Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Kajian sejarah ringkas ini membahas tentang Imam Ali bin Abi Thalib as, imam pertama dari kesucian Ahlul Bait, yang disifati dengan kemuliaan dan akhlak Ilahi sebagai pembimbing serta teladan bagi umat manusia menuju Allah SWT.
Beliau adalah putra dari Abu Thalib, pemimpin Quraisy pada zamannya, dan Fathimah bintu Asad, seorang wanita mukminah yang sangat mulia.
1. Kelahiran yang Mukjizat dan Istimewa di Dalam Ka’bah
- Satu-satunya Wali Dul Ka’bah:
Imam Ali as lahir pada hari Jumat, 13 Rajab, tepat 30 tahun setelah kelahiran Rasulullah SAW. Beliau mendapatkan gelar istimewa sebagai Wali Dul Ka’bah karena merupakan satu-satunya manusia yang dilahirkan di dalam Ka’bah, baik sebelum maupun setelah masa hidup beliau.
Para ahli sejarah sepakat bahwa riwayat mutawatir ini adalah sebuah kepastian sejarah. - Kronologi Kejadian Luar Biasa:
Menjelang kelahirannya, ibunda beliau berdoa di sekitar Ka’bah agar persalinannya dimudahkan. Seketika, dinding Ka’bah terbelah (mereka) sehingga fathimah bintu Asad masuk ke dalamnya, dan tembok tersebut merapat kembali.
Upaya Abu Thalib untuk membuka pintu Ka’bah sia-sia, hingga ia meyakini bahwa ini merupakan kehendak khusus Allah SWT.
Pada hari keempat, sang ibu keluar dari dinding yang terbelah sambil menggendong bayi mulia tersebut. - Hubungan Simbolis Ali dan Ka’bah:
Kelahiran ini mengisyaratkan hubungan erat antara Ali dan Ka’bah.
Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda bahwa memandang Ka’bah adalah ibadah, beliau juga bersabda bahwa memandang wajah Ali adalah ibadah.
Jika Ka’bah merupakan kiblat fisik peribadatan dan poros pemersatu kaum muslimin, maka wilayah (kepemimpinan) Ali as adalah kiblat penghambaan spiritual kepada Allah SWT serta poros pemersatu umat di bawah keridhaan-Nya.
2. Lima Gelar Agung dari Rasulullah SAW
Rasulullah SAW menyematkan berbagai gelar agung kepada Imam Ali as untuk menunjukkan posisi sentral dan kunci beliau dalam Islam serta keimanan:
- As-Siddiq (Siddiqul Akbar):
Bermakna pribadi yang sangat jujur dalam perkataan, tindakan, pikiran, maupun keyakinan tanpa ada kontradiksi sedikit pun.
Rasulullah SAW bersabda bahwa orang jujur (Siddiq) itu ada tiga:
Habib bin Murry an-Najjar (Mu’min Surat Yasin), Hizqil/Heskiel (Mu’min dari keluarga Firaun yang membela Nabi Musa), dan Ali bin Abi Thalib yang merupakan sosok paling mulia di antara ketiganya. - Al-Washi:
Pengemban wasiat Rasulullah yang bertugas menerima estafet kepemimpinan umat sepeninggal beliau.
Rasulullah SAW bersabda bahwa Ali adalah pemegang rahasia terbaik nabi, sosok yang akan melaksanakan janji-janji nabi, serta yang akan melunasi hutang-hutang beliau. - Al-Faruq:
Pemilah antara kebenaran (hak) dan kebatilan, serta antara keimanan dan kemunafikan/kekafiran.
Sahabat Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi meriwayatkan bahwa Rasulullah memegang tangan Ali dan memperkenalkan beliau sebagai orang pertama yang beriman, orang pertama yang akan menjabat tangan Nabi di hari kiamat, Siddiqul Akbar, serta Al-Faruq bagi umat ini. - Ya’subud-Din:
Pemimpin atau “Ratu/Raja Lebah” bagi agama.
Rasulullah SAW menunjuk Ali dan menyebutnya sebagai Ya’subul Mukminin (pemimpin kaum mukminin), tempat di mana seluruh orang yang memiliki keimanan akan berkumpul dan bermuara. - Amirul Mukminin:
Gelar kepemimpinan tertinggi yang disabdakan langsung oleh Rasulullah SAW atas petunjuk Ilahi, bukan hasil rekayasa manusia.
Anas bin Malik mengisahkan ketika ia melayani wudhu Nabi, Rasulullah bersabda bahwa orang yang masuk berikutnya adalah Amirul Mukminin, Sayyidul Muslimin (pemimpin kaum muslimin), Qaidul Ghurril Muhajjalin (pemimpin orang-orang saleh bercahaya di hari kiamat), dan Khatamul Wasiyin (penutup para penerima wasiat).
Orang yang masuk tersebut ternyata adalah Ali bin Abi Thalib.
3. Kedekatan Khusus dan Tanggung Jawab dari Nabi
Nabi menyambut kehadiran Imam Ali dengan penuh suka cita, memeluknya, dan saling mengusap keringat di wajah masing-masing.
Ketika ditanya oleh Imam Ali as mengenai perlakuan istimewa tersebut, Rasulullah SAW menjelaskan kedudukan penting beliau sepeninggal Nabi, yaitu:
- Menyampaikan pesan-pesan Allah dari Rasulullah.
- Memperengarkan suara Rasulullah kepada umat.
- Menjelaskan dan memutuskan apa yang diperselisihkan umat setelah Rasulullah wafat.
Gelar-gelar keagungan ini memberikan konsekuensi bagi seluruh kaum muslimin untuk selalu memposisikan Imam Ali as sesuai dengan kedudukan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.
Kajian berikutnya direncanakan untuk membahas masa kecil Imam Ali yang tumbuh berkembang di bawah asuhan langsung Rasulullah SAW.

Bersama Ustadz Ali Umar Al Habsyi
Judul video: Sejarah Imam Ali bin Abi Thalib as (01) – Watch on Youtube
Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:


