17 October 2026

Nama Kumayl bin Ziyad an-Nakha‘i selalu menggetarkan hati para pecinta Ahlul Bait.

Dialah sahabat yang dibawa Imam Ali bin Abi Thalib a.s. menembus keheningan malam. Kepadanya Imam Ali mengajarkan sebuah munajat yang kemudian dikenal sebagai Doa Kumayl—doa yang membuat manusia mengakui dosa-dosanya, menangisi kelemahannya, dan mengetuk pintu kasih sayang Allah.

Kumayl bukan orang asing bagi Ali.

Ia murid, sahabat, pencinta, sekaligus pemegang rahasia spiritual Imamnya.

Tetapi justru kepada orang sedekat itulah sebuah surat yang sangat keras dikirimkan.

Surat itu tidak berisi doa.

Tidak ada kata-kata yang menenangkan.

Tidak ada pujian atas kesetiaan masa lalu.

Yang datang adalah teguran seorang kepala negara kepada gubernurnya.

Sebab dalam pemerintahan Ali, kedekatan tidak menghapus pertanggungjawaban.

Kota di Tepi Efrat

Imam Ali mengangkat Kumayl sebagai penguasa wilayah Hīt, sebuah kota di tepian Sungai Efrat. Wilayah seperti itu bukan sekadar tempat tinggal penduduk. Ia merupakan salah satu titik pertahanan yang harus dijaga dari pergerakan pasukan dan serangan kelompok-kelompok yang menyusup dari arah Syam.

Muawiyah ketika itu tidak selalu mengirimkan pasukan untuk melakukan pertempuran besar. Tekanan dapat dilakukan melalui serangan-serangan cepat: memasuki suatu wilayah, menebar ketakutan, merampas, menyerang pendukung pemerintahan Imam Ali, lalu kembali sebelum pasukan utama tiba.

Ini bukan hanya perang pedang.

Ini perang urat saraf.

Tujuannya membuat rakyat percaya bahwa pemerintahan Ali tidak mampu melindungi mereka. Jika penduduk kehilangan rasa aman, kepercayaan kepada pemerintah akan ikut runtuh.

Karena itu, Hīt harus dijaga.

Namun Kumayl melihat Qarqisiya.

Mungkin ia menilai bahwa menunggu musuh datang bukan pilihan terbaik. Mungkin ia ingin mendahului ancaman dengan melakukan gerakan menyerang. Niatnya boleh jadi keberanian. Tujuannya mungkin menghantam pihak lawan sebelum mereka menghantam wilayahnya.

Akan tetapi, ada satu masalah besar.

Ketika ia bergerak menuju Qarqisiya, pos-pos pertahanan yang dipercayakan kepadanya ditinggalkan tanpa perlindungan yang memadai.

Kumayl bergerak mengejar sasaran di luar wilayah tugasnya, sementara pintu yang seharusnya dijaganya terbuka.

Musuh pun memperoleh jalan.

Mereka melewati wilayah itu dan melancarkan serangan terhadap orang-orang yang berada dalam perlindungan pemerintahan Imam Ali.

Berita tersebut sampai ke Kufah.

Imam Ali tidak menilainya berdasarkan niat Kumayl. Beliau menilainya berdasarkan amanah yang telah diberikan kepadanya dan akibat yang ditimbulkan oleh keputusannya.

Kemudian surat itu ditulis.

Teguran Tanpa Basa-Basi

Nahjul Balaghah tidak menceritakan suasana ketika surat tersebut tiba di tangan Kumayl. Kita tidak mengetahui apakah ia membacanya seorang diri atau di hadapan para pembantunya. Kita juga tidak mengetahui bagaimana wajahnya ketika mendengar setiap kalimat Imamnya.

Namun, isi surat itu sendiri sudah cukup untuk menggambarkan betapa berat teguran tersebut.

Imam Ali memulai:

“Sesungguhnya seseorang yang menyia-nyiakan tugas yang dipercayakan kepadanya dan mengerjakan sesuatu yang telah ditangani orang lain adalah kelemahan yang nyata dan pemikiran yang menghancurkan.”

Teguran itu langsung menuju pusat kesalahan.

Kumayl tidak ditegur karena tidak melakukan apa-apa. Ia justru sedang melakukan sesuatu. Ia bergerak, membawa pasukan, dan menyerang Qarqisiya.

Tetapi tidak semua kesibukan adalah keberhasilan.

Tidak setiap gerakan adalah kemajuan.

Tidak setiap keberanian merupakan keputusan yang benar.

Seseorang dapat terlihat sangat aktif, tetapi sesungguhnya sedang meninggalkan kewajiban utamanya. Ia mengerjakan sesuatu yang tampak besar sambil mengabaikan sesuatu yang benar-benar menjadi tanggung jawabnya.

Inilah pelajaran pemerintahan yang sangat tajam:

Kesalahan bukan hanya melakukan sesuatu yang buruk. Kesalahan juga dapat terjadi ketika seseorang melakukan sesuatu yang dianggap baik, tetapi bukan itu yang sedang ditugaskan kepadanya.

Kumayl ingin menghantam musuh di tempat lain, tetapi wilayah yang dipercayakan kepadanya justru kehilangan penjagaan.

Imam Ali melanjutkan:

“Gerakanmu menyerang penduduk Qarqisiya dan tindakanmu membiarkan pos-pos pertahanan yang telah kami serahkan kepadamu tanpa seseorang yang melindungi dan menghalau pasukan musuh adalah pemikiran yang kacau.”

Tidak ada kalimat yang dilunakkan karena Kumayl adalah sahabat dekat.

Ali tidak berkata, “Niatmu sebenarnya baik.”

Beliau tidak menutupinya dengan pujian terhadap kesalehan Kumayl. Tidak pula beliau membiarkan kesalahan pemerintahan berubah menjadi persoalan pribadi yang diselesaikan diam-diam tanpa pertanggungjawaban.

Ali menyebut keputusan itu apa adanya:

Pemikiran yang kacau.

Sebab nyawa dan keamanan rakyat tidak boleh dikorbankan demi menjaga perasaan seorang pejabat—bahkan jika pejabat itu adalah seorang sahabat yang saleh.

Engkau Menjadi Jembatan bagi Musuh

Kemudian tibalah kalimat yang paling keras:

“Engkau telah menjadi jembatan bagi musuh-musuhmu untuk menyerang para sahabatmu.”

Bayangkan beratnya kalimat itu bagi Kumayl.

Ia tidak pernah bermaksud membantu musuh. Ia adalah pencinta Ali. Ia bersedia mengorbankan hidupnya untuk Imamnya. Namun, keputusan yang salah telah membuat wilayahnya menjadi jalan yang dapat dilalui musuh.

Di sinilah Imam Ali membedakan antara kesetiaan pribadi dan kemampuan memegang amanah.

Seseorang bisa sangat mencintai pemimpinnya, tetapi mengambil keputusan yang membahayakan pemerintahannya.

Seseorang bisa mempunyai niat yang suci, tetapi menghasilkan akibat yang buruk.

Seseorang bisa rajin berdoa, berani menghadapi musuh, dan tulus dalam perjuangan, tetapi tetap harus dikoreksi apabila keliru menjalankan tugas.

Cinta bukan pengganti kecakapan.

Kesalehan bukan pengganti ketelitian.

Keberanian bukan pengganti strategi.

Dan niat baik tidak dengan sendirinya menghapus akibat buruk dari sebuah kelalaian.

Imam Ali mengatakan bahwa Kumayl tidak memperlihatkan kekuatan yang dapat menggentarkan lawan. Ia tidak menutup celah pertahanan, tidak mematahkan kekuatan musuh, tidak melindungi penduduk wilayahnya, dan tidak menjalankan kewajiban yang seharusnya ia tunaikan atas nama pemimpinnya.

Kata-kata itu terdengar tajam karena amanah pemerintahan memang bukan permainan.

Ketika seorang rakyat biasa melakukan kesalahan, akibatnya mungkin hanya mengenai dirinya dan beberapa orang di sekitarnya. Namun, ketika seorang pejabat melakukan kesalahan, sebuah kota dapat kehilangan perlindungan. Rumah-rumah dapat diserang. Keluarga-keluarga dapat kehilangan rasa aman.

Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin luas pula jangkauan akibat kesalahannya.

Karena itulah Imam Ali tidak mengukur kelayakan pejabat hanya dari ibadah pribadinya. Seorang pejabat harus mampu membaca ancaman, memahami wilayah tugas, menjaga kepentingan rakyat, dan menempatkan tenaga pada tempat yang benar.

Tasbih tidak dapat menggantikan strategi.

Air mata dalam doa tidak dapat menggantikan kewajiban menjaga perbatasan.

Kesetiaan kepada Imam harus dibuktikan dengan kemampuan menjalankan amanah Imam.

Ali yang Dicintai Kumayl

Inilah keindahan hubungan Ali dan Kumayl.

Kumayl tidak hanya menerima doa dari Ali. Ia juga menerima teguran.

Jika kita hanya mengenal kisah ketika Ali mengajarkan doa kepadanya, kita baru mengenal separuh hubungan itu. Seorang Imam bukan hanya orang yang membuat muridnya menangis dalam munajat. Imam juga orang yang berani membuat muridnya berhadapan dengan kesalahannya sendiri.

Ali mengasihi Kumayl, tetapi tidak memanjakannya.

Ali mempercayainya, tetapi tidak membiarkannya merasa kebal dari evaluasi.

Ali mengetahui kesalehannya, tetapi tidak menggunakan kesalehan itu sebagai alasan untuk menutupi kekeliruan pemerintahannya.

Kasih sayang yang tidak berani menegur bukan selalu kasih sayang. Kadang-kadang ia hanyalah kelemahan yang membiarkan orang yang kita cintai terus berjalan menuju kesalahan.

Sebaliknya, teguran yang lahir dari amanah dapat menjadi bentuk cinta yang paling jujur.

Imam Ali tidak sedang menghancurkan Kumayl. Beliau sedang mendidiknya agar memahami perbedaan antara semangat dan ketepatan, antara keberanian dan kebijaksanaan, antara melakukan banyak hal dan menunaikan hal yang benar.

Kumayl tetap menjadi sahabat mulia.

Kesalahannya tidak menghapus seluruh keutamaannya. Namun, keutamaannya juga tidak boleh digunakan untuk menghapus kesalahannya.

Inilah keadilan.

Keadilan tidak menjadikan satu kesalahan sebagai alasan untuk membuang seluruh kebaikan seseorang. Namun, keadilan juga tidak menjadikan seribu kebaikan sebagai alasan untuk menyembunyikan satu kesalahan yang merugikan rakyat.

Pemerintahan yang Tidak Mengenal Orang Dalam

Surat kepada Kumayl ini menghancurkan satu penyakit tua dalam kekuasaan: anggapan bahwa orang dekat harus selalu dilindungi.

Dalam banyak pemerintahan, hukum menjadi sangat keras kepada orang jauh dan mendadak lunak kepada orang dekat. Kesalahan lawan diumumkan. Kesalahan kawan disembunyikan. Ketidakmampuan orang lain disebut pengkhianatan, sedangkan ketidakmampuan kelompok sendiri disebut kekeliruan kecil.

Tidak demikian dengan Ali.

Orang dekat tetap dapat ditegur.

Sahabat tetap dapat diperiksa.

Pencinta Ahlul Bait tetap harus mempertanggungjawabkan amanahnya.

Sebab jabatan dalam pemerintahan Ali bukan hadiah atas kesetiaan. Jabatan adalah beban untuk melindungi manusia.

Kumayl mungkin memiliki kedudukan spiritual yang tidak dimiliki banyak orang. Tetapi ketika ia duduk sebagai gubernur, rakyat tidak hanya membutuhkan kedalaman munajatnya. Mereka membutuhkan keamanan, ketepatan keputusan, dan kesiapan pasukan yang dipimpinnya.

Rakyat tidak boleh menjadi korban karena seorang pejabat merasa dirinya telah cukup berjasa.

Mengapa Tidak Mengikuti Ali?

Banyak orang mengaku mencintai Imam Ali, tetapi tidak semua bersedia menerima ukuran kepemimpinannya.

Kita senang membaca Doa Kumayl. Kita menangis ketika sampai pada pengakuan tentang dosa dan kelemahan. Kita mengangkat tangan memohon ampunan Allah.

Namun, sanggupkah kita menerima surat Ali kepada Kumayl?

Sanggupkah kita mengakui bahwa orang saleh dapat melakukan kesalahan?

Sanggupkah kita menegur orang yang berada dalam kelompok sendiri?

Sanggupkah kita mendahulukan keselamatan rakyat daripada perasaan sahabat?

Mengikuti Ali bukan hanya menangis bersama Kumayl pada malam Jumat. Mengikuti Ali juga berarti bersedia diperiksa seperti Kumayl ketika amanah tidak dilaksanakan dengan benar.

Ali mengajarkan doa kepada Kumayl agar jiwanya tidak dikuasai kesombongan.

Ali mengirimkan teguran kepada Kumayl agar kekuasaannya tidak dikuasai kelalaian.

Yang pertama menjaga hubungan manusia dengan Allah.

Yang kedua menjaga hak manusia di hadapan kekuasaan.

Keduanya berasal dari Imam yang sama.

Karena agama tidak hanya berbicara tentang air mata di tengah malam. Agama juga berbicara tentang sebuah kota yang harus dijaga, rakyat yang harus dilindungi, dan seorang pejabat yang wajib mempertanggungjawabkan setiap keputusan.

Kumayl adalah sahabat Ali.

Namun, rakyat adalah amanah Allah.

Dan di hadapan amanah Allah, kedekatan tidak pernah menjadi kekebalan.

—

Rujukan utama:

Nahjul Balaghah, Surat 61, surat Imam Ali a.s. kepada Kumayl bin Ziyad an-Nakha‘i ketika menjadi penguasa Hīt. “Teks Surat 61” Nahjul Balaghah.

Wilayah yang

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1EwPVFy5Z6/

 

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us