Bagian 23 dari 100
Teks Doa Kumail
> أَنْ تُسَامِحَنِي وَتَرْحَمَنِي
An tusāmiḥanī wa tarḥamanī.
“Agar Engkau memaafkanku dengan kemurahan dan merahmatiku.”
Tema utama
Seorang hamba tidak hanya memohon agar hukumannya dihapus, tetapi agar Allah memperlakukannya dengan kemurahan dan mengembalikan kehidupannya ke dalam pemeliharaan rahmat-Nya.
Kata tusāmiḥanī dalam penggalan ini bukan “toleransi” dalam pengertian modern. Ia merupakan permohonan agar Allah berlapang dalam memperlakukan kekurangan hamba, melewati kesalahannya, dan tidak membalasnya semata-mata menurut apa yang layak diterimanya.
Sementara itu, tarḥamanī melangkah lebih jauh. Pengampunan menghapus beban dosa; rahmat menuntun manusia sesudah diampuni.
Kita tidak hanya membutuhkan masa lalu yang dibersihkan, tetapi juga hati, kekuatan, dan jalan baru agar tidak kembali jatuh.
Ayat Al-Qur’an
- QS Al-An‘am 6:54
> كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۖ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Tuhanmu telah menetapkan rahmat atas diri-Nya. Barang siapa di antara kalian melakukan keburukan karena ketidaktahuan, kemudian setelah itu bertobat dan memperbaiki diri, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Ayat ini menyatukan tiga hal: pertobatan, perbaikan, dan rahmat. Pengampunan tidak dimaksudkan untuk mengembalikan manusia ke dalam kebiasaan lamanya, tetapi untuk membuka kesempatan hidup yang telah diperbaiki. QS Al-An‘am 6:54
- QS Asy-Syura 42:25
> وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ
“Dialah yang menerima pertobatan hamba-hamba-Nya, memaafkan keburukan-keburukan, dan mengetahui apa yang kalian kerjakan.”
Allah mengampuni bukan karena Dia tidak mengetahui dosa manusia. Dia mengetahui seluruhnya, tetapi tetap menyediakan jalan untuk kembali. QS Asy-Syura 42:25
- QS An-Nisa 4:110
> وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا
“Barang siapa mengerjakan keburukan atau menzalimi dirinya sendiri, kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Al-Qur’an tidak sekadar mengatakan bahwa Allah memiliki pengampunan. Orang yang sungguh-sungguh kembali akan “mendapati” Allah sebagai Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. QS An-Nisa 4:110
Doa Ahlul Bait
Dalam doa memohon pembebasan dari dosa yang dinisbatkan kepada Imam Ali Zainal Abidin as disebutkan:
> أَنْتَ الَّذِي وَصَفْتَ نَفْسَكَ بِالرَّحْمَةِ، فَصَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَارْحَمْنِي، وَأَنْتَ الَّذِي سَمَّيْتَ نَفْسَكَ بِالْعَفْوِ، فَاعْفُ عَنِّي
“Engkaulah yang menyifati diri-Mu dengan rahmat; maka limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarganya, serta rahmatilah aku. Engkaulah yang menamai diri-Mu dengan Yang Maha Pemaaf; maka maafkanlah aku.”
Teks tersebut terdapat dalam Doa ke-16 ash-Sahifah as-Sajjadiyyah.
Catatan verifikasi:
Doa ini termasuk dalam korpus inti ash-Sahifah as-Sajjadiyyah yang secara masyhur dinisbatkan kepada Imam Zainal Abidin as.
Kerangka pembahasan
- Makna musāmaḥah sebagai pengampunan yang lahir dari kemurahan.
- Allah mengetahui dosa, tetapi tetap menerima pertobatan.
- Pengampunan membersihkan masa lalu; rahmat membimbing masa depan.
- Memohon kemurahan bukan berarti meremehkan keadilan Allah.
- Tobat harus disertai perbaikan dan pemulihan hak manusia.
- Hamba berharap bukan karena merasa layak, melainkan karena mengenal kemurahan Tuhannya.
Pembuka syarah
Ada perbedaan antara dibebaskan dari hukuman dan dipulihkan setelah melakukan kesalahan.
Seseorang dapat dimaafkan, tetapi masih membawa hati yang sama, kebiasaan yang sama, dan kelemahan yang dahulu menjatuhkannya. Catatan masa lalunya mungkin telah dibersihkan, tetapi jika tidak memperoleh bimbingan baru, ia dapat kembali menulis kesalahan yang sama.
Karena itu, Doa Kumail tidak berhenti pada permohonan pengampunan:
> “Agar Engkau memaafkanku dengan kemurahan dan merahmatiku.”
Kita memerlukan keduanya.
Kita membutuhkan pengampunan karena masa lalu tidak dapat kita ulang. Ada kata yang telah telanjur diucapkan, kewajiban yang ditelantarkan, kesempatan yang disia-siakan, dan hati yang pernah dilukai.
Namun kita juga membutuhkan rahmat, sebab masa depan belum tentu dapat kita jalani dengan kekuatan sendiri.
Tanpa pertolongan Allah, orang yang menyesal hari ini dapat mengulangi kesalahannya esok hari.
Rahmat bukan sekadar penghapusan hukuman. Rahmat adalah tangan yang menuntun seorang pendosa keluar dari tempat ia terjatuh.
Ia hadir sebagai keberanian untuk meminta maaf, kekuatan untuk mengembalikan hak, kejernihan untuk menjauhi lingkungan dosa, serta keteguhan untuk tidak kembali kepada kebiasaan yang telah menghancurkan jiwa.
Seorang hamba tidak berkata, “Ya Allah, ampunilah aku karena dosaku tidak begitu besar.” Ia justru mengakui keburukan dosanya, lalu bersandar kepada sesuatu yang jauh lebih besar: kemurahan Allah.
Pengampunan-Nya tidak menunjukkan bahwa dosa itu kecil.
Pengampunan menunjukkan bahwa rahmat-Nya Mahabesar.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1GXxyFTJKE/

