuhnya.

Kalimat pertama ditulis: “Wahai Ibn Hunaif…”

Di Basrah, sisa pesta mungkin masih sedang dibersihkan. Namun dari Kufah, sebuah pengadilan telah dimulai.

Ali menulis bahwa ia telah mendengar seorang pemuda Basrah mengundangnya ke perjamuan—dan ia segera datang. Berbagai makanan pilihan disajikan. Wadah-wadah besar diletakkan di hadapannya.

Lalu pena Ali berhenti sesaat. Mungkin dadanya bergemuruh.

Kemudian ia menulis kalimat yang seperti menumpahkan seluruh meja pesta itu ke lantai:

“Aku tidak pernah menduga engkau menerima undangan kaum yang mengusir orang miskin, tetapi memanggil orang kaya.”

Itulah masalahnya. Bukan rasa makanannya. Bukan harga piringnya.

Tetapi siapa yang boleh duduk—dan siapa yang diusir.

Ali mengetahui bahwa kezaliman tidak selalu datang membawa pedang. Kadang-kadang ia hadir sebagai jamuan yang sangat sopan.

Ia menyediakan tempat terhormat bagi pejabat, mengelilinginya dengan orang kaya, memberi makanan terbaik, lalu perlahan membuat telinganya hanya mendengar suara mereka yang mampu mengundangnya.

Orang miskin tidak mempunyai rumah megah untuk mengundang gubernur.

Tidak memiliki hidangan untuk menjamu. Tidak mampu memberikan hadiah.

Jika seorang pejabat hanya memasuki rumah orang kaya, ia akhirnya akan melihat dunia melalui jendela orang kaya.

Kelaparan akan berubah menjadi angka. Kemiskinan menjadi laporan.

Tangisan rakyat menjadi suara jauh yang tidak lagi terdengar.

Ali melanjutkan suratnya:

“Perhatikan makanan yang engkau gigit. Tinggalkan sesuatu yang asalnya meragukan. Makanlah hanya yang engkau yakini diperoleh secara halal.”

Namun teguran itu belum selesai.

Ali tidak sekadar memerintahkan gubernurnya hidup sederhana. Ia menunjukkan dirinya sebagai ukuran.

“Ketahuilah, setiap pengikut mempunyai imam yang diikutinya dan dari cahaya ilmunya ia mengambil petunjuk.”

Kemudian Ali menggambarkan kehidupan khalifahnya: Dari seluruh dunia, imam mereka mencukupkan diri dengan dua helai pakaian usang.

Dari seluruh hidangan, ia mencukupkan diri dengan dua potong roti.

Ali tidak meminta semua orang hidup persis seperti dirinya. Ia tahu tidak semua manusia sanggup.

Namun pejabatnya harus membantunya—dengan ketakwaan, kesungguhan, kesucian diri, dan keteguhan.

Pena terus bergerak. Tulisan itu semakin berubah menjadi gelegar:

“Apakah aku merasa cukup hanya dengan dipanggil Amirul Mukminin, tetapi tidak ikut merasakan kesulitan mereka?”

Inilah pertanyaan yang menghancurkan kemegahan kekuasaan.

Apa arti gelar Pemimpin Kaum Mukminin jika pemimpin tidak merasakan lapar mereka?

Apa arti gubernur jika ia dikenal oleh para saudagar, tetapi tidak dikenali kaum miskin?

Apa arti pemerintahan jika pintu rumah pejabat terbuka untuk undangan orang kaya, tetapi penderitaan rakyat harus menunggu di luar?

Ali menulis:

Ia mampu memilih madu yang paling murni. Ia mampu memakan gandum terbaik.

Ia mampu mengenakan sutra. Wilayah pemerintahannya cukup luas untuk menyediakan semuanya.

Tetapi bagaimana mungkin ia tidur dengan perut kenyang jika di Hijaz atau Yamamah mungkin ada seseorang yang bahkan tidak berharap mendapatkan sepotong roti?

Bagaimana mungkin Ali menikmati makanan pilihan ketika ada perut-perut lapar dan kerongkongan yang terbakar oleh haus?

Di rumah megah Basrah, meja makan telah dibersihkan.

Namun di rumah sederhana Kufah, Ali sedang membongkar makna kepemimpinan.

Seorang penguasa tidak dilarang makan karena makanan itu lezat.

Ia menahan dirinya karena mungkin ada rakyat yang tidak makan.

Ia tidak mengenakan pakaian kasar karena kain yang bagus haram.

Ia melakukannya agar orang termiskin dalam wilayahnya tidak merasa hidup sendirian.

Kemudian surat itu berbicara seakan dunia berdiri sebagai seorang perempuan penggoda di hadapan Ali:

“Pergilah dariku, wahai dunia!” Ali telah melepaskan dirinya dari cengkeramannya.

Ia telah lolos dari perangkapnya. Dunia pernah menjatuhkan raja-raja yang jauh lebih kaya.

Ia menipu mereka dengan pesta, kemewahan, penghormatan, dan pujian—hingga mereka lupa bahwa liang kubur tidak menjadi lebih luas karena seseorang pernah tinggal di istana.

Namun dunia tidak berhasil menipu Ali.

Ali menulis bahwa ia akan melatih jiwanya agar bergembira bila memperoleh sepotong roti dan merasa cukup dengan garam sebagai lauknya.

Bukan karena tubuhnya lemah.

Justru di dalam surat itu Ali menjawab orang yang mungkin menganggap makanan sederhana telah menghilangkan kekuatannya:

Pohon yang tumbuh liar di gurun mempunyai batang lebih kuat.

Kayu yang tidak dimanjakan air justru lebih lama menyala.

Lalu keluar sumpah seorang lelaki yang pernah berdiri sendirian di Khandaq:

“Demi Allah, seandainya seluruh bangsa Arab bersatu memerangiku, aku tidak akan berpaling dari mereka.”

Inilah Ali. Perutnya mungkin hanya berisi roti kasar. Pakaiannya mungkin penuh tambalan.

Namun seluruh bangsa Arab pun tidak sanggup membuatnya mundur.

Surat itu akhirnya ditutup dengan peringatan:

“Bertakwalah kepada Allah, wahai Ibn Hunaif. Cukuplah dengan rotimu agar engkau selamat dari api.”

Surat kemudian dilipat. Disegel. Dibawa menembus gurun menuju Basrah.

Bayangkan malam ketika surat itu tiba.

Utsman bin Hunaif membukanya.

Cahaya pelita bergerak pada setiap baris.

Barangkali aroma pesta beberapa hari lalu masih tersisa dalam ingatannya. Wajah-wajah para saudagar kembali terbayang. Mangkuk-mangkuk besar. Makanan berwarna-warni. Sambutan penuh kehormatan.

Tetapi setelah membaca surat Ali, semua itu mungkin terasa seperti bara.

Ia tidak dipecat. Tidak disebut pengkhianat.

Ali justru menyelamatkannya sebelum satu undangan berubah menjadi kebiasaan, kebiasaan berubah menjadi kedekatan, dan kedekatan berubah menjadi keberpihakan.

Sebab korupsi tidak selalu dimulai dari sekantong emas. Terkadang ia dimulai dari sebuah kursi kehormatan di meja makan.

Dari hidangan gratis. Dari tuan rumah kaya yang berkata: “Anggap saja rumah sendiri.”

Kemudian suatu hari, tuan rumah itu datang membawa permintaan. Dan pejabat tersebut mulai sulit berkata tidak.

Ali melihat bahaya itu sejak suapan pertama.

Karena itulah sebuah pesta di Basrah mampu membuat pena di Kufah menyala seperti pedang.

Tidak ada pertempuran malam itu. Tidak ada benteng dihancurkan.

Tidak ada darah ditumpahkan. Hanya seorang gubernur yang menghadiri jamuan—

dan seorang imam yang mengajarkan bahwa seorang pejabat harus memperhatikan bukan hanya makanan yang tersaji di hadapannya, tetapi juga: siapa yang sengaja tidak diberi tempat di meja itu.

Keadilan Ali tidak berhenti di Baitul Mal. Ia masuk ke ruang makan para pejabat.

Ia memeriksa undangan mereka. Ia melihat dengan siapa mereka tertawa.

Ia bertanya di rumah siapa mereka duduk— dan orang miskin mana yang diusir dari pintunya.

Karena menurut Ali:

ketika seorang penguasa terlalu sering makan bersama orang kaya, perlahan-lahan ia akan lupa bagaimana suara orang lapar.

Pesta yang

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Sumber utama kisah dan isi teguran:

Nahj al-Balāghah, Surat 45 kepada Utsman bin Hunaif⁠

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19oVvgFDZu/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us