11 October 2026

Perintah Ali kepada Seorang Pemungut Pajak

Pagi itu, halaman pemerintahan Kufah dipenuhi para pejabat dan tokoh masyarakat.

Seorang lelaki dari kabilah Tsaqif berdiri di hadapan Imam Ali a.s. Ia baru saja menerima tugas yang berat: berangkat menuju salah satu wilayah pertanian Irak untuk memungut pajak.

Wilayah itu luas.

Di sana hidup para petani Muslim, Yahudi, dan Nasrani. Mereka mengolah tanah, memelihara ternak, membangun saluran air, dan mengandalkan hasil panen untuk memberi makan keluarga.

Pajak dari wilayah tersebut dibutuhkan negara.

Untuk pasukan.

Untuk orang miskin.

Untuk perjalanan.

Untuk berbagai urusan pemerintahan.

Di hadapan masyarakat, Ali memberikan perintah tegas:

“Periksalah seluruh kewajiban mereka. Jangan abaikan satu dirham pun.”

Orang-orang mendengarnya.

Petugas itu mengangguk.

Ia memahami kalimat tersebut sebagaimana pejabat biasanya memahami perintah penguasa:

Pajak harus terkumpul.

PULANGLAH MESKIPUN DENGAN TANGAN KOSONG

Ketika Ali Mengajarkan Cara Negara Menagih Pajak

Pagi itu halaman pemerintahan Kufah dipenuhi manusia.

Para pejabat berdiri dalam barisan. Catatan tentang hasil bumi, pajak tanah, dan kewajiban berbagai wilayah tersusun di hadapan mereka.

Pemerintahan membutuhkan biaya. Tentara harus diberi bekal. Jalan-jalan harus dijaga.

Kaum miskin, anak yatim, dan orang-orang yang tidak mampu bekerja harus memperoleh bagian dari Baitul Mal.

Namun seluruh kebutuhan itu bergantung pada satu perkara: pajak harus dikumpulkan.

Imam Ali a.s. memanggil seorang lelaki dari kabilah Tsaqif.

Ia akan dikirim menuju salah satu wilayah pertanian di Irak untuk memungut kewajiban penduduk.

Di hadapan orang banyak, Ali memberikan perintah tegas:

“Periksalah kewajiban mereka. Kumpulkanlah dengan sungguh-sungguh. Jangan abaikan satu dirham pun.”

Orang-orang mendengarnya. Petugas itu pun mendengarnya.

Pesannya terlihat jelas: negara tidak boleh kehilangan hak yang seharusnya dikumpulkan.

Namun menjelang keberangkatan, Ali menyuruh petugas tersebut datang menemuinya secara pribadi.

Lelaki itu masuk ke rumah khalifah.

Ia membayangkan akan menemukan meja besar, tumpukan dokumen, atau makanan yang pantas bagi seorang penguasa.

Namun yang dilihatnya hanyalah ruangan sederhana. Tidak ada penjaga di pintu. Tidak ada pelayan yang menghalangi.

Ali duduk di hadapan sebuah wadah dan kendi air. Ia meminta sebuah kantong makanan yang tertutup rapat.

Segelnya dibuka. Di dalamnya terdapat sawiq—makanan sederhana dari biji-bijian yang digiling.

Ali menuangkannya ke dalam wadah, mencampurnya dengan air, lalu meminumnya.

Ia kemudian memberikan sebagian kepada petugas itu.

Lelaki tersebut memperhatikan makanan khalifahnya.

“Wahai Amirul Mukminin, engkau tinggal di Irak. Di negeri ini tersedia makanan yang jauh lebih baik daripada ini.”

Ali menjelaskan bahwa ia hanya mengambil secukupnya. Ia menjaga makanannya agar tidak bercampur dengan sesuatu yang tidak jelas asalnya.

Kemudian suasana berubah. Ali meletakkan wadahnya. Ia menatap petugas tersebut dengan dalam.

“Apa yang tadi engkau dengar di hadapan orang banyak adalah agar mereka mengetahui bahwa kewajiban negara tidak boleh dipermainkan.”

Lalu Ali menyampaikan perintah yang sesungguhnya harus menjadi jiwa penagihan itu.

“Jangan engkau memukul seorang pun demi mendapatkan satu dirham.”

Petugas itu terdiam. Ali melanjutkan:

“Jangan seorang Muslim.”

“Jangan seorang Yahudi.”

“Jangan seorang Nasrani.”

Tidak ada perbedaan.

Tubuh manusia tidak boleh menjadi alat pemerasan negara.

Punggung seseorang tidak boleh dipukul hanya agar angka dalam catatan pemasukan menjadi sempurna.

Namun Ali belum selesai.

“Jangan engkau menjual makanan yang mereka perlukan untuk hidup.” Petugas itu mendengarkan.

“Jangan mengambil pakaian musim panas mereka.”

“Jangan mengambil pakaian musim dingin mereka.”

“Jangan merampas hewan yang mereka gunakan untuk bekerja.”

Setiap larangan menutup satu jalan kezaliman.

Negara boleh meminta kewajiban— tetapi tidak boleh mengambil makanan dari mulut anak-anak.

Negara boleh memungut pajak— tetapi tidak boleh membiarkan seseorang menggigil karena pakaian musim dinginnya disita.

Negara boleh menagih haknya— tetapi tidak boleh mengambil hewan yang menjadi satu-satunya alat keluarga itu mencari nafkah.

Ali menegaskan:

“Kita diperintahkan mengambil dari kelebihan mereka—bukan merampas kebutuhan hidup mereka.”

Petugas itu mulai gelisah.

Ia mengetahui keadaan lapangan. Tidak semua orang akan membayar dengan mudah. Sebagian akan mengaku tidak mempunyai apa-apa. Sebagian mungkin menyembunyikan harta. Sebagian akan berdebat dan menunda.

Ia menatap Ali.

“Wahai Amirul Mukminin, jika aku menjalankan perintah ini, mungkin aku akan kembali kepadamu seperti ketika aku berangkat.”

Ali bertanya:

“Bagaimana engkau berangkat?”

“Dengan tangan kosong.”

Ruangan menjadi sunyi.

Itulah saat ketika setiap pemerintahan harus menentukan siapa yang paling penting:

kas negara— atau manusia.

Jika Ali memerintahkan kekerasan, pemasukan mungkin akan meningkat.

Jika petugas diberi kebebasan merampas, laporan akan terlihat sempurna.

Jika rumah-rumah boleh dimasuki dan hewan-hewan disita, tidak akan ada kewajiban yang tersisa.

Namun Ali tidak membangun negara dengan air mata rakyat.

Ia tidak ingin Baitul Mal dipenuhi harta yang diambil dari perut orang lapar.

Ali menjawab:

“Sekalipun engkau kembali sebagaimana engkau berangkat.”

Pulanglah dengan tangan kosong.

Biarkan catatan pemasukan tidak sempurna.

Biarkan petugas dianggap gagal membawa hasil.

Asalkan tidak ada satu manusia pun yang dipukul.

Asalkan tidak ada makanan yang dirampas.

Asalkan tidak ada keluarga kehilangan pakaian.

Asalkan tidak ada petani kehilangan hewan yang digunakannya untuk bekerja.

Petugas itu menunduk. Ali lalu memberikan petunjuk yang lebih rinci.

Jika mendatangi suatu kaum, jangan langsung memasuki rumah dan halaman mereka seolah-olah seluruh harta berada di bawah kekuasaanmu.

Berhentilah di tempat air mereka. Datanglah dengan tenang dan berwibawa.

Ucapkan salam.

Kemudian tanyakan: “Adakah bagian Allah dalam harta kalian yang harus diserahkan?”

Jika seseorang menjawab tidak— jangan ulangi pertanyaan itu dengan ancaman.

Jika seseorang menjawab ada— ikutlah bersamanya tanpa menakut-nakuti, menekan, atau mempermalukannya.

Bahkan terhadap hewan, Ali menetapkan keadilan.

Petugas tidak boleh memasuki kawanan ternak tanpa izin pemiliknya.

Tidak boleh membuat hewan ketakutan. Tidak boleh memisahkan induk dari anaknya.

Tidak boleh memerah seluruh susu hingga anak hewan itu kehilangan makanannya.

Hewan yang letih harus diberi kesempatan beristirahat.

Hewan yang kukunya terluka harus diperlakukan dengan lembut.

Mereka harus dibawa melalui jalan yang memiliki air dan rerumputan.

Petugas tersebut datang untuk mempelajari cara mengumpulkan pajak.

Namun Ali mengajarinya cara mengetuk pintu.

Cara mengucapkan salam.

Cara memperlakukan orang yang berbeda agama.

Bahkan cara menjaga perasaan seekor anak unta.

Hari keberangkatan tiba. Petugas itu meninggalkan Kufah.

Tidak ada pasukan besar yang menyertainya. Tidak ada cambuk yang diberikan sebagai alat menakut-nakuti rakyat.

Ia hanya membawa perintah: Ambillah hak negara, tetapi jangan merampas kehidupan manusia.

Ia mendatangi wilayah demi wilayah. Ia berbicara dengan penduduk.

Ia tidak memukul. Tidak menyita makanan. Tidak mengambil pakaian. Tidak merampas hewan pencari nafkah.

Dan sesuatu yang tidak disangka-sangka terjadi.

Ketika petugas itu kembali ke Kufah, ia tidak datang dengan tangan kosong.

Ia menyerahkan hasil pungutannya kepada Ali— hingga dirham terakhir.

Keadilan tidak membuat negara kehilangan wibawa.

Kelembutan tidak membuat rakyat berhenti menunaikan kewajiban.

Justru ketika manusia mengetahui bahwa petugas tidak akan merampas kebutuhan hidup mereka, kewajiban dapat diberikan tanpa kebencian.

Ali memandang hasil itu.

Namun kemenangan sebenarnya bukan jumlah dirham yang dibawa pulang.

Kemenangan itu adalah tidak adanya punggung yang terluka.

Tidak ada anak yang kehilangan makanan.

Tidak ada keluarga yang kehilangan pakaian musim dingin.

Tidak ada petani yang kehilangan hewan kerjanya.

Dan tidak ada Yahudi atau Nasrani yang dipukul atas nama pemerintahan Islam.

Hari itu tidak ada benteng yang dijebol. Tidak ada pedang yang dihunus.

Namun Imam Ali menghancurkan satu pemikiran yang terus hidup sampai hari ini:

bahwa keberhasilan negara dapat dibangun dengan menghancurkan rakyatnya.

Ali mengajarkan:

Kas negara boleh kosong. Laporan pemasukan boleh tidak sempurna.

Petugas boleh kembali tanpa membawa hasil.

Namun negara tidak boleh pulang membawa tangisan orang lemah.

Sebab bagi Ali, satu dirham tidak pernah lebih berharga daripada martabat manusia.

Dan kepada seluruh pemungut pajak sepanjang zaman, kalimatnya masih bergema:

“Jangan pukul mereka. Jangan rampas makanan mereka. Jangan ambil pakaian dan alat mencari nafkah mereka.”

“Jika tidak ada yang dapat dibawa—pulanglah dengan tangan kosong.”

Lebih baik petugas kembali tanpa membawa satu dirham— daripada datang membawa seluruh pajak, tetapi di belakangnya berdiri rakyat yang akan menuntut keadilan di hadapan Allah.

Kembalilah dengan

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Sumber inti:

beberapa riwayat paralel dalam al-Kāfī, al-Sunan al-Kubrā, dan Tārīkh Dimasyq, serta petunjuk Imam Ali kepada para pemungut pajak; dihimpun dalam Imam Ali’s Book of Government⁠.

—

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/1FecpR3mfD/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us