17 October 2026

Yaman bukan tanah yang mudah ditundukkan.

Gunung-gunungnya berdiri seperti benteng raksasa. Lembah-lembahnya panjang dan berliku. Kabilah-kabilahnya hidup dengan kehormatan yang telah mereka jaga selama ratusan tahun.

Di antara kabilah terbesar itu terdapat Bani Hamdan.

Mereka bukan kaum yang akan mengikuti seorang pendatang hanya karena melihat banyaknya pasukan.

Mereka mengenal keberanian.

Mereka memiliki pemimpin, penyair, pendekar, dan kebanggaan terhadap leluhur mereka.

Rasulullah SAW menginginkan cahaya Islam sampai kepada mereka.

Maka dikirimlah Khalid bin Walid bersama sejumlah kaum Muslim. Al-Bara’ bin ‘Azib termasuk di dalam pasukan itu.

Mereka datang membawa ajakan kepada Islam.

Hari berganti minggu.

Minggu berganti bulan.

Enam bulan berlalu.

Namun menurut riwayat yang dinukil al-Bara’, tidak seorang pun dari Hamdan menyambut seruan itu.

Gunung-gunung Yaman tetap membisu.

Hati Hamdan tetap tertutup.

Berita itu sampai kepada Rasulullah di Madinah.

Beliau tidak menginginkan perang berkepanjangan. Beliau tidak ingin Yaman ditaklukkan dengan tumpukan mayat. Islam tidak datang sekadar untuk merampas wilayah, tetapi untuk menghidupkan manusia.

Kemudian Rasulullah memanggil seseorang.

Lelaki yang dahulu tidur di tempat tidurnya ketika para pembunuh mengepung rumah.

Lelaki yang berdiri ketika kaum Muslim tercerai-berai di Uhud.

Lelaki yang melompati parit untuk menghadapi ‘Amr bin Abdi Wudd.

Lelaki yang mengangkat pintu Khaibar.

Namun kali ini Rasulullah tidak mengutusnya untuk berduel.

Tidak ada Marhab yang harus dirobohkan.

Tidak ada benteng yang harus dijebol.

Musuh yang harus ditaklukkan kali ini tidak berada di balik pintu besi.

Ia berada di dalam dada manusia.

Rasulullah memanggil: Ali bin Abi Thalib.

Ali diperintahkan menuju Yaman. Khalid dan pasukannya diminta kembali. Siapa yang ingin tetap bersama Ali diperbolehkan tinggal.

Al-Bara’ bin ‘Azib memilih mengikuti Ali.

Pasukan bergerak melewati gurun.

Mereka mendaki lereng-lereng berbatu.

Mereka menembus jalur panjang menuju wilayah Hamdan.

Berita kedatangan Ali segera menyebar.

Orang-orang Hamdan mulai berkumpul.

Mungkin mereka menduga akan datang seorang jenderal dengan pasukan yang lebih besar.

Mungkin mereka menunggu ancaman.

Mungkin mereka mengira akan mendengar kesombongan seorang penakluk.

Tetapi ketika fajar tiba, yang mereka saksikan bukan pedang yang terhunus.

Mereka menyaksikan Ali berdiri menghadap Allah.

Ali memimpin salat Subuh bersama pasukannya.

Langit Yaman perlahan berubah dari hitam menjadi biru.

Cahaya pagi muncul dari balik pegunungan.

Setelah menyelesaikan salat, Ali merapikan barisan kaum Muslim. Lalu ia maju seorang diri menghadap orang-orang Hamdan.

Tidak ada teriakan perang.

Tidak ada ancaman pembakaran rumah.

Tidak ada pasukan berkuda yang menyerbu.

Ali memulai dengan memuji dan mengagungkan Allah.

Kemudian ia membuka surat Rasulullah.

Suasana menjadi hening.

Orang-orang Hamdan mendengarkan.

Ali membacakan pesan Muhammad kepada mereka.

Namun tentu bukan hanya surat yang berbicara.

Manusia yang membacakannya juga merupakan pesan.

Di hadapan mereka berdiri seseorang yang kehidupannya tidak terpisahkan dari Rasulullah.

Mereka melihat keberanian tanpa kesombongan.

Kekuatan tanpa ancaman.

Ketegasan tanpa penghinaan.

Ali tidak memaksa mereka untuk tunduk kepada dirinya.

Ia mengajak mereka tunduk hanya kepada Allah.

Kata-katanya memasuki ruang yang selama enam bulan tidak dapat ditembus.

Tidak ada pedang yang bergerak.

Tidak ada darah yang tumpah.

Namun sebuah benteng yang jauh lebih keras daripada Khaibar mulai runtuh:

benteng di dalam hati manusia.

Satu orang menerima Islam.

Kemudian yang lain.

Para pemimpin mereka menyambut seruan itu.

Keluarga-keluarga mengikuti.

Lalu sesuatu yang tidak terjadi selama berbulan-bulan, terjadi hanya dalam satu hari:

seluruh Bani Hamdan menerima Islam.

Tidak diperlukan pengepungan.

Tidak diperlukan pertempuran.

Tidak ada pintu yang dibakar.

Tidak ada kepala yang dipenggal.

Ali datang pada waktu fajar…

Dan sebelum hari itu berakhir, sebuah kabilah besar telah mengucapkan syahadat.

Ali segera menulis surat kepada Rasulullah.

Surat itu dibawa melintasi gurun dan pegunungan menuju Madinah.

Bayangkan saat utusan itu tiba.

Debu perjalanan memenuhi pakaiannya.

Napasnya masih berat.

Surat dari Ali diserahkan kepada Rasulullah.

Beliau membukanya.

Di dalamnya tidak terdapat laporan tentang banyaknya musuh yang dibunuh.

Tidak ada daftar harta rampasan.

Tidak ada kabar mengenai rumah-rumah yang dihancurkan.

Hanya sebuah berita:

Hamdan telah menerima Islam.

Rasulullah membaca surat itu.

Wajah beliau dipenuhi kegembiraan.

Kemudian Nabi terakhir itu turun bersujud kepada Allah.

Kening Rasulullah menyentuh bumi.

Beliau bersujud bukan karena sebuah negeri telah dirampas.

Beliau bersujud karena manusia-manusia telah menemukan jalan pulang kepada Tuhan.

Setelah mengangkat kepala dari sujudnya, Rasulullah berkata:

“Salam atas Hamdan.

Salam atas Hamdan.”

Betapa agung kalimat itu.

Hamdan yang sebelumnya jauh dari Madinah kini menerima salam dari Rasulullah.

Gunung-gunung Yaman seakan menjawabnya.

Dan setelah Hamdan menerima Islam, kabilah-kabilah Yaman lainnya mulai datang berbondong-bondong.

Pintu Yaman telah terbuka.

Namun kuncinya bukan besi.

Kuncinya adalah Ali.

Di Khaibar, Rasulullah memberikan panji kepada Ali karena hanya tangannya yang mampu membuka benteng.

Di Yaman, Rasulullah mengutus Ali karena hanya melalui dirinya hati-hati itu dapat terbuka.

Ali memiliki pedang yang ditakuti seluruh jazirah.

Namun kemenangan terbesar hari itu justru terjadi ketika pedangnya tetap berada di dalam sarung.

Sebab tidak semua penaklukan memerlukan darah.

Ada manusia yang hanya dapat dikalahkan oleh keberanian.

Ada manusia yang hanya dapat ditundukkan oleh kebenaran.

Dan ada hati-hati yang menunggu seseorang yang tidak sekadar pandai berbicara tentang Islam, tetapi telah menjadikan seluruh hidupnya sebagai bukti Islam.

Orang-orang Hamdan tidak hanya mendengar surat Muhammad.

Mereka melihat Muhammad di dalam akhlak Ali.

Itulah mengapa Rasulullah mempercayakan tugas itu kepadanya.

Ali bukan sekadar pembawa surat.

Ia adalah penjelasan hidup dari surat tersebut.

Hari itu tidak terdengar dentang pedang.

Tidak ada jeritan peperangan.

Tidak ada debu pasukan yang menyerbu.

Namun Madinah berguncang oleh berita kemenangan.

Rasulullah bersujud.

Malaikat mencatat satu kabilah besar kembali kepada Allah.

Dan sejarah mengabadikan sebuah pelajaran:

Kekuatan Ali bukan hanya mampu menjatuhkan manusia dalam peperangan.

Kekuatan Ali juga mampu membuat manusia berdiri dan mengucapkan syahadat.

Khaibar memperlihatkan apa yang terjadi ketika tangan Ali menyentuh sebuah pintu.

Hamdan memperlihatkan apa yang terjadi ketika kata-kata Ali menyentuh sebuah hati.

Di Khaibar, Ali membuka benteng dalam satu hari.

Di Yaman, ia membuka sebuah bangsa dalam satu pagi.

Ada kemenangan yang membuat musuh tersungkur di tanah.

Namun kemenangan Ali di Hamdan membuat Rasulullah yang bersujud—bersyukur kepada Allah.

Hamdan ketika

⸻

Catatan sejarah:

Riwayat pengutusan Khalid selama enam bulan, kedatangan Imam Ali, masuk Islamnya seluruh Hamdan dalam satu hari, serta sujud syukur Rasulullah dinukil dari al-Bara’ bin ‘Azib dalam Tārīkh al-Ṭabarī, jilid 9, hlm. 90.
Kisah ini juga dibawakan Syekh al-Mufid dalam al-Irsyād dan dapat dibaca dalam kajian The Conversion of Yemen to Islam.
Detail tahun pengutusan berbeda dalam sejumlah karya sirah, tetapi inti kisah tentang peran Imam Ali dan masuk Islamnya Hamdan dikenal dalam khazanah sejarah Islam.

 

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/14raDU7mT1M/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us