10 October 2026

Makkah telah ditaklukkan.

Berhala-berhala telah dijatuhkan.

Namun kebiasaan jahiliah belum sepenuhnya meninggalkan pelataran Ka’bah. Kaum musyrik masih datang berhaji dengan tata cara mereka. Sebagian manusia masih bertawaf tanpa pakaian. Perjanjian-perjanjian lama masih menggantung di antara Islam dan kabilah-kabilah Arab.

Rumah Allah telah dibersihkan dari patung.

Tetapi belum sepenuhnya dibersihkan dari kekuasaan kemusyrikan.

Kemudian turunlah Surah Bara’ah.

Sebuah surah yang tidak diawali dengan basmalah.

Tidak ada kalimat lembut yang mengantar kedatangannya.

Ia turun seperti palu yang menghantam sisa-sisa jahiliah.

Mulai saat itu, tidak ada lagi kemusyrikan yang boleh berlindung di balik kesucian Ka’bah. Tidak ada lagi tawaf tanpa pakaian. Setiap perjanjian harus dihormati sampai batas waktunya, tetapi setelah itu Tanah Suci harus kembali kepada tauhid.

Ini bukan pengumuman biasa.

Ini adalah berakhirnya sebuah zaman.

Rasulullah SAW mula-mula menyerahkan pengumuman itu kepada Abu Bakar.

Rombongan haji bergerak meninggalkan Madinah.

Unta-unta berjalan membelah gurun. Debu mengepul di belakang kaki-kakinya. Di depan mereka terbentang perjalanan panjang menuju Makkah.

Tetapi kemudian datanglah perintah.

Bukan hasil rapat.

Bukan keputusan kabilah.

Bukan pula perubahan karena perhitungan politik.

Perintah itu datang dari langit.

Risalah Bara’ah tidak boleh disampaikan oleh sembarang orang. Ia harus disampaikan oleh Rasulullah sendiri—atau oleh seorang lelaki dari keluarganya.

Rasulullah SAW pun memanggil satu nama:

Ali bin Abi Thalib.

Tidak ada pemilihan.

Tidak ada musyawarah.

Tidak ada daftar calon.

Ketika langit menentukan siapa yang boleh mewakili Muhammad, Rasulullah tidak membuka majelis untuk meminta pendapat manusia.

Beliau memanggil Ali.

“Susullah mereka.”

Ali segera menaiki tunggangan Rasulullah.

Ia memacu unta itu menembus gurun.

Siang membakar tubuhnya. Angin menghantam wajahnya. Debu melekat pada pakaian dan rambutnya. Namun Ali terus bergerak.

Ia membawa firman Allah.

Ia membawa keputusan Rasulullah.

Ia sedang mengejar sebuah rombongan bukan untuk merebut kehormatan dunia, melainkan untuk mengambil kembali sebuah tugas yang oleh langit dinyatakan hanya boleh dipikul oleh Muhammad—atau seseorang yang berasal dari Muhammad.

Bayangkan suasananya.

Dari kejauhan terdengar derap kaki unta mendekat.

Rombongan menoleh.

Seseorang datang dengan kecepatan tinggi, membelah debu gurun.

Ketika sosok itu semakin dekat, mereka mengenal tunggangannya.

Itu tunggangan Rasulullah.

Dan orang yang berada di atasnya adalah Ali.

Ali menyampaikan perintah Nabi.

Tugas membacakan Bara’ah kini berada di tangannya.

Tidak ada perdebatan.

Tidak ada tawar-menawar.

Sebab jika perintah telah datang dari Rasulullah, Ali tidak pernah bertanya apakah tugas itu akan membuatnya dipuji atau dibenci.

Ia hanya melaksanakannya.

Perjalanan menuju Makkah dilanjutkan.

Hari-hari haji tiba.

Manusia dari berbagai penjuru Jazirah Arab berkumpul di Mina. Para pemimpin kabilah hadir. Para pedagang hadir. Para penyair hadir. Kaum Muslimin dan kaum musyrik masih berdiri di tempat yang sama.

Ribuan manusia memenuhi lembah.

Di tengah kerumunan itulah Ali bangkit.

Tidak ada pasukan yang melindungi suaranya.

Di hadapannya berdiri kabilah-kabilah yang sebagian belum lama memerangi Rasulullah. Banyak di antara mereka mempunyai dendam kepada Bani Hasyim. Sebagian ayah, saudara, dan anak mereka pernah roboh oleh pedang Ali di Badar, Uhud, Khandaq, dan Khaibar.

Kini orang yang paling mereka takuti berdiri di hadapan mereka.

Namun kali ini Ali tidak mengangkat pedang.

Ia mengangkat firman Allah.

Suara Ali menggema di antara bukit-bukit Mina:

“Pernyataan pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya kepada kaum musyrik…”

Kerumunan terdiam.

Setiap wajah menoleh kepadanya.

Ali mengumumkan bahwa setelah tahun itu kaum musyrik tidak boleh lagi berhaji. Tidak seorang pun boleh bertawaf tanpa pakaian. Setiap perjanjian yang masih berlaku akan dihormati sampai waktunya berakhir.

Tidak ada pengkhianatan.

Tidak ada serangan diam-diam.

Tidak ada perjanjian yang diputus sebelum batasnya.

Islam datang mengakhiri kemusyrikan, tetapi tetap menjaga keadilan.

Dan orang yang dipercaya mengumumkan batas antara zaman jahiliah dan zaman tauhid adalah Ali.

Dahulu di Khaibar, tangan Ali merobohkan pintu benteng.

Di atas Ka’bah, tangan Ali merobohkan berhala.

Kini di Mina, suara Ali merobohkan kekuasaan kemusyrikan di seluruh Jazirah Arab.

Pedangnya menaklukkan benteng.

Tangannya membersihkan Ka’bah.

Suaranya menutup zaman jahiliah.

Inilah Ali yang sering hanya diperkenalkan sebagai seorang pemberani.

Padahal keberanian hanyalah salah satu pintu menuju dirinya.

Ali bukan sekadar orang yang mampu mewakili Rasulullah di medan perang. Ia adalah orang yang dipilih untuk mewakili Rasulullah ketika firman Allah harus disampaikan kepada seluruh bangsa Arab.

Seandainya urusan itu hanya membutuhkan kefasihan, ada banyak orang yang pandai berbicara.

Seandainya hanya membutuhkan usia, ada orang-orang yang jauh lebih tua.

Seandainya hanya membutuhkan kedekatan sebagai sahabat, banyak orang telah lama bersama Rasulullah.

Tetapi perintahnya sangat khusus:

“Tidak patut seorang pun menyampaikan ini kecuali seorang lelaki dari keluargaku.”

Lalu Rasulullah memanggil Ali.

Cukup.

Sejarah sebenarnya telah selesai berbicara.

Tidak perlu menambahkan apa pun.

Sebab pada hari itu, Rasulullah tidak sekadar mengatakan bahwa Ali adalah keluarganya.

Beliau menunjukkan bahwa ketika dirinya tidak hadir, ada satu orang yang boleh berdiri membawa suaranya.

Orang itu adalah Ali.

Di Badar, Ali adalah pedang Muhammad.

Di Khaibar, Ali adalah tangan Muhammad.

Pada malam hijrah, Ali adalah benteng Muhammad.

Dan di hadapan seluruh Jazirah Arab—

Ali adalah suara Muhammad.

Bara'ah ketika

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Catatan sumber:

Inti peristiwa—Rasulullah mula-mula mengutus Abu Bakar membawa pengumuman Bara’ah, kemudian menyerahkannya kepada Ali karena tugas itu hanya boleh disampaikan oleh seorang lelaki dari keluarga beliau—tercatat dengan derajat hasan dalam “Jami‘ at-Tirmidzi 3090”.
Rincian perjalanan serta pembacaan maklumat di Mina juga dicatat dalam karya-karya sirah, termasuk riwayat Ibn Ishaq yang dihimpun dalam “sejarah penyampaian Surah Bara’ah”

Riwayat berbeda mengenai apakah Abu Bakar kemudian pulang atau tetap memimpin rangkaian haji; tetapi semuanya bertemu pada fakta pokok: Ali yang ditunjuk untuk menyampaikan Bara’ah atas nama Rasulullah.

—

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/1CRH9M3iUk/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us