Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Dalam QS. 9: 101
- Di antara orang-orang Arab Badui yang (tinggal) di sekitarmu ada orang-orang munafik. (Demikian pula) di antara penduduk Madinah (ada juga orang-orang munafik), mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Engkau (Nabi Muhammad) tidak mengetahui mereka, tetapi Kami mengetahuinya. Mereka akan Kami siksa dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.
Ada kelompok yang menafsirkan ayat tersebut bahwa Rasulullah saw tidak mengetahui apapun yang ada dalam hati orang-orang munafik, namun sayangnya kelompok yang berkeyakinan seperti itu, tidak merujuk pada ayat yang lain, yaitu ayat yang terdapat dalam Qs. 72: 26-27:
- Dia mengetahui yang gaib. Lalu, Dia tidak memperlihatkan yang gaib itu kepada siapa pun,
kecuali kepada rasul yang diridai-Nya. Sesungguhnya Dia menempatkan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya.
Sekarang mari kita lihat tafsir dari QS. 9 ayat 101 dalam Kitab Jamiul Bayan/Tafsir Thabari karya imam Thabari ulama ahlu Sunnah bermadzhab Syafi’i, jilid 6 hal 214, terbitan Darul Fikr, tahun 2005 M.
Thabari berkata: “Dan paling utamanya perkataan dalam menta’wilkan (ayat) tersebut, yang benar menurut pendapatku adalah (seperti) yang dikatakan Ibn Mas’ud: sesungguhnya Allah telah memerintahkan Nabinya berupa jihad menghadapi munafiqin dengan cara yang telah diperintahkan Allah kepada beliau sama dengan jihad menghadapi musyrikin.
Kalau ada yang berkata: “bagaimana mungkin Nabi saw membiarkan orang-orang munafik tetap berada ditengah-tengah para sahabatnya, sementara beliau mengetahui mereka?
Katakan kepadanya: “sesungguhnya Allah swt hanya memerintahkan untuk memerangi orang yang MENAMPAKKAN kekafiran dari mereka, dan terus tetap dalam kekafirannya seperti itu.
Adapun ketika Nampak jelas dari mereka dengan mengatakan kalimat kekafiran dan dikenakan sanksi karenanya, kemudian dia mengingkarinya dan kembali seraya mengatakan: aku muslim karena hukum Allah untuk setiap orang yang menampakkan islam dengan lisannya, sehingga dengan itu dilindungi darah dan hartanya walaupun keyakinannya tidak seperti itu” Allah lebih mengetahui rahasia mereka dan tidak menjadikan makhluk untuk mencari sesuatu yang tersembunyi (dalam hati).
Oleh karena itu, Nabi pun DENGAN PENGETAHUANNYA terhadap mereka (munafikin) dan pengawasan Allah kepada beliau saw, atas hati dan keyakinan yang tersembunyi dalam hati mereka, maka Nabi menetapkan mereka ditengah-tengah para sahabat dan tidak menjalankan untuk berjihad melawan mereka, berbeda dengan orang yang menyatakan perang kepada beliau saw atas kemusyrikan kepada Allah.
Kesimpulan:
Dengan demikian jelas gugurlah pemahaman kelompok yang mengatakan Nabi saw tidak mengetahui hal ghaib khususnya yaitu kemunafikan orang-orang madinah saat itu dan mengetahui isi hati mereka.
Namun pengetahuannya Nabi saw tentang isi hati mereka yang munafik tidak mengharuskan beliau menetapkan hukum atau sanksi kepada mereka, karena yang diperintahkan Allah kepada beliau saw adalah menghukumi dan memberi sangsi sesuai dengan apa yang tampak pada sisi luar mereka yaitu sebagai muslim atau menampakkan kekafiran mereka.
Penjelasan ini sesuai dalam Kitab Jamiul Bayan
Judul video: Rasulullah saw. Hanya Menghukum Secara Zhahir – Watch on Youtube
Yuk Subscribe Dalil-dalil Channel:
